Kita Tidak Kekurangan Informasi, Tapi Kehilangan Makna

Kita Tidak Kekurangan Informasi, Tapi Kehilangan Makna

— Arif Jamali Muis —

Beberapa waktu terakhir, saya menuntaskan membaca buku Nexus: A Brief History of Information Networks from the Stone Age to AI karya Yuval Noah Harari. Buku itu tidak hanya memberi pengetahuan baru, tetapi juga meninggalkan kegelisahan yang sulit diabaikan. Dari kegelisahan itulah, saya terdorong untuk menuliskan tulisan seri sederhana ini —mencoba membaca ulang dunia pendidikan kita melalui lensa yang ditawarkan Harari, lalu mengaitkannya dengan gagasan pembelajaran mendalam sebagai pendekatan pedagogi. Sebab semakin saya merenung, semakin terasa bahwa apa yang dibahas Harari tentang jaringan informasi sebenarnya tidak jauh dari apa yang sedang terjadi di ruang-ruang kelas kita hari ini.

Apa yang terjadi di Ruang Kelas?

Pagi hari di sekolah-sekolah kita tidak lagi kekurangan informasi. Di tangan siswa, dunia seakan terbuka tanpa batas. Apa pun bisa dicari, ditemukan, dan dijelaskan dalam hitungan detik. Guru belum selesai menjelaskan, mesin pencari sudah memberi jawaban. Bahkan sebelum pertanyaan benar-benar dipahami, jawaban telah tersedia.

Sekilas, ini tampak seperti kemajuan besar. Dan memang demikian. Tetapi di balik kemudahan itu, ada pertanyaan yang pelan-pelan mengusik: mengapa di tengah kelimpahan informasi ini, kita justru semakin sering menemukan pemahaman yang dangkal?

Inilah paradoks zaman kita. Harari dalam Nexus menjelaskan bahwa sejak awal, manusia hidup dan berkembang dalam jaringan informasi. Peradaban tidak dibangun hanya oleh kekuatan fisik atau kecerdasan individu, melainkan oleh kemampuan manusia untuk menciptakan, menyebarkan, dan mempercayai informasi bersama—dari cerita sederhana, mitos, hingga sistem yang kompleks seperti hukum, negara, dan ilmu pengetahuan.

Namun, jaringan informasi yang dulu memperkuat manusia, hari ini berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih kompleks. Informasi tidak lagi sekadar menghubungkan, tetapi juga membanjiri. Ia tidak hanya memperkaya, tetapi juga membingungkan. Ia tidak hanya membantu kita memahami dunia, tetapi kadang justru menjauhkan kita dari makna.

Kita hidup di era di mana informasi bergerak lebih cepat daripada kemampuan kita untuk merenungkannya. Lihatlah bagaimana anak-anak kita belajar hari ini. Mereka mampu menjawab banyak soal, tetapi sering kesulitan menjelaskan dengan bahasa mereka sendiri. Mereka hafal konsep, tetapi gagap ketika harus mengaitkannya dengan realitas. Mereka tahu banyak hal, tetapi tidak selalu benar-benar memahami.

Sekolah, dalam banyak hal, tanpa sadar ikut terjebak dalam arus ini. Belajar masih sering dimaknai sebagai proses mengumpulkan informasi. Semakin banyak tahu, semakin dianggap pintar. Nilai menjadi ukuran utama, bukan kedalaman pemahaman. Kecepatan menjadi kebanggaan, bukan ketelitian berpikir.

Padahal, jika kita jujur, persoalan pendidikan hari ini bukan lagi pada akses informasi—itu sudah terbuka lebar. Persoalannya justru bergeser: bagaimana membantu siswa memahami, bukan sekadar mengetahui.

Di titik ini, kita perlu berhenti sejenak dan bertanya: untuk apa sebenarnya kita belajar? Apakah sekadar untuk menjawab soal? Apakah untuk mengejar nilai? Ataukah untuk memahami dunia dan menemukan makna di dalamnya?

Pertanyaan ini menjadi semakin relevan ketika kita menyadari bahwa informasi yang kita konsumsi hari ini tidak netral. Ia membentuk cara kita berpikir, memengaruhi keputusan kita, bahkan perlahan membentuk siapa kita. Jika kita tidak memiliki kemampuan untuk memilah, memahami, dan merefleksikan informasi, maka kita tidak lagi mengendalikan pengetahuan. Kitalah yang justru dikendalikan olehnya.

Di sinilah saya melihat pentingnya pembelajaran mendalam. Pembelajaran mendalam bukan sekadar istilah yang terdengar “baru” dalam diskursus pendidikan. Ia adalah kebutuhan yang lahir dari konteks zaman. Ia mengajak kita kembali pada hakikat belajar: memahami secara utuh, mengaitkan pengetahuan dengan pengalaman, dan merefleksikan makna di balik apa yang dipelajari.

