Evaluasi Gladi Tangguh HW Mufourta Tahun 2026

SMP Muhammadiyah 4 Yogyakarta mengadakan kegiatan Evaluasi Gladi Tangguh Hizbul Wathon (HW) yang diikuti oleh seluruh siswa kelas IX. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 07 September 2026 di Youth Centre Yogyakarta, Kecamatan Mlati, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Kepanduan Hizbul Wathon (HW) merupakan salah satu kegiatan ekstrakurikuler wajib di SMP Muhammadiyah 4 Yogyakarta. Tujuan utama dari kegiatan ini adalah membentuk karakter yang kuat dan bertanggung jawab. Selain itu, HW juga membekali siswa dengan nilai-nilai ketakwaan, cinta tanah air, dan kemandirian.

Kegiatan Evaluasi Gladi Tangguh Hizbul Wathon (HW) dimulai pada pukul 07:45 pagi di mana para peserta mengikuti apel pemberangkatan. Setelah itu para peserta dan pembimbing menuju ke lokasi bumi perkemahan menggunakan bis. Pada kegiatan ini, ada beberapa tahapan ujian yang perlu dilaksanakan peserta yaitu Kaki Tiga, Sambung Tongkat, Bangun Tenda, dan Dragbar. Selain praktek, siswa-siswa juga melaksanakan ujian tertulis. Setelah seluruh rangkaian ujian selesai, para peserta melaksanakan makan bersama, bersih-bersih, shalat Maghrib berjamaah, kemudian penutupan.

Kegiatan Evaluasi Gladi Tangguh Hizbul Wathon (HW) ini memiliki banyak tujuan dan manfaat, yaitu mengembangkan ketahanan fisik dan mental melalui berbagai aktivitas kepanduan, menumbuhkan rasa tanggung jawab, serta membentuk karakter islami yang taat kepada Allah SWT. dan berakhlak mulia.

MILAD MUFOURTA HEBAT

MILAD MUFOURTA HEBAT

Suasana penuh semangat mewarnai kegiatan senam dan pentas seni dalam rangka Milad SMP Muhammadiyah 4 Yogyakarta yang ke-71. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 04 Agustus 2026. Milad menjadi salah satu momen kebersamaan sekaligus kebahagiaan seluruh warga sekolah tercinta.

Kegiatan ini dibuka dengan shalat dhuha berjamaah. Setelah itu, rangkaian kegiatan Milad dimulai, diawali dengan pembukaan, sambutan bapak kepala sekolah, potong tumpeng, pentas seni, kemudian diakhiri dengan makan bersama sebelum melaksanakan shalat Dzuhur berjamaah.

Pentas seni kegiatan Milad kali ini diisi oleh siswa-siswi SMP Muhammadiyah 4 Yogyakarta berupa tapak suci, tari kelompok, tari individu, dan band. Di sela-sela acara, ada pembagian doorprize untuk siswa-siswi yang bisa menjawab pertanyaan dengan tepat. Siswa-siswi sangat antusias dalam memperebutkan doorprize.

Peringatan Milad ke-71 SMP Muhammadiyah 4 menjadi wujud nyata dari komitmen dan keteguhan sekolah dalam mengabdikan diri pada dunia pendidikan. Selamat Milad ke-71, SMP Muhammadiyah 4 Yogyakarta! Semoga semakin maju, terus berprestasi, dan menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk tumbuh sebagai insan yang unggul, berakhlak mulia, dan berkarakter.

MPLS Mufourta Tahun Ajaran 2026/2027

MPLS Mufourta Tahun Ajaran 2026/2027

Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) adalah kegiatan yang dilakukan oleh sekolah di awal tahun ajaran baru. Kegiatan ini bertujuan untuk mengenalkan lingkungan sekolah kepada siswa baru serta memberi informasi mengenai aturan-aturan yang berlaku di sekolah.

