Selamat Datang
di SMP Muhammadiyah 4 Yogyakarta

Info Kegiatan
Logo HUT Republik Indonesia
Logo adalah sebuah lambang atau simbol yang digunakan untuk mewakili identitas sebuah perusahaan, merek, produk,…
Tes Kemampuan Akademik
Tes Kemampuan Akademik (TKA) adalah kegiatan pengukuran capaian akademik siswa pada mata pelajaran tertentu. TKA…
Peringatan Hari Ulang Tahun RI ke-80
Proklamasi ini bukan sekadar sebuah peringatan rutin yang berisi upacara, baris-berbaris, pidato dan seremonial lainnya….
PPL dan KKN
PPL adalah singkatan dari Praktik Pengalaman Lapangan. Ini adalah program atau kegiatan yang dirancang untuk memberikan mahasiswa…
Explore Your Talent
Secara sederhana, talenta adalah pola pikir, perasaan, dan perilaku yang produktif dan alami pada diri…
Kemeriahan Milad ke-70
Hari ini, tujuh puluh tahun yang lalu, kami lahir. Hari ini, tujuh puluh tahun yang…
Layanan
Brain Rot
Secara harfiah, “brain rot” berarti “pembusukan otak,” namun ini bukanlah istilah medis. Ia adalah istilah informal yang populer, untuk menggambarkan penurunan fungsi kognitif yang dirasakan akibat konsumsi konten digital yang dangkal, repetitif, dan tidak memberikan stimulasi intelektual. Konten pemicunya meliputi: Video pendek yang viral, meme dan humor yang spesifik, Doomscrolling atau menggulirkan medsos tanpa henti, dan kecanduang terhadap konten tanpa nilai edukasi
Dari perspektif futurologi, fenomena brain rot melampaui sekadar masalah individu. Ia adalah cerminan dari tiga tren makro yang sedang membentuk masa depan peradaban kita:
1. Pergeseran Kognisi: Dari “Berpikir Mendalam” ke “Berpikir Cepat”. Selama ribuan tahun, evolusi otak manusia didorong oleh kebutuhan untuk memproses informasi secara mendalam—membaca buku panjang, memecahkan masalah kompleks, atau mempertahankan fokus dalam jangka waktu lama. Era digital, sebaliknya, melatih otak kita untuk beradaptasi dengan kecepatan yang ekstrem
2. Fragmentasi Budaya dan Komunikasi Generasi. Brain rot menciptakan sebuah “pembatas linguistik” antara generasi. Bahasa slang yang absurd dan hanya dimengerti oleh mereka yang “terinfeksi” oleh budaya digital tertentu menciptakan sebuah komunitas tertutup.
3. Ekonomi Perhatian: Nilai Konten Menjadi Irrelevan. Fenomena ini adalah konsekuensi logis dari “ekonomi perhatian.” Platform media sosial didesain untuk memaksimalkan waktu Anda di layar, dan cara paling efektif untuk melakukannya adalah dengan menyajikan konten yang memicu respons dopamin instan—bukan yang menantang atau mendidik.


Are you looking for a school that fosters academic exellence, creativity, and caracter develompent? Feel free to contac us! Our school
SMP Muhammadiyah 4 Yogyakartais dedicated to
providing a supporttive and inclusive
environment that empowers
students to reach their
full potential
Wade Warren
Hubungi kami
SMP Muhammadiyah 4 Yogyakarta
(0274)554623
- berita (27)
- kesiswaan (13)
- pendidikan (12)
- sosbud (9)
- Tak Berkategori (7)