Dalam pembelajaran mendalam, belajar tidak berhenti pada “tahu apa”, tetapi bergerak ke “mengapa” dan “bagaimana”. Siswa tidak hanya diminta memahami konsep, tetapi juga mengaplikasikannya dalam kehidupan nyata. Mereka tidak sekadar menerima informasi, tetapi dilatih untuk mempertanyakan, mengolah, dan memaknainya. Dengan kata lain, pembelajaran mendalam berusaha menjawab krisis makna yang sedang kita hadapi.

Namun, perubahan ini tidak sederhana. Ia menuntut pergeseran cara pandang yang cukup mendasar—terutama tentang peran guru. Di era ketika informasi tersedia di mana-mana, guru tidak lagi bisa hanya berperan sebagai penyampai pengetahuan. Peran itu, jujur saja, sudah diambil alih oleh teknologi. Mesin pencari, video pembelajaran, dan kecerdasan buatan mampu menyajikan informasi dengan lebih cepat dan variatif.

Tetapi ada satu hal yang tidak bisa digantikan oleh teknologi: kemampuan untuk menuntun makna. Guru, dalam konteks ini, justru menjadi semakin penting. Bukan sebagai sumber informasi, tetapi sebagai fasilitator pemahaman. Guru adalah mereka yang membantu siswa berhenti sejenak di tengah derasnya arus informasi. Mengajak mereka berpikir, bukan sekadar menjawab. Mengajak mereka memahami, bukan sekadar menghafal. Mengajak mereka merefleksikan pengalaman belajar mereka.

Guru adalah penjaga kedalaman di tengah dunia yang serba dangkal.

Tentu ini bukan pekerjaan mudah. Ia menuntut kesiapan pengetahuan, keterampilan, dan sikap guru itu sendiri. Guru perlu memahami apa itu pembelajaran mendalam, bagaimana menerapkannya, dan—yang tidak kalah penting—meyakini bahwa pendekatan ini memang diperlukan. Tanpa itu, pembelajaran mendalam hanya akan menjadi jargon, bukan praktik nyata di kelas.

Pada akhirnya, seri tulisan sederhanan ini adalah upaya kecil untuk mengajak kita semua—terutama para pendidik—merenungkan kembali arah pendidikan kita. Nexus membantu kita memahami bagaimana dunia berubah melalui jaringan informasi. Tetapi pendidikanlah yang menentukan bagaimana manusia bertahan dan bermakna di dalam perubahan itu.

Kita mungkin tidak bisa menghentikan banjir informasi. Dan memang tidak perlu. Tetapi kita bisa memastikan bahwa di tengah arus itu, siswa kita tidak hanyut tanpa arah. Kita bisa mengajarkan mereka untuk menyelam lebih dalam.

Karena pada akhirnya, masa depan tidak akan dimenangkan oleh mereka yang paling cepat menemukan jawaban, tetapi oleh mereka yang paling mampu memahami pertanyaan.

Dan mungkin, di situlah letak harapan pendidikan kita hari ini: bukan pada seberapa banyak informasi yang kita berikan, tetapi pada seberapa dalam makna yang berhasil kita bangun

A winding road in the countryside with a lone tree under a cloudy sky.

Selalu Ada Jalan Keluat

oleh : DR. Firwan Firdaus

Setiap manusia yang hidup di dunia ini sudah pasti selalu mengalami masalah tertentu karena manusia memang diciptakan Allah Swt untuk diuji dengan berbagai kesusahan {QS. Al-Balad (90):4}. Masalah yang dialami manusia dapat mulai dari yang ringan sampai berat. Bayi yang baru lahir selalui ditandai dengan menangis dengan nyaring sekali karena lingkungan yang baru bermasalah buat sang bayi. Anak kecil yang baru masuk sekolah pasti mengalami masalah tertentu yang menyebabkan dia sering mogok masuk sekolah. Anak remaja yang baru tumbuh juga mengalami masalah tertentu di sekolahnya. Mahasiswa yang sering idealis juga tidak luput dari permasalahan di lingkungan pergaulannya. Para pekerja dan pebisnis selalu ada masalah dalam pekerjaan dan bisnisnya. Dunia ini memang tempatnya tumpukan masalah yang tidak akan pernah selesai. Dibalik masalah itu sebenarnya Allah Swt juga menunjukkan cara penyelesaian masalah. Dibalik kesulitan selalu ada kemudahan {QS. Al-Insyirah (94):5-6}. Bagi Allah Swt, tidak ada yang tidak mungkin, selalu ada jalan keluar dari berbagai permasalahan. Semuanya tergantung manusianya, apakah mau berusaha semaksimal mungkin dan selalu berdoa tanpa bosan serta dengan kesabaran yang tinggi menunggu Keputusan Allah Swt.