SMP Muhammadiyah 4 Yogyakarta mengadakan kegiatan MPLS untuk peserta didik baru kelas VII pada tanggal 13 Juli hingga 17 Juli 2026. Agar kegiatan ini bermanfaat, pihak sekolah mengundang beberapa narasumber luar biasa, diantaranya BNN Yogyakarta yang memberi materi ‘Pelajar Anti Narkoba’, POLRESTA Yogyakarta dengan materi ‘Kenakalan Remaja, Bullying, dan Judi Online,’ serta dari Puskesmas yang menyampaikan edukasi mengenai kesehatan remaja.

Anggota Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) pun turut aktif memeriahkan acara ini. Mereka memimpin Ice Breaking dan menjadi MC. Anggota IPM juga mendampingi adik-adik kelas VII mengerjakan tugas dengan sabar. Keterlibatan anggota IPM membuat kegiatan MPLS menjadi lebih menyenangkan.

Pada kegiatan MPLS ini, peserta didik juga dikenalkan pada ekstrakulikuler yang ada di SMP Muhammadiyah 4 Yogyakarta, diantaranya Karawitan, Band, Tari, dan Tapak Suci. Dengan rangkaian kegiatan ini, diharapkan siswa dapat beradaptasi dengan baik dan nyaman di lingkungan belajar yang baru.

Hunting Tourist: Cara Seru Belajar Bahasa Inggris

Hunting Tourist: Cara Seru Belajar Bahasa Inggris

Salah satu program dari kelas bahasa SMP Muhammadiyah 4 Yogyakarta adalah praktek speaking atau berbicara dengan para pelancong dari luar negeri. Kegiatan ini disebut Hunting Tourist atau Native Hunt. Siswa kelas bahasa (7C) melaksanakan kegiatan ini di kawasan Kampung Wisata Taman Sari, Yogyakarta, pada hari Rabu, 17 Juni 2026 dipandu oleh guru-guru.

Pada kegiatan ini siswa dibagi menjadi beberapa kelompok yang terdiri atas 3-4 orang siswa. Setiap kelompok ditugaskan untuk mencari serta berdialog dengan turis asing. Komunikasi diawali dengan sapaan kemudian dilanjutkan dengan mengajukan pertanyaan seperti pengalaman narasumber di Indonesia, karakteristik negara asal, hobi narasumber, hingga culture shock di Indonesia.

Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris, memahami kebiasaan dan budaya dari negara lain, serta meningkatkan rasa percaya diri. Para siswa mengaku sangat antusias dengan kegiatan ini. Hunting Tourist menjadi pengalaman menantang sekaligus menyenangkan bagi siswa.

Assesmen Sumatif Akhir Tahun SMP Muhammadiyah 4 Yogyakarta T.A. 2025/2026

Assesmen Sumatif Akhir Tahun SMP Muhammadiyah 4 Yogyakarta T.A. 2025/2026

kid write a book in the classroom.

Assesmen Sumatif Akhir Tahun (ASAT) merupakan salah satu tes yang digunakan sebagai penentu kenaikan kelas untuk siswa kelas VII dan kelas VIII. SMP Muhammadiyah 4 Yogyakarta mengadakan kegiatan penilaian ASAT Tahun Ajaran 2025/2026 pada tanggal 03 Juni 2026 hingga 12 Juni 2026. Penilaian ini wajib diikuti oleh seluruh siswa kelas VII dan VIII di SMP Muhammadiyah 4 Yogyakarta.

Penilaian ASAT tahun ini memanfaatkan perangkat lunak Aplikasi Ujian Muhammadiyah (AUM) yang sudah diunduh di ponsel masing-masing siswa. Untuk mencegah kecurangan, para siswa diwajibkan menginstall aplikasi Safe Exam Browser. Selain perangkat lunak tersebut, untuk mata pelajaran Informatika dan Seni Budaya, sekolah kami memanfaatkan perangkat lunak Geschool. Untuk perangkat ini, aplikasi pengamannya berupa Geschool Secure Mode untuk pengguna android serta Safe Exam Browser untuk pengguna Iphone.

