Wisuda dan Pelepasan Siswa Kelas IX SMP Muhammadiyah 4 Yogyakarta T.A. 2025/2026

Wisuda dan Pelepasan Siswa Kelas IX SMP Muhammadiyah 4 Yogyakarta T.A. 2025/2026

SMP Muhammadiyah 4 Yogyakarta mengadakan acara pelepasan dan tutup tahun siswa kelas IX Tahun Ajaran 2025/2026 pada hari Sabtu, 27 Juni 2026. Acara ini berlangsung dengan meriah. Para tamu undangan disuguhkan dengan berbagai pentas seni menarik persembahan anak-anak didik SMP Muhammadiyah 4 Yogyakarta, yaitu Karawitan, Tapak Suci, Band, dan Tari. Selain pentas seni, terdapat pula pembacaan ayat suci Al-Qur’an yang dilantunkan oleh dua orang siswi SMP Muhammadiyah 4 Yogyakarta dengan suara merdu mereka.

Setelah menikmati berbagai penampilan anak-anak didik SMP Muhammadiyah 4 Yogyakarta, tibalah pembacaan prestasi yang diraih oleh siswa-siswi kelas IX SMP tercinta. Prestasi ini dibagi menjadi prestasi akademik dan non akademik.

Prestasi Akademik peraih nilai TKA dan TKAD terbaik diraih oleh Jasmine Mikaillah Rahman dari kelas 9 ICT dengan nilai 323.33 sebagai peringkat pertama, Umaira Khanza Latifa Yasmin S. dari kelas 9A dengan nilai 306.67 sebagai peringkat kedua, serta Alifa Mutiara Medina dari kelas 9ICT dengan nilai 290.00 sebagai peringkat ketiga. Bahkan kedua siswi peraih peringkat kedua dan ketiga tersebut mendapatkan nilai sempurna yaitu seratus di TKA dan TKAD mata pelajaran Bahasa Inggris.

Untuk Prestasi Non-Akademik Bidang Olahraga dan Kepemimpinan diraih oleh Azka Zulfa Amalina dari kelas 9A dengan kejuaraan Atletik juara 2 PHIWM, Sherly Nada Novanka dari kelas 9ICT dengan kejuaraan Taekwondo Walikota Cup juara 2 tingkat DIY dan juara 3 KONI pusat, Maulidia Ulfa dari kelas 9ICT dengan kejuaraan Taekwondo Walikota Cup juara 2 tingkat DIY, serta Ardani Putra Wijaya dari kelas 9A dengan kejuaraan Tarung Derajat juara 1 tingkat DIY.

Untuk Prestasi Non-Akademik Bidang Tahfidz diraih oleh Alifa Mutiara Medina dari kelas 9ICT dengan hafalan dua juz kemudian diikuti oleh Alisha Locita Maharani dari kelas 9ICT, Sherly Nada Novanka dari kelas 9ICT, Jasmine Mikaillah Rahman dari kelas 9 ICT, serta Muhammad Zia Ulhaq dari kelas 9A dengan hafalan masing-masing satu juz.

Setelah pembacaan prestasi, acara selanjutnya yaitu penayangan film pendek karya peserta didik kelas 9ICT kemudian dilanjutkan dengan prosesi wisuda dan pemberian simbolik kelulusan. Acara ini ditutup dengan berfoto bersama.

IMM Membangun Kebangsaan

IMM Membangun Kebangsaan

Fokal Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta menggelar dialog kebangsaan “Sosialisasi 4 Pilar MPR RI. Peran Kebangsaan Muhammadiyah” pada hari Ahad, 28 Juni 2026 di Hotel Burza Yogyakarta. Fokal IMM merupakan Forum Keluarga Alumni Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah.

Hadir dalam acara tersebut, Prof. Dr. H. Irwan Akib, M.Pd yang mewakili PP Muhammadiyah. Dr. H. Abidin Fikri, SH, MH dari unsur Wakil Ketua Badan Sosialisasi MPR RI. Dr. Yusuf Warsyim, S.Ag, MH, Sekjen Fokal IMM dan Dr. Ikhwan Ahada, MA, Ketua PWM DIY.