Banyak kasus nyata yang terjadi dimulai dari kesulitan yang maha dahsyat, tetapi dapat berakhir dengan happy ending. Ada kasus yang menarik, sebuah keluarga sederhana, hidup dengan penghasilan pas-pasan sebagai PNS golongan dua dengan pendidikan setingkat SLTA, tetapi dapat menyekolahkan anaknya di Fakultas Kedokteran Universitas Negeri ternama. Pada mulanya banyak orang sangat skeptis dengan cita-cita anaknya yang sangat tinggi bahkan ada yang mengatakan anaknya tidak tahu diri, tidak berkaca diri tetapi Allah Swt menunjukkan kekuasaannya dan menunjukkan jalan keluar dari kesulitannya. Anaknya diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Negeri ternama dengan mendapat beasiswa bidikmisi (beasiswa khusus untuk orang miskin) sehingga anaknya selama kuliah tidak perlu membayar uang sepeserpun bahkan mendapat uang saku yang cukup memadai dari pihak institusi. Sekarang anaknya sudah berhasil lulus menjadi dokter dengan nilai terbaik. Selalu ada jalan keluar jika kita sabar dan selalu berdoa kepada-Nya.

Ada satu kasus lagi yang sangat menarik dan fenomenal. Sepasang suami isteri yang baru menikah sekitar 1,5 tahun dan dikaruniai bayi perempuan yang cantik. Pada saat sang bayi baru berumur 3 bulan ada peristiwa yang sangat mengejutkan. Entah apa sebabnya, sang suami melarikan diri di tengah malam di saat isterinya dan mertuanya sedang tidur nyenyak dengan membawa sang bayi yang baru berusia 3 bulan. Sang isteri dan bapak ibunya yang juga sedang menginap dirumahnya kaget mendengar bayi dan suaminya yang hilang tetiba tanpa meninggalkan bekas. Si isteri dan bapak ibunya berusaha mencari ke keluarga suaminya tetapi keluarga suaminya juga tidak ada yang mengetahui. Sang Isteri sampai menggaji detektif swasta untuk melacak keberadaan anak dan suaminya. Sudah 10 tahun belum ada informasi yang didapatnya. Akhirnya dia menggugat cerai suaminya di pengadilan agama tanpa kehadiran suaminya. Suatu saat sang isteri bertemu dengan seorang temannya yang bekerja di Kementerian Pendidikan Nasional. Mereka berbincang berbagai hal termasuk masalah keluarganya yang berantakan. Temannya iseng-iseng melihat data murid SD si-Indonesia yang memang ada di kementrian. Dia menelusuri data semua murid SD di seluruh sekolah dasar di Jakarta. Dia mencari data nama murid dan nama orangtuanya.

Dengan izin Allah dapat diketahui keberadaan anaknya yang hilang itu sedang bersekolah di salah satu SD di Jakarta. Allah Maha Besar, setelah dapat info dari temannya tadi, sang isteri bergegas ke sekolah SD yang bersangkutan. Dia menemui kepala sekolah SD tersebut dan menceritakan kronologis kisah kehilangan anaknya. Ternyata anaknya memang benar bersekolah disitu. Suaminya ternyata sudah menikah dengan orang lain dan juga sudah mempunyai anak satu lagi. Akte lahir si anak yang hilang ternyata dipalsukan dengan tanggal lahir yang berbeda. Dia sempat bertemu dengan suaminya tanpa ada perbincangan apapun. Si anak yang sudah besar duduk di kelas 5 SD, tetapi dia tidak mengenal ibunya walaupun sudah diberitahukan oleh kepala sekolah bahwa itu ibunya. Suaminya juga tidak berkeberatan jika si Anak ikut ibunya, tetapi si anak belum mau. Si Ibu bersabar sambil menemui anaknya setiap minggu. Akhirnya suatu saat terjadi peristiwa yang mengejutkan lagi. Mantan suaminya itu menceraikan isterinya yang baru itu karena dia menikah lagi dengan wanita lain yang lebih muda. Sang isteri yang kedua itu memberikan info ke mantan isteri pertama agar anaknya sebaiknya dibawa saja. Pada akhirnya happy ending, si bayi yang hilang berkumpul lagi dengan ibu kandungnya dan sekarang sudah bersekolah di salah satu SMA di Yogyakarta, tempat eyang si bayi bertinggal. Selalu ada jalan keluar ketika kita sabar, berusaha keras dan selalu berdoa kepada Allah Swt.

