Ngelmu iku Kalakone Kanthi Laku

Ngelmu iku Kalakone Kanthi Laku

Ngelu iku

Kalakone kanthi laku

Lekase lawan kas

Tegese kas nyantosani

Setya Budya pengekese dur angkara

(Serat Wedhatama, Pupuh III: Pucung bait ke-1)

Ilmu (hakikat) itu, diraih dengan cara menghayati dalam setiap perbuatan, dimulai dengan kemauan, artinya, kemauan membangun kesejateraan terhadap sesame, kesadaran budi dengan menaklukkan semua angkara

Ngelmu iku, kelakone kanthi laku artinya itu diperoleh dengan cara belajar. Ilmu tidak dapat didapatkan begitu saja. Seseorang harus berusaha dengan tekun dan sungguh-sungguh untuk mendapatkan ilmu. Semakin banyak ilmu yang kita peroleh semakin luas wawasan berpikir kita dan semakin mudah kita mencari alternatif solusi. Kita dapat belajar secara otodidak, berguru pada orang lain maupun membaca buku-buku.

Ilmu pun jangan hanya diserap diserap teorinya saja. Tetapi juga dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari (kelakone kanthi laku), untuk kesejahteraan bersama. Atau ilmu itu dapat terwujud apabila dijalankan dalam kehidupan. Dimulai dari kemauan-kemauan inilah yang membuat sentausa.

Seseorang yang berilmua sejati memiliki kesadaran budi untuk menaklukkan hawa nafsu. Nafsu angkara murka di dalam diri selalu berkumpul dengan kelompok nafsu, sehingga semakin membesar atau menguasai diri. Bila dibiarkan, berkembang menjadi bahaya. Lain halnya dengan yang sudah gemar kepada hal-hal yang rohaniah, Nampak selalu mengampuni segala kesalahan, bersikap sabar karena berusaha berbaik budi.

Disadur dari buku “Pitutur Luhur Jawa. Ajaran hidup dalam serat Jawa” karya Asti Musman

Orang Kalang

Orang Kalang

Andai Anda berjalan melewati sebuah perkampungan, yang rumahnya terbuat dari kayu, lengkap dengan ukiran yang indah, saya pastikan untuk saat ini sudah jarang terlihat. Kecuali di daerah tertentu, seperti Jepara, Kudus dan sekitarnya. Tetapi, bila menemui di sebuah pemukiman, maka itu adalah pengecualian. Mereka yang tinggal di rumah-rumah tersebut, adalah orang yang menjunjung tinggi kebudayaan nenek moyang mereka.

Di Kotagede misalnya. Terutama di kampung Tegal Gendu, masih bertengger berjejer rapi rumah kayu yang diukir demikian ritmis. Seni ukirnya khas, berbeda kalau dibandingkan dengan di Kawasan Jepara. Ornamennya terlihat njawani. Tak beda jauh dengan seni kraton yang cantik itu.

Kalau harus melihat yang original, tentu bukanlah perkara yang mudah. Bagaimanapun, kekuatan kayu ada batasnya. Beberapa bagian dari rumah tersebut sudah mengalami restore atau perbaikan. Bahkan mungkin juga warna catnya juga telah menyesuaikan dengan perkembangan jaman.

Pertanyaanya, siapa sebenarnya tukang-tukang kayu yang membangun rumah itu? Padahal, kalau diukur dengan umur, saat itu belum ada ilmu geometri sebagai dasar untuk melukis gambar-gambar yang simetris.  

Omah Kalang atau Rumah Kalang, demikian orang menyebut. Kalang artinya “batas”. Artinya komunitas mereka sengaja dibatasi dengan dalih orang kalang itu liar, sehingga dapat membahayakan masyarakat setempat.  

Literatur sejarah, istilah kalang dapat dijumpai pada masa kepemimpinan Raja Dyah Baletung (898 – 910 M) di Bojonegoro. Terbukti, hingga sekarang, di Kawasan Kedewan Bojonegoro memang banyak dijumpai peninggalan kalang.

Hermanus Johannes de Graff dan Theodoor Pigeaud menulis dalam buku Kerajaan-kerjaan Islam di Jawa: Peralihan dari Majapahit ke Mataram (1974), menyebutkan bahwa pada abad ke-17, kaum Kalang di daerah berhutan di Jawa Tengah dan Jawa Timur mempunyai pemimpin-pemimpin sendiri. Mungkin Kalang sudah sejak zaman pra Islam yang mendiami hutan-hutan. Tapi mereka, terus menerus terdesak. Sejalan dengan didirikannya perkotaan, mereka terdesak masuk hutan.

Kamus Poerwodarminto, menyebutkan bahwa Kalang berasal dari kaalang yang berarti dikelilingi atau dikepung. Mereka berprofesi khusus sebagai tukang kayu, atau yang mengolah kayu menjadi sebuah bangunan. Orang Kalang dipercaya memiliki kemampuan dalam hal perkayuan, mengenal banyak jenis pohon, serta mahir memilih pohon yang baik untuk bangunan. Sehingga banyak yang memakai jasanya, khususnya bagi yang akan membuat rumah tempat tinggal.   

Bila benar bahwa orang Kalang berasal dari wilayah Bojonegoro, maka tidak heran. Karena daerah itu, memanjang dari timur hingga ke barat, sampai Tegal, terkenal dengan hutan kayu jati. Masyarakat lebih mengenal alas roban.   