Dalam sambutannya, Ikhwan Ahada mengharapkan agar Fokal mesti menyerap esensi dari semboyan dan cita-cita yang melekat. Yaitu Anggun dalam moral, unggul dalam intelektual. Alumni yang kini berdiaspora di berbagai sektor strategis hingga kemanusiaan global.

Irwan Akib merasa bangga dengan kesuksesan kader IMM di pelbagai daerah, yang kini menempati berbagai kursi strategis, seperti komisioner KPU, Bawaslu, Kompolnas, hingga jajaran kementerian. Bagi Irwan, yang terberat adalah ujian moral, bukan pada teknis pekerjaan. Dari hulu dari segala bentuk penyalahgunaan kekuasaan (abuse of power) adalah ketidakmampuan seorang pejabat dalam membatasi konflik kepentingan (conflict of interest). Kepada seluruh kader, singkirkan kepentingan pribadi atau golongan. Selalu utamakan kepentingan umum dan bangsa di atas segalanya.

Sementara, Wakil Ketua Badan Sosialisasi MPR RI Abidin Fikri menekankan bahwa Pancasila dan UUD 1945 tidak boleh hanya dilihat sebatas idealitas atau rule of law (aturan hukum) semata. Pancasila harus membumi menjadi rule of ethics (sumber etika) dan diwujudkan menjadi realitas dalam tata kelola negara.

Bangunan moralitas dan profesionalisme dalam penyelenggaraan negara harus terus ditegakkan dan dirawat, terutama oleh para kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Tantangan terbesar bagi kader-kader yang berdiaspora di ranah publik bukanlah sekadar bagaimana mendapatkan kekuasaan, melainkan bagaimana mempertanggungjawabkannya.

Abidin memandang, IMM sebagai organisasi otonom yang berkemajuan dan pro-aktif dalam mengurus ihwal kebangsaan dan keindonesiaan.

IMM itu adalah kader bangsa. Kader bangsa itu posisinya di mana saja boleh, baik di parlemen, birokrasi, komisi-komisi negara, hingga akademisi. Sehingga, kader IMM jangan sampai jengah untuk berdiaspora lebih membuana. Lebih-lebih berkecimpung di dunia perpolitikan. “Kalau Anda mampu, tunjukkan kapasitas Anda,” tegas Abidin.

Acara dilanjutkan dengan pemilihan pengurus fokal untuk masa bakti 2026 – 2031. Dari 130 calon, terpilih Deni Asy’ari, Direktur Utama PT Syarikat Cahaya Media / Suara Muhammadiyah terpilih sebagai ketua. Sementara Sobar M. Johari sebagai sekretaris dan bendahara dipegang oleh Yulianto Neri.

Hunting Tourist: Cara Seru Belajar Bahasa Inggris

Hunting Tourist: Cara Seru Belajar Bahasa Inggris

Salah satu program dari kelas bahasa SMP Muhammadiyah 4 Yogyakarta adalah praktek speaking atau berbicara dengan para pelancong dari luar negeri. Kegiatan ini disebut Hunting Tourist atau Native Hunt. Siswa kelas bahasa (7C) melaksanakan kegiatan ini di kawasan Kampung Wisata Taman Sari, Yogyakarta, pada hari Rabu, 17 Juni 2026 dipandu oleh guru-guru.

Pada kegiatan ini siswa dibagi menjadi beberapa kelompok yang terdiri atas 3-4 orang siswa. Setiap kelompok ditugaskan untuk mencari serta berdialog dengan turis asing. Komunikasi diawali dengan sapaan kemudian dilanjutkan dengan mengajukan pertanyaan seperti pengalaman narasumber di Indonesia, karakteristik negara asal, hobi narasumber, hingga culture shock di Indonesia.

Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris, memahami kebiasaan dan budaya dari negara lain, serta meningkatkan rasa percaya diri. Para siswa mengaku sangat antusias dengan kegiatan ini. Hunting Tourist menjadi pengalaman menantang sekaligus menyenangkan bagi siswa.

Assesmen Sumatif Akhir Tahun SMP Muhammadiyah 4 Yogyakarta T.A. 2025/2026

Assesmen Sumatif Akhir Tahun SMP Muhammadiyah 4 Yogyakarta T.A. 2025/2026

kid write a book in the classroom.