Ada lagi suatu kisah inspiratif yang sangat menarik. Seorang anak muda yang baru tamat SLTA di sebuah kampung di Sumatera Barat. Dia merantau ke Kota Yogyakarta. Di Yogyakarta dia tidak mempunyai teman atau family siapapun. Dia menginap di salah satu mesjid besar di Yogyakarta. Setelah beberapa hari pengurus masjid menaruh perhatian serius tentang keberadaan anak mud aitu di masjid. Si anak muda tersebut ditawari jadi marbot yang pekerjaannya membantu membersihkan masjid, jadi mu’azin dan mengajari anak-anak belajar membaca Al-Qur’an. Si anak muda ini, di sela-sela waktunya, dia belajar soal-soal test masuk universitas. Ternyata dia mempunyai cita-cita yang sangat tinggi. Dengan pertolongan Allah Swt, dia diterima di fakultas ekonomi UGM lewat jalur umum yang berbiaya murah.Pengurus masjid mendukung dia untuk kuliah dengan memberikan dukungan finansial untuk biaya kuliah di tahun pertama. Berkat ketekunannya, di tahun kedua, dia mendapat beasiswa supersemar. Si anak mud aini ternyata cerdas sekali sehingga untuk menambah penghasilan dia juga diterima mengajar di tempat bimbingan belajar yang banyak sekali di Yogyakarta. Singkat cerita dia berhasil lulus dari UGM dan mendapat pekerjaan di sebuah Perusahaan swasta terbesar di Indonesia. Karirnya sangat cepat menanjak karena kejujuran dan kepintarannya. Dalam waktu singkat dia menjadi orang kepercayaan pemilik Perusahaan. Disamping dia juga memiliki mendirikan perusahaan sendiri yang bidang kerjanya berbeda dengan tempat dia bekerja.

Ada peristiwa yang sangat mengejutkan. Si anak muda ini di fitnah teman sekerjanya sehingga dia dikeluarkan dari perusahaan dan perusahaannya sendiri bangkrut karena uangnya dibawa lari oleh karyawannya. Si anak muda ini tidak patah semangat. Dia mulai lagi bekerja dari nol. Pekerjaan pertamanya menjadi tukang parkir di depan sebuah toko. Suatu saat ada mobil yang cukup mewah mogok di tempat parkir tersebut. Dia berusaha menolong pemilik mobil tersebut dan berhasil menghidupkan mobil. Si pemilik mobil tertarik dengan si anak muda tersebut. Dia ditawari bekerja di perusahaannya. Singkat cerita, dia berhasil memajukan perusahaan. Kali ini dia belajar dari pengalaman. Dia tidak mau berlama-lama di perusahaan itu, takut kena fitnah lagi. Setelah terkumpul uang pribadi yang cukup banyak, dia mendirikan perusahaan sendiri dan dikelola sendiri dengan beberapa karyawan. Perusahaannya bergerak di bidang kuliner. Perusahaannya berkembang pesat dan mempunyai cabang di berbagai kota besar di seluruh Indonesia. Selalu ada jalan keluar di saat terjadi musibah asal jangan menyerah.

Banyak sekali kisah-kisah yang menarik yang terjadi di dunia nyata dalam kehidupan sehari-hari. Kisah-kisah tersebut diatas dapat menjadi pelajaran bagi kita semua bahwa kehidupan di dunia ini selalu ada masalah. Tidak selamamya kita sukses, suatu saat ada kegagalan, tetapi jangan menyerah karena roda kehidupan selalu berputar. Disaat sedang diatas jangan sombong, bersyukurlah dan disaat sedang dibawah jangan patah semangat, bersabarlah dan selalu berusaha keras. Suatu saat dari kegagalan muncul keberhasilan yang tidak terduga dengan syarat selalu berusaha, sabar dan berdoa serta jangan pernah menyerah. Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah Swt, niscaya Dia mengadakan baginya jalan keluar. [QS. Ath-Thalaq (65): 2]. Semoga kita semua selalu mendapatkan jalan keluar dari semua masalah. Aamiin.

Semarang, 04 Februari 2026

Muktamar

Muktamar

Dalam sebuah organisasi, tentu banyak gagasan bermunculan, baik secara lisan maupun tertulis. Muktamar adalah sebuah pertemuan atau konferensi besar yang diadakan oleh suatu organisasi atau kelompok untuk membahas isu-isu penting, berbagi pengetahuan, memperkuat jaringan, dan mengambil keputusan penting. Biasanya, muktamar dihadiri oleh anggota atau delegasi dari organisasi tersebut, dan juga dapat melibatkan pembicara tamu, ahli industri, atau pemangku kepentingan lainnya.

Muktamar dapat diadakan oleh berbagai jenis organisasi, seperti lembaga pemerintah, badan amal, asosiasi profesi, atau perusahaan. Acara ini biasanya berlangsung selama beberapa hari hingga satu minggu, tergantung pada kompleksitas dan skala topik yang dibahas.

Masa awal Muktamar di Muhammadiyah semula adalah tahunan (1912 – 1923). Pada masa awal berdirinya di bawah kepemimpinan KH. Ahmad Dahlan, forum tertinggi ini belum memiliki nama khusus yang formal dan sistematis seperti sekarang. Pertemuan dilakukan setiap tahun di Yogyakarta untuk membahas perkembangan organisasi.

Periode kedua (1924 – 1940), dibawah kepemimpinan KH Ibrahim, Muhammadiyah mulai menggunakan istilah “Kongres”. Istilah ini diserap dari bahasa Inggris (Congress) yang saat itu sangat populer di kalangan organisasi pergerakan nasional untuk menunjukkan semangat modernitas dan kemajuan.