Para siswa mengaku antusias. Sebagian besar siswa menyampaikan bahwa kegiatan ini terasa seperti ‘tantangan seru’ untuk mengetes hasil belajar mereka satu tahun ini. Sebagian siswa mengungkapkan alasan yang tidak kalah unik dan jujur yaitu mereka senang pulang lebih awal. Apapun itu, kegiatan penilaian Assesmen Sumatif Akhir Tahun (ASAT) Tahun Ajaran 2025/2026 di SMP Muhammadiyah 4 Yogyakarta berjalan dengan lancar.

Di Tengah Banjir Informasi, Anak-Anak Kehilangan Kedalaman

Di Tengah Banjir Informasi, Anak-Anak Kehilangan Kedalaman

— Arif Jamali Muis —

Melanjutkan tulisan pertama berjudul “Kita Tidak Kekurangan Informasi, Tapi Kehilangan Makna,” saya ingin kembali membaca kegelisahan Yuval Noah Harari dalam Nexus: A Brief History of Information Networks from the Stone Age to AI melalui realitas pendidikan kita hari ini. Jika pada tulisan sebelumnya saya membahas banjir informasi dan krisis makna di ruang-ruang belajar, maka pada tulisan kedua ini saya ingin mengajak kita melihat persoalan lain yang tidak kalah penting: di tengah arus informasi yang bergerak semakin cepat, anak-anak kita perlahan kehilangan kedalaman dalam belajar. Hari ini, dunia bergerak dengan ritme yang belum pernah dialami generasi-generasi sebelumnya. Informasi datang bertubi-tubi tanpa jeda. Dalam hitungan menit, seseorang bisa melihat ratusan video, membaca puluhan komentar, berpindah dari satu topik ke topik lain, lalu melupakan semuanya beberapa saat kemudian. Kita hidup dalam budaya yang terus mendorong manusia untuk bergerak cepat, bereaksi cepat, dan berpikir cepat.

Anak-anak kita tumbuh di tengah situasi itu. Mereka lahir ketika internet sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Mereka terbiasa dengan layar yang terus menyala, notifikasi yang tak pernah berhenti, dan algoritma yang selalu tahu apa yang ingin mereka lihat berikutnya. Dunia digital membentuk cara mereka menerima informasi, cara mereka memberi perhatian, bahkan perlahan membentuk cara mereka belajar. Di satu sisi, ini tentu membawa banyak peluang. Pengetahuan menjadi lebih mudah diakses. Belajar tidak lagi terbatas ruang kelas. Anak-anak bisa mengetahui banyak hal yang dulu sulit dijangkau. Tetapi di balik kemudahan itu, ada sesuatu yang perlahan hilang: kemampuan untuk tinggal lebih lama dalam satu pemikiran.

Yuval Noah Harari dalam Nexus menjelaskan bahwa manusia modern hidup dalam jaringan informasi yang sangat kompleks. Persoalannya hari ini bukan lagi kekurangan informasi, melainkan ketidakmampuan manusia mengolah limpahan informasi itu menjadi pemahaman yang bermakna. Informasi bergerak jauh lebih cepat daripada kemampuan manusia untuk merenunginya. Dan mungkin, itulah yang sedang terjadi di ruang-ruang kelas kita. Kita mulai melihat anak-anak yang mampu menemukan jawaban dengan sangat cepat, tetapi sulit menjelaskan alasan di balik jawabannya. Mereka terbiasa membaca singkat, tetapi kesulitan bertahan membaca panjang. Mereka cepat mengetahui sesuatu, tetapi tidak cukup lama memikirkan sesuatu.