Assesmen Sumatif Akhir Tahun (ASAT) merupakan salah satu tes yang digunakan sebagai penentu kenaikan kelas untuk siswa kelas VII dan kelas VIII. SMP Muhammadiyah 4 Yogyakarta mengadakan kegiatan penilaian ASAT Tahun Ajaran 2025/2026 pada tanggal 03 Juni 2026 hingga 12 Juni 2026. Penilaian ini wajib diikuti oleh seluruh siswa kelas VII dan VIII di SMP Muhammadiyah 4 Yogyakarta.

Penilaian ASAT tahun ini memanfaatkan perangkat lunak Aplikasi Ujian Muhammadiyah (AUM) yang sudah diunduh di ponsel masing-masing siswa. Untuk mencegah kecurangan, para siswa diwajibkan menginstall aplikasi Safe Exam Browser. Selain perangkat lunak tersebut, untuk mata pelajaran Informatika dan Seni Budaya, sekolah kami memanfaatkan perangkat lunak Geschool. Untuk perangkat ini, aplikasi pengamannya berupa Geschool Secure Mode untuk pengguna android serta Safe Exam Browser untuk pengguna Iphone.

Para siswa mengaku antusias. Sebagian besar siswa menyampaikan bahwa kegiatan ini terasa seperti ‘tantangan seru’ untuk mengetes hasil belajar mereka satu tahun ini. Sebagian siswa mengungkapkan alasan yang tidak kalah unik dan jujur yaitu mereka senang pulang lebih awal. Apapun itu, kegiatan penilaian Assesmen Sumatif Akhir Tahun (ASAT) Tahun Ajaran 2025/2026 di SMP Muhammadiyah 4 Yogyakarta berjalan dengan lancar.

Di Tengah Banjir Informasi, Anak-Anak Kehilangan Kedalaman

Di Tengah Banjir Informasi, Anak-Anak Kehilangan Kedalaman

— Arif Jamali Muis —

Melanjutkan tulisan pertama berjudul “Kita Tidak Kekurangan Informasi, Tapi Kehilangan Makna,” saya ingin kembali membaca kegelisahan Yuval Noah Harari dalam Nexus: A Brief History of Information Networks from the Stone Age to AI melalui realitas pendidikan kita hari ini. Jika pada tulisan sebelumnya saya membahas banjir informasi dan krisis makna di ruang-ruang belajar, maka pada tulisan kedua ini saya ingin mengajak kita melihat persoalan lain yang tidak kalah penting: di tengah arus informasi yang bergerak semakin cepat, anak-anak kita perlahan kehilangan kedalaman dalam belajar. Hari ini, dunia bergerak dengan ritme yang belum pernah dialami generasi-generasi sebelumnya. Informasi datang bertubi-tubi tanpa jeda. Dalam hitungan menit, seseorang bisa melihat ratusan video, membaca puluhan komentar, berpindah dari satu topik ke topik lain, lalu melupakan semuanya beberapa saat kemudian. Kita hidup dalam budaya yang terus mendorong manusia untuk bergerak cepat, bereaksi cepat, dan berpikir cepat.

Anak-anak kita tumbuh di tengah situasi itu. Mereka lahir ketika internet sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Mereka terbiasa dengan layar yang terus menyala, notifikasi yang tak pernah berhenti, dan algoritma yang selalu tahu apa yang ingin mereka lihat berikutnya. Dunia digital membentuk cara mereka menerima informasi, cara mereka memberi perhatian, bahkan perlahan membentuk cara mereka belajar. Di satu sisi, ini tentu membawa banyak peluang. Pengetahuan menjadi lebih mudah diakses. Belajar tidak lagi terbatas ruang kelas. Anak-anak bisa mengetahui banyak hal yang dulu sulit dijangkau. Tetapi di balik kemudahan itu, ada sesuatu yang perlahan hilang: kemampuan untuk tinggal lebih lama dalam satu pemikiran.