Tahun 1944 – 1946 adalah “Masa Darurat”, akibat situasi Perang Dunia II dan Revolusi Fisik (perang kemerdekaan). Muhammadiyah tidak bisa menyelenggarakan pertemuan besar secara normal. Sebagai gantinya, diadakan pertemuan terbatas yang disebut Congress Dharurot (Kongres Darurat).

Perubahan menjadi Muktamar dimulai tahun 1950. Setelah Indonesia berdaulat sepenuhnya, Muhammadiyah menyelenggarakan forum tertinggi ke-31 pada tahun 1950 di Yogyakarta. Pada momen inilah nama “Kongres” resmi diganti menjadi “Muktamar”.

Muktamar merupakan agenda tertinggi dalam organisasi Muhammadiyah. Ibarat sebuah negara, Muktamar adalah “sidang paripurna” di mana arah masa depan organisasi ditentukan. Adapun tujuan dari muktamar adalah:

Forum Tertinggi. Muhammadiyah adalah organisasi yang dikelola secara demokratis dan kolektif-kolegial. Muktamar menjadi wadah bagi seluruh perwakilan wilayah dan daerah di Indonesia (bahkan cabang istimewa di luar negeri) untuk menggunakan hak suaranya. Di sinilah legitimasi kepemimpinan dibangun.

Regenerasi. Salah satu agenda paling krusial adalah pemilihan Anggota Pimpinan Pusat Muhammadiyah untuk periode berikutnya. Muhammadiyah dikenal memiliki sistem pemilihan yang unik. Peserta memilih 13 nama dari sekian banyak calon. 13 orang terpilih tersebut kemudian bermusyawarah untuk menentukan siapa yang akan menjadi Ketua Umum dan Sekretaris Umum.

Laporan Pertanggungjawaban dan Evaluasi. Muktamar menjadi ajang bagi pimpinan periode berjalan untuk melaporkan apa saja yang sudah dicapai, kendala yang dihadapi, dan bagaimana pengelolaan keuangan serta aset organisasi (seperti sekolah, rumah sakit, dan panti asuhan) selama 5 tahun terakhir.

Program Kerja. Dunia terus berubah, dan Muhammadiyah perlu menyesuaikan langkahnya. Dalam Muktamar, disusun Program Kerja dan Pernyataan Pikiran Muhammadiyah untuk menghadapi isu-isu kontemporer, baik di level nasional maupun global (seperti perubahan iklim, ekonomi digital, hingga politik).

Silaturahmi dan Syiar. Selain urusan formal administrasi, Muktamar adalah ajang konsolidasi akbar. Ribuan hingga jutaan penggembira biasanya hadir untuk merayakan semangat pembaruan. Ini berfungsi untuk memperkuat ikatan batin antarkader (ukhwah) agar tetap solid dalam menjalankan misi dakwah.

Mengkonsumsi Mikroplastik

Mengkonsumsi Mikroplastik

Tanpa kita sadari, hampir setiap hari kita mengkonsumsi mikropastik. Hasil Riset Micro Ecoton Sofi Azilan Aini mengatakan masuknya Mikroplastik ke dalam tubuh melewati tiga jalur. Inhalasi (pernapasan), konsumsi makanan dan paparan kulit.

Mikroplastik bukan sekadar “sampah kecil”, karena ukurannya yang mikroskopis (kurang dari 5 milimeter) namun dampaknya makroskopis. Namun, yang paling berbahaya justru yang jauh lebih kecil, hingga skala nanometer (nanoplastik), yang bisa menembus membran sel manusia.

Mikroplastik telah ditemukan di tempat-tempat yang paling tidak terduga. Mulai dari puncak Gunung Everest, sampai di dasar Palung Mariana. Dalam kehidupan sehari-hari, mikropastis dapat ditemukan di:

Sumber utama mikroplastik antara lain

  1. Mikroplastik Primer: Sengaja diproduksi dalam ukuran kecil. Contoh: Microbeads pada pembersih wajah, lulur, atau pelet plastik industri (nurdles) yang digunakan sebagai bahan baku manufaktur.
  2. Mikroplastik Sekunder: Hasil degradasi dari benda plastik yang lebih besar. Contoh: Serat sintetis yang lepas saat mencuci baju (poliester/nilon), pengikisan ban mobil saat bergesekan dengan aspal, atau botol plastik yang hancur karena sinar UV dan ombak di laut.

Bila tidak hati-hati dalam memanfaatkan bahan-bahan yang tersebut di atas, maka akan mengancam kesehatan. Karena mikroplastik mengandung bahan kimia yang berbahaya seperti: dioksin (senyawa beracun yang merupakan polutan organic), polietilen (polimer plastic yang banyak digunakan dalam industry kimia) dan polipropilen (banyak digunakan untuk wadah makanan, kemasan, dan produk rumah tangga).