Budaya scrolling perlahan membentuk budaya belajar. Anak-anak terbiasa berpindah sebelum sempat mendalami. Mereka melihat banyak hal, tetapi tidak benar-benar menyelami apa pun. Perhatian mereka mudah terpecah. Konsentrasi menjadi pendek. Bahkan membaca satu halaman penuh tanpa terdistraksi mulai menjadi tantangan tersendiri. Ironisnya, sekolah kadang tanpa sadar ikut memperkuat situasi ini. Pembelajaran masih sering terjebak pada target penyelesaian materi, bukan kedalaman pemahaman. Siswa didorong cepat menyelesaikan tugas, cepat menjawab soal, cepat memperoleh nilai. Kecepatan menjadi ukuran keberhasilan, sementara proses berpikir perlahan mulai kehilangan tempat.

Padahal, belajar sejatinya tidak pernah lahir dari ketergesaan.

Pemahaman membutuhkan waktu. Ia tumbuh melalui perhatian, pengulangan, dialog, pengalaman, dan refleksi. Seseorang tidak benar-benar memahami hanya karena ia pernah membaca. Pemahaman lahir ketika pengetahuan diolah, dipertanyakan, dikaitkan dengan kehidupan, lalu dimaknai secara personal. Di sinilah saya melihat mengapa Pembelajaran Mendalam menjadi sangat relevan bagi pendidikan kita hari ini.

Dalam Naskah Akademik Pembelajaran Mendalam, ditegaskan bahwa salah satu tantangan pendidikan Indonesia adalah masih dominannya pembelajaran dangkal: pembelajaran yang terlalu bertumpu pada hafalan, ceramah satu arah, dan belum cukup menumbuhkan kemampuan berpikir kritis peserta didik. Bahkan muncul fenomena yang sangat mengusik: bersekolah tetapi tidak belajar. Kalimat itu sesungguhnya menggambarkan krisis yang sedang kita hadapi. Anak hadir di sekolah, mengikuti pelajaran, mengerjakan tugas, bahkan memperoleh nilai baik. Namun proses memahami secara mendalam belum tentu benar-benar terjadi. Pengetahuan sering berhenti di permukaan. Belajar menjadi aktivitas administratif, bukan perjalanan intelektual dan reflektif.

Karena itu, Pembelajaran Mendalam hadir bukan sekadar sebagai perubahan metode pembelajaran. Ia sesungguhnya merupakan respons terhadap perubahan zaman. Pembelajaran Mendalam mengajak peserta didik belajar secara berkesadaran (mindful), bermakna (meaningful), dan menggembirakan (joyful). Peserta didik tidak hanya diminta mengetahui sesuatu, tetapi memahami, mengaplikasikan, dan merefleksikannya dalam kehidupan nyata.

Pendekatan ini penting karena dunia digital hari ini cenderung mendorong manusia hidup di permukaan. Semua serba cepat, serba singkat, serba instan. Sementara Pembelajaran Mendalam justru mengajak anak berhenti sejenak, memberi perhatian penuh, lalu menyelami pengetahuan secara lebih utuh.

Dalam konteks ini, guru menjadi semakin penting. Di era ketika informasi tersedia di mana-mana, peran guru bukan lagi sekadar penyampai materi. Teknologi bahkan dapat melakukannya lebih cepat. Tetapi teknologi tidak dapat menggantikan kemampuan guru dalam membangun kedalaman manusia. Guru membantu anak belajar berpikir tenang di tengah dunia yang gaduh. Membantu mereka membaca lebih sabar di tengah budaya serba singkat. Membantu mereka bertanya lebih dalam di tengah banjir jawaban instan. Guru bukan sekadar penghubung informasi. Guru adalah penjaga kedalaman. Dan mungkin, itulah tantangan terbesar pendidikan masa depan: bukan bagaimana membuat anak memperoleh lebih banyak informasi, tetapi bagaimana menjaga mereka tetap mampu berpikir mendalam di tengah dunia yang bergerak terlalu cepat. Karena pada akhirnya, masa depan tidak akan dimenangkan oleh mereka yang paling cepat menemukan jawaban, melainkan oleh mereka yang mampu memahami dunia secara lebih dalam, lebih tenang, dan lebih manusiawi