Yuval Noah Harari dalam Nexus menjelaskan bahwa manusia modern hidup dalam jaringan informasi yang sangat kompleks. Persoalannya hari ini bukan lagi kekurangan informasi, melainkan ketidakmampuan manusia mengolah limpahan informasi itu menjadi pemahaman yang bermakna. Informasi bergerak jauh lebih cepat daripada kemampuan manusia untuk merenunginya. Dan mungkin, itulah yang sedang terjadi di ruang-ruang kelas kita. Kita mulai melihat anak-anak yang mampu menemukan jawaban dengan sangat cepat, tetapi sulit menjelaskan alasan di balik jawabannya. Mereka terbiasa membaca singkat, tetapi kesulitan bertahan membaca panjang. Mereka cepat mengetahui sesuatu, tetapi tidak cukup lama memikirkan sesuatu.

Budaya scrolling perlahan membentuk budaya belajar. Anak-anak terbiasa berpindah sebelum sempat mendalami. Mereka melihat banyak hal, tetapi tidak benar-benar menyelami apa pun. Perhatian mereka mudah terpecah. Konsentrasi menjadi pendek. Bahkan membaca satu halaman penuh tanpa terdistraksi mulai menjadi tantangan tersendiri. Ironisnya, sekolah kadang tanpa sadar ikut memperkuat situasi ini. Pembelajaran masih sering terjebak pada target penyelesaian materi, bukan kedalaman pemahaman. Siswa didorong cepat menyelesaikan tugas, cepat menjawab soal, cepat memperoleh nilai. Kecepatan menjadi ukuran keberhasilan, sementara proses berpikir perlahan mulai kehilangan tempat.

Padahal, belajar sejatinya tidak pernah lahir dari ketergesaan.

Pemahaman membutuhkan waktu. Ia tumbuh melalui perhatian, pengulangan, dialog, pengalaman, dan refleksi. Seseorang tidak benar-benar memahami hanya karena ia pernah membaca. Pemahaman lahir ketika pengetahuan diolah, dipertanyakan, dikaitkan dengan kehidupan, lalu dimaknai secara personal. Di sinilah saya melihat mengapa Pembelajaran Mendalam menjadi sangat relevan bagi pendidikan kita hari ini.

Dalam Naskah Akademik Pembelajaran Mendalam, ditegaskan bahwa salah satu tantangan pendidikan Indonesia adalah masih dominannya pembelajaran dangkal: pembelajaran yang terlalu bertumpu pada hafalan, ceramah satu arah, dan belum cukup menumbuhkan kemampuan berpikir kritis peserta didik. Bahkan muncul fenomena yang sangat mengusik: bersekolah tetapi tidak belajar. Kalimat itu sesungguhnya menggambarkan krisis yang sedang kita hadapi. Anak hadir di sekolah, mengikuti pelajaran, mengerjakan tugas, bahkan memperoleh nilai baik. Namun proses memahami secara mendalam belum tentu benar-benar terjadi. Pengetahuan sering berhenti di permukaan. Belajar menjadi aktivitas administratif, bukan perjalanan intelektual dan reflektif.

Karena itu, Pembelajaran Mendalam hadir bukan sekadar sebagai perubahan metode pembelajaran. Ia sesungguhnya merupakan respons terhadap perubahan zaman. Pembelajaran Mendalam mengajak peserta didik belajar secara berkesadaran (mindful), bermakna (meaningful), dan menggembirakan (joyful). Peserta didik tidak hanya diminta mengetahui sesuatu, tetapi memahami, mengaplikasikan, dan merefleksikannya dalam kehidupan nyata.

Pendekatan ini penting karena dunia digital hari ini cenderung mendorong manusia hidup di permukaan. Semua serba cepat, serba singkat, serba instan. Sementara Pembelajaran Mendalam justru mengajak anak berhenti sejenak, memberi perhatian penuh, lalu menyelami pengetahuan secara lebih utuh.

Dalam konteks ini, guru menjadi semakin penting. Di era ketika informasi tersedia di mana-mana, peran guru bukan lagi sekadar penyampai materi. Teknologi bahkan dapat melakukannya lebih cepat. Tetapi teknologi tidak dapat menggantikan kemampuan guru dalam membangun kedalaman manusia. Guru membantu anak belajar berpikir tenang di tengah dunia yang gaduh. Membantu mereka membaca lebih sabar di tengah budaya serba singkat. Membantu mereka bertanya lebih dalam di tengah banjir jawaban instan. Guru bukan sekadar penghubung informasi. Guru adalah penjaga kedalaman. Dan mungkin, itulah tantangan terbesar pendidikan masa depan: bukan bagaimana membuat anak memperoleh lebih banyak informasi, tetapi bagaimana menjaga mereka tetap mampu berpikir mendalam di tengah dunia yang bergerak terlalu cepat. Karena pada akhirnya, masa depan tidak akan dimenangkan oleh mereka yang paling cepat menemukan jawaban, melainkan oleh mereka yang mampu memahami dunia secara lebih dalam, lebih tenang, dan lebih manusiawi