Dampak bagi Kesehatan antara lain

  1. Kanker. Endapan mikroplastik yang tidak dapat dicerna tubuh, sehingga menimbulkan iritasi hingga memicu peradangan.
  2. Gangguan Hormon. Zak aditif dalam plastic dapat mengganggu system endokrin, memicu ketidak stabilan.
  3. Penurunan Imunitas. Mikroplastik dapat mengganggu system kekebalan tubuh dan menyebabkan perubahan DNA
  4. Masalah pencernaan. Melalui makan dan air minum, mikroplastik dapat menyebabkan pembengkakan usus dan memengaruhi organ tubuh lainnya.

Sumber bacaan: https://www.tempo.co/gaya-hidup/ancaman-mikroplastik-bagi-kesehatan–1885352

Urgensi Menulis Kreatif di Pesantren Ramadan

Urgensi Menulis Kreatif di Pesantren Ramadan

Oleh Muhammad Subhan

TRADISI intelektual Islam di Nusantara, khususnya di ranah Minangkabau, tidak pernah lepas dari aktivitas literasi, khususnya tulis-menulis.

Jika kita menengok jauh ke belakang, para ulama besar tidak hanya piawai berorasi di atas mimbar, tetapi juga tajam dalam menggoreskan pena.

Mereka memahami betul bahwa suara akan hilang ditiup angin, namun tulisan akan abadi melampaui usia pemiliknya.

Sebut saja Buya Hamka. Sosok ulama kharismatik ini adalah bukti nyata bagaimana dakwah dan sastra bisa bersenyawa dengan indah.

Melalui kitab tafsir dan buku-buku filsafat Islamnya, ia menyentuh logika umat. Pun, melalui roman-romannya, ia menyentuh relung emosi dan kemanusiaan.

Hamka tidak sendirian. Deretan nama ulama lain seperti Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, Haji Abdul Karim Amrullah (HAKA), Zainuddin Labay, hingga M. Natsir adalah barisan “singa podium” yang juga “pendekar pena”.

Mereka melakukan dakwah bil qalam (dengan pena), sebuah metode yang membuat pemikiran mereka tetap relevan meski zaman telah berganti dari kolonialisme menuju era disrupsi digital.

Namun, ada fenomena yang terputus dalam transmisi keilmuan di generasi sekarang. Saat Ramadan tiba, masjid dan musala dipenuhi pelajar dalam agenda “Pesantren Ramadan”. Sayangnya, kurikulum yang disajikan terkesan monoton: ceramah cenderung searah terutama tentang Fiqh, Tauhid, dan Tarikh. Jarang—bahkan nyaris tidak ada—ruang yang memberikan porsi lebih bagi “Keterampilan Menulis Kreatif”, khususnya sastra.

Padahal, menulis kreatif bukan sekadar merangkai kata agar terlihat estetis. Bagi seorang santri atau pelajar, menulis sastra (puisi, cerpen, atau esai reflektif) adalah latihan mengolah rasa dan empati. Sastra memungkinkan nilai-nilai agama tidak hanya dipahami sebagai deretan hukum “boleh” dan “tidak boleh”, tetapi dirasakan sebagai ruh yang menghidupkan nilai-nilai kemanusiaan.

Menulis kreatif melatih anak muda untuk berpikir kritis dan sistematis. Saat seorang remaja mencoba menulis cerpen islami, ia dipaksa untuk melakukan riset, membangun karakter, dan memecahkan konflik apa pun dalam narasinya.

Ini adalah simulasi kehidupan.

Tanpa kemampuan menulis kreatif, dakwah generasi muda di masa depan berisiko menjadi kaku, kering, dan kehilangan daya pikat di tengah gempuran konten visual yang serba cepat.

Mengapa sastra begitu penting bagi Generasi Z dan Alpha?

Di tengah kepungan media sosial yang memicu rentang perhatian (attention span) yang pendek, membaca dan menulis sastra adalah “oase” untuk melatih fokus.

Membaca sastra memperkaya kosakata dan memperhalus budi pekerti. Dengan membaca karya-karya maestro, anak muda belajar tentang kompleksitas sosial dan sejarah tanpa merasa digurui. Mereka bisa memahami beratnya perjuangan dakwah masa lampau melalui narasi, bukan sekadar angka tahun di buku sejarah.

Menulis sastra juga dapat dijadikan sebagai terapi kesehatan mental. Di era di mana kecemasan remaja meningkat, menulis menjadi medium katarsis untuk menuangkan kegelisahan menjadi karya yang positif. Sastra memberikan ruang bagi mereka untuk jujur pada diri sendiri.

Membaca dan menulis karya sastra dapat dijadikan bekal kepemimpinan. Pemimpin masa depan adalah mereka yang mampu berartikulasi dengan baik.

Kemampuan menyusun narasi kreatif adalah soft skill tertinggi di era kecerdasan buatan (AI). AI mungkin bisa mengolah data, tapi AI tidak memiliki “pengalaman batin” yang menjadi ruh dari sebuah tulisan sastra yang menyentuh hati.