Kita Tidak Kekurangan Informasi, Tapi Kehilangan Makna

Kita Tidak Kekurangan Informasi, Tapi Kehilangan Makna

— Arif Jamali Muis —

Beberapa waktu terakhir, saya menuntaskan membaca buku Nexus: A Brief History of Information Networks from the Stone Age to AI karya Yuval Noah Harari. Buku itu tidak hanya memberi pengetahuan baru, tetapi juga meninggalkan kegelisahan yang sulit diabaikan. Dari kegelisahan itulah, saya terdorong untuk menuliskan tulisan seri sederhana ini —mencoba membaca ulang dunia pendidikan kita melalui lensa yang ditawarkan Harari, lalu mengaitkannya dengan gagasan pembelajaran mendalam sebagai pendekatan pedagogi. Sebab semakin saya merenung, semakin terasa bahwa apa yang dibahas Harari tentang jaringan informasi sebenarnya tidak jauh dari apa yang sedang terjadi di ruang-ruang kelas kita hari ini.

Apa yang terjadi di Ruang Kelas?

Pagi hari di sekolah-sekolah kita tidak lagi kekurangan informasi. Di tangan siswa, dunia seakan terbuka tanpa batas. Apa pun bisa dicari, ditemukan, dan dijelaskan dalam hitungan detik. Guru belum selesai menjelaskan, mesin pencari sudah memberi jawaban. Bahkan sebelum pertanyaan benar-benar dipahami, jawaban telah tersedia.

Sekilas, ini tampak seperti kemajuan besar. Dan memang demikian. Tetapi di balik kemudahan itu, ada pertanyaan yang pelan-pelan mengusik: mengapa di tengah kelimpahan informasi ini, kita justru semakin sering menemukan pemahaman yang dangkal?

Inilah paradoks zaman kita. Harari dalam Nexus menjelaskan bahwa sejak awal, manusia hidup dan berkembang dalam jaringan informasi. Peradaban tidak dibangun hanya oleh kekuatan fisik atau kecerdasan individu, melainkan oleh kemampuan manusia untuk menciptakan, menyebarkan, dan mempercayai informasi bersama—dari cerita sederhana, mitos, hingga sistem yang kompleks seperti hukum, negara, dan ilmu pengetahuan.

Namun, jaringan informasi yang dulu memperkuat manusia, hari ini berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih kompleks. Informasi tidak lagi sekadar menghubungkan, tetapi juga membanjiri. Ia tidak hanya memperkaya, tetapi juga membingungkan. Ia tidak hanya membantu kita memahami dunia, tetapi kadang justru menjauhkan kita dari makna.

Kita hidup di era di mana informasi bergerak lebih cepat daripada kemampuan kita untuk merenungkannya. Lihatlah bagaimana anak-anak kita belajar hari ini. Mereka mampu menjawab banyak soal, tetapi sering kesulitan menjelaskan dengan bahasa mereka sendiri. Mereka hafal konsep, tetapi gagap ketika harus mengaitkannya dengan realitas. Mereka tahu banyak hal, tetapi tidak selalu benar-benar memahami.

Sekolah, dalam banyak hal, tanpa sadar ikut terjebak dalam arus ini. Belajar masih sering dimaknai sebagai proses mengumpulkan informasi. Semakin banyak tahu, semakin dianggap pintar. Nilai menjadi ukuran utama, bukan kedalaman pemahaman. Kecepatan menjadi kebanggaan, bukan ketelitian berpikir.

Padahal, jika kita jujur, persoalan pendidikan hari ini bukan lagi pada akses informasi—itu sudah terbuka lebar. Persoalannya justru bergeser: bagaimana membantu siswa memahami, bukan sekadar mengetahui.