Memasukkan materi menulis kreatif ke dalam kurikulum Pesantren Ramadan adalah langkah strategis untuk melakukan kaderisasi penulis.

Bayangkan jika panitia Pesantren Ramadan mengundang sastrawan, wartawan, atau penulis sebagai narasumber pendamping. Anak-anak tidak hanya diminta merangkum ceramah, tetapi juga diajak mengonversi isi ceramah tersebut menjadi puisi, cerpen, atau karya kreatif lainnya.

Output-nya pun bisa sangat dahsyat.

Jika satu masjid menghasilkan satu buku antologi karya santri setiap Ramadan, maka akan lahir ribuan literatur baru yang lahir dari rahim rumah ibadah. Masjid kembali menjadi pusat peradaban dan kebudayaan, bukan sekadar tempat ritualitas ibadah mahdah.

Pendampingan ini harus dilakukan secara berkelanjutan. Menulis adalah keterampilan yang ibarat pisau; harus terus diasah agar tidak tumpul.

Pesantren Ramadan harus menjadi momentum awal, yang kemudian dilanjutkan oleh sanggar-sanggar menulis di sekolah atau komunitas baca di masyarakat.

Momentum yang tercipta di Pesantren Ramadan tidak boleh dibiarkan menguap begitu saja seiring berakhirnya bulan suci. Pelatihan menulis di masjid harus dipandang sebagai “pemantik api” yang perlu dijaga nyalanya melalui ekosistem yang lebih permanen.

Keberlanjutan ini krusial karena keterampilan menulis bukanlah bakat alami yang jatuh dari langit, melainkan otot intelektual yang butuh dilatih secara repetitif.

Tanpa wadah pasca-pelatihan, antusiasme remaja untuk berkarya akan luruh tertimbun rutinitas akademik yang seringkali kaku.

Sekolah dan komunitas harus mengambil tongkat estafet ini, menyediakan ruang diskusi yang lebih intens, serta menjadi “rumah kedua” bagi para penulis muda untuk bereksperimen dengan imajinasinya.

Lebih jauh lagi, peran sanggar menulis dan komunitas baca adalah melakukan kurasi dan pendampingan yang lebih personal. Jika di Pesantren Ramadan materi bersifat pengenalan dasar, maka di komunitas inilah proses “penempaan” yang sesungguhnya terjadi.

Di sini, para calon penulis muda belajar tentang proses swasunting (self-editing), teknik narasi yang lebih kompleks, hingga cara mengirimkan karya ke media massa atau penerbit.

Komunitas-komunitas ini berfungsi sebagai laboratorium ide, tempat di mana mereka tidak hanya membaca karya-karya hebat, tetapi juga membedahnya untuk memahami anatomi tulisan yang mampu menggerakkan pembaca.

Adanya pembinaan yang rutin, semangat dakwah bil qalam yang dimulai dari masjid akan bertransformasi menjadi kompetensi profesional yang membekali mereka menghadapi tantangan zaman.

Sinergi antara lembaga keagamaan, sekolah, dan komunitas literasi akan membentuk sebuah sabuk pengaman budaya bagi generasi muda. Di tengah gempuran konten digital yang sering kali nir-makna, keberadaan sanggar menulis menjadi benteng pertahanan bagi akal sehat dan kedalaman rasa.

Ketika seorang remaja telah terbiasa menulis kreatif di lingkungannya, ia tidak akan mudah terombang-ambing oleh arus informasi yang dangkal. Ia akan tumbuh menjadi individu yang reflektif, mampu menyuarakan kegelisahan sosialnya melalui karya (sastra) yang santun dan bernas.

Inilah investasi jangka panjang yang kita harapkan, yaitu sebuah generasi yang tidak hanya mahir membaca zaman, tetapi juga mampu menuliskan sejarahnya sendiri dengan tinta kreativitas.

Kita merindukan lahirnya “Hamka-Hamka Baru” yang mampu membumikan kata-kata lewat karya. Kita menantikan “Natsir-Natsir Muda” yang mampu berdialektika di ruang publik dengan tulisan yang bernas namun tetap santun.

Selamat menjalankan ibadah puasa Ramadan 1477 Hijriah/2026 Masehi. Mari membumikan kalam (literasi), menghidupkan batin dengan tulisan. (MUHAMMAD SUBHAN)

Inovasi atau Mati

Inovasi atau Mati

Hampir tiap tahun kita mendengar berita ada sekolah yang ditutup atau dimerger dikarenakan tidak mendapatkan murid. Kalaupun ada murid sangat minimalis untuk mengatakan tidak memenuhi standar pengelolaan yang ideal. Terutama ini terjadi di jenjang sekolah dasar negeri. Meskipun sekolah swasta pun juga ada untuk jenjang sekolah menengah. Begitu pula sekolah Muhammadiyah. Ada beberapa sekolah Muhammadiyah yang tutup dan kini sudah “beralih fungsi” menjadi sekolah dengan brand dan tampilan baru. Atau menjadi sekolah baru.