Di titik ini, kita perlu berhenti sejenak dan bertanya: untuk apa sebenarnya kita belajar? Apakah sekadar untuk menjawab soal? Apakah untuk mengejar nilai? Ataukah untuk memahami dunia dan menemukan makna di dalamnya?

Pertanyaan ini menjadi semakin relevan ketika kita menyadari bahwa informasi yang kita konsumsi hari ini tidak netral. Ia membentuk cara kita berpikir, memengaruhi keputusan kita, bahkan perlahan membentuk siapa kita. Jika kita tidak memiliki kemampuan untuk memilah, memahami, dan merefleksikan informasi, maka kita tidak lagi mengendalikan pengetahuan. Kitalah yang justru dikendalikan olehnya.

Di sinilah saya melihat pentingnya pembelajaran mendalam. Pembelajaran mendalam bukan sekadar istilah yang terdengar “baru” dalam diskursus pendidikan. Ia adalah kebutuhan yang lahir dari konteks zaman. Ia mengajak kita kembali pada hakikat belajar: memahami secara utuh, mengaitkan pengetahuan dengan pengalaman, dan merefleksikan makna di balik apa yang dipelajari.

Dalam pembelajaran mendalam, belajar tidak berhenti pada “tahu apa”, tetapi bergerak ke “mengapa” dan “bagaimana”. Siswa tidak hanya diminta memahami konsep, tetapi juga mengaplikasikannya dalam kehidupan nyata. Mereka tidak sekadar menerima informasi, tetapi dilatih untuk mempertanyakan, mengolah, dan memaknainya. Dengan kata lain, pembelajaran mendalam berusaha menjawab krisis makna yang sedang kita hadapi.

Namun, perubahan ini tidak sederhana. Ia menuntut pergeseran cara pandang yang cukup mendasar—terutama tentang peran guru. Di era ketika informasi tersedia di mana-mana, guru tidak lagi bisa hanya berperan sebagai penyampai pengetahuan. Peran itu, jujur saja, sudah diambil alih oleh teknologi. Mesin pencari, video pembelajaran, dan kecerdasan buatan mampu menyajikan informasi dengan lebih cepat dan variatif.

Tetapi ada satu hal yang tidak bisa digantikan oleh teknologi: kemampuan untuk menuntun makna. Guru, dalam konteks ini, justru menjadi semakin penting. Bukan sebagai sumber informasi, tetapi sebagai fasilitator pemahaman. Guru adalah mereka yang membantu siswa berhenti sejenak di tengah derasnya arus informasi. Mengajak mereka berpikir, bukan sekadar menjawab. Mengajak mereka memahami, bukan sekadar menghafal. Mengajak mereka merefleksikan pengalaman belajar mereka.

Guru adalah penjaga kedalaman di tengah dunia yang serba dangkal.

Tentu ini bukan pekerjaan mudah. Ia menuntut kesiapan pengetahuan, keterampilan, dan sikap guru itu sendiri. Guru perlu memahami apa itu pembelajaran mendalam, bagaimana menerapkannya, dan—yang tidak kalah penting—meyakini bahwa pendekatan ini memang diperlukan. Tanpa itu, pembelajaran mendalam hanya akan menjadi jargon, bukan praktik nyata di kelas.

Pada akhirnya, seri tulisan sederhanan ini adalah upaya kecil untuk mengajak kita semua—terutama para pendidik—merenungkan kembali arah pendidikan kita. Nexus membantu kita memahami bagaimana dunia berubah melalui jaringan informasi. Tetapi pendidikanlah yang menentukan bagaimana manusia bertahan dan bermakna di dalam perubahan itu.

Kita mungkin tidak bisa menghentikan banjir informasi. Dan memang tidak perlu. Tetapi kita bisa memastikan bahwa di tengah arus itu, siswa kita tidak hanyut tanpa arah. Kita bisa mengajarkan mereka untuk menyelam lebih dalam.

Karena pada akhirnya, masa depan tidak akan dimenangkan oleh mereka yang paling cepat menemukan jawaban, tetapi oleh mereka yang paling mampu memahami pertanyaan.

Dan mungkin, di situlah letak harapan pendidikan kita hari ini: bukan pada seberapa banyak informasi yang kita berikan, tetapi pada seberapa dalam makna yang berhasil kita bangun