Kasus sekolah tutup atau merger salah satunya dikarenakan kegagalan sekolah atau lembaga dalam membaca tanda-tanda zaman. Kegagalan dalam beradaptasi dan berinovasi. Kata Steve Jobs, “inovasi atau mati”. Meskipun kata-kata ini awalnya adalah dalam pengembangan dunia bisnis dan managemen kepemimpinan, akan tetapi tetap relevan dengan dunia pendidikan saat ini. Artinya jika sebuah lembaga atau sekolah tidak mampu melakukan inovasi dan kreativitas dalam layanan pendidikan, maka lembaga atau sekolah tersebut tidak akan diminati masyarakat, sehingga perlahan namun pasti akan mengalami kematian. Oleh karena itu, bagi sekolah Muhammadiyah, hal itu tidak boleh terjadi. Pengelola sekolah Muhammadiyah harus berpikir antisipatif dan adaptif dengan perubahan yang terjadi.

Sebuah Kepastian

Perubahan adalah sebuah kepastian. Kegagalan berinovasi berarti terjadi kemandegan dalam berpikir dan bertindak. Terjadi stagnasi dan fixed mindset. Yang berkembang adalah pola pikir tetap bukan pola pikir bertumbuh. Terjebak dalam zona nyaman dan ini akan dilampaui oleh kompetitor kita. Oleh karena itu ada beberapa hal yang bisa dilakukan oleh pengelola sekolah Muhammadiyah khususnya dan pendidikan non-Muhammadiyah pada umumnya.

Pertama, melakukan rebranding terhadap sekolah atau lembaga kita. Secara umum, branding sekolah bertujuan untuk membangun citra dan reputasi yang positif di mata masyarakat. Persepsi masyarakat terhadap sekolah sangat mempengaruhi eksistensi sekolah kita. Manakala persepsinya bagus maka sekolah kita akan diminati oleh masyarakat. Salah satu ikhtiar untuk mempengaruhi persepsi masyarakat adalah dengan membuat brand baru terhadap lembaga atau sekolah kita. Tentu saja brand tersebut yang marketable dan mempunyai daya tarik serta kekinian. Artinya, brand baru itu memberikan persepsi kepada masyarakat bahwa sekolah atau lembaga kita layak untuk diminati dan dipilih. Apakah itu dengan logo baru, tagline baru, image building yang baru serta masih banyak hal yang bisa dilakukan dalam rebranding ini.

Kedua, memberikan bukti nyata atau produk riil terhadap masyarakat. Bahwa sekolah atau lembaga kita mampu menghasilkan output yang berkualitas dan bermutu. Lulusan dari sekolah kita memiliki keungulan dan daya saing tinggi. Baik keunggulan kompetitif maupun komparatif. Ketika dikompetisikan dan dikomparasikan dengan sekolah lain, siswa kita tetap unggul. Bukti nyata atau produk riil salah satunya adalah dilihat dari prestasi (akademis dan non-akademis) yang diraih oleh sekolah.

Ketiga, penguatan pelayanan prima atau service excellent. Pendidikan bergerak di bidang jasa. Jasa sangat terkait dengan pelayanan maka lembaga atau sekolah yang ingin eksis harus menjadikan pelayanan prima menjadi prioritas utama. Apakah itu pelayanan prima untuk eksternal maupun internal. Banyak lembaga yang mengalami kemunduran disebabkan lemahnya dalam pemberian pelayanan ini.

Keempat, memiliki ciri khas yang berbeda dengan sekolah lain. Ciri khas ini akan menjadi diferensiasi atau daya beda dengan kompetitor. Dengan inovasi yang kuat maka akan muncul diferensiasi di mata konsumen atau masyarakat. Diferensiasi itu pula yang akan membedakan brand sekolah kita dengan sekolah lain. Apalagi sekolah Muhammadiyah yang notabenenya sudah memiliki ciri khas tersendiri yakni pendidikan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan. Sekolah Muhammadiyah yang dirintis oleh Kiai Ahmad Dahlan adalah memiliki spirit/simbol unggul dan berkemajuan.

Kiai Dahlan tidak hanya hanya mengajarkan Islam, tetapi juga memberi contoh nyata dalam spirit Al-Ma’un: mendorong siswa untuk peka terhadap kemiskinan dan ketidakadilan. Siswa dilatih untuk “melihat, bergerak, dan memberi solusi.” Selain itu beliau juga melakuan inovasi dan kewirausahaan. Beliau berani mendirikan sekolah di tengah tradisi pesantren yang dominan, menunjukkan semangat berinovasi. Sekolah harus menanamkan jiwa kewirausahaan sosial. Semoga dengan spirit unggul dan berkemajuan serta inovasi ini menjadikan sekolah muhamamdiyah tetap eksis dan selalu memberi kebermanfaatan untuk umat serta bangsa.

Sumber tulisan: https://muhammadiyahsolo.com/20251124/inovasi-atau-mati-13227