Tidak semua orang Kalang terdesak masuk hutan. Di Kotagede, Yogyakarta, Sultan Agung menggunakan keahlian orang Kalang untuk membangun keraton. Orang kalang diberi kebebasan bermukim di Kotagede. Bahkan, ditemukan juga komunitasnya, dan mereka dikenal sebagai saudagar kaya yang memiliki rumah-rumah mewah.

Mitsuo Nakamura, dalam bukunya Bulan Sabit MUncul dari Balik Pohon Beringin (1983), mencatat bahwa, orang Kalang termasuk orang kaya. Saking kayanya, orang Kalang terlihat mencolok dari rumah-rumah mewah yang mereka tinggali. Kebesaran kekayaan orang Kalang yang trekumpul dengan mudah dapat dikenali dengan melihat sekitar lusinan rumah-rumah besar bak istana yang dibangun selama dasawarsa awal abad ke-20.

Bahan bacaan: Majalah Intisari, Juni 2023

Ranting itu Penting. Cabang itu Terpandang

Ranting itu Penting. Cabang itu Terpandang

Kalau ada orang Muhammadiyah yang tidak suka kemajuan, itu jelas bukan orang Muhammadiyah. KHA Dahlan menghendaki agar Muhammadiyah senantiasa berfungsi sebagau sumbu kemajuan, Demikian Prof. Din Samsudin pernah bertutur.

Dengan semboyan Islam berkemajuan sebagaimana yang dicanangkan sang pendiri, Muhammadiyah seharusnya maju, berada dalam di depan komunitas atau kelompok masyarakat lainnya. Ini seharusnya menjadi watak dasar setiap aktivis Muhammadiyah. Setiap gerak persyarikatan makin bergairah dalam beramal. Dengan demikian, Muhammadiyah makin lama makin maju.

Tentu saja, bagi Muhammadiyah, maju tidak asal maju, tapi maju yang berkualitas. Harus berpijak pada al Qur’an “Berlomba-lombalah dalam kebajikan”. Ayat ini kita ibaratkan sebagai sebuah pijar yang tak lekang oleh waktu. Dorongan untuk motivasi. Sehingga kuncinya bukan pada perlombaannya, tapi pada keunggulan dari kebaikan kita.

Di antara begitu banyak karya Muhammadiyah yang unggul, terasa sekali pada kehadiran banyak Cabang atau PCM yang memiliki keunggulan dan prestasi. Hal ini pasti dipacu oleh ruh-ruh al Qur’an yang dimanifestasikan dalam gerakan nyata. Apalagi, di dorong oleh lingkungan daerah yang memiliki otonomi. Pada era otonomi itulah, roda penggerak masyarakat berada di tingkat kota atau kabupaten. Akan tetapi pusat pertumbuhannya justru terletak di kecamatan dan kelurahan. Disitulah keberadaan PCM/PCA dan PRM/PRA.

Sebagaimana sebuah grafik yang bersifat rutinitas, ada ritme menanjak dan ada pula jalan menurun. Ini terlihat sekali pada saat-saat menjelang Muktamar. Disitulah gemuruh warga Muhammadiyah. Di segala lini Pimpinan terasa geliat organisasinya. Mulai dari aneka lomba keorganisasian, kajian-kajian, atau konsolidasi organisasi. Disatu sisi tampak menggembirakan. Namun di posisi lain tampak kelesuan akibat rutinitas.

Untuk menjaga serta meningkatkan keberadaan persyarikatan, kita harus secara terus menerus berfastabuqul khairat dan bersikap al-ghirrah ‘ala-ddin, yaitu mengambil pelajaran dari kemajuan orang lain. Kemudian kita terapkan dan jalankan dalam hidup kita. Cara seperti ini, sangat penting bagi warga Muhammadiyah. Sebab, melalui kebaikan, inovasi, dan kerasi bagi kepentingan umat dan kemanusiaan secara lebih luas.

Bahan bacaan : “Muhammadiyah untuk semua” karya Prof. DR. HM Din Samsudin, MA

Revivalisme model Muhammadiyah

Revivalisme model Muhammadiyah

Revivalisme berasal dari kata revival yang artinya kebangkitan kembali, kebangunan baru. Bangkit kembali dalam konteks keagamaan, sosial, maupun budaya. Adapun kata revivalis adalah orang atau kelompok yang melakukan.

Secara sederhana, revivalisme merujuk pada periode atau gerakan kebangunan rohani dalam suatu komunitas agama, dimana terjadi peningkatan signifikan dalam minat, komitmen dan pengalaman religius di antara anggotanya. Hal ini ditandai dengan konversi masal, pembaharuan moral dan etik, serta munculnya semangat baru untuk pelayanan dan misi.

Runtuhnya Bani Abbasiyah di Baghdad pada tahun 1258, setelah bercokol selama 500 tahun akibat dari serangan Mongol yang dipimpin Hulagu Khan, merupakan peristiwa yang penting untuk kebangkitan umat Islam. Revivalisme dalam Islam berarti bangkit kembali, atau usaha menghidupkan kembali spirit keislaman dari kejatuhan atau kemunduran dengan mengajarkan kembali sesuai yang asli, yang dianggap telah berubah.

Untuk menunjukkan bahwa revivalisme, dapat dijadikan pembanding, bahwa revivalisme lebih dominan untuk komunitas keagamaan. Pada abad ke-18 ada tiga peristiwa yang patut dicatat.

Pertama, Kebangunan Besar (The Great Awakening) di Amerika Utara, yaitu serangkaian kebangunan rohani Protestan yang memiliki dampak besar pada pembentukan identitas Amerika dan mendorong semangat individualisme religius.

Kedua, Gerakan Metodis di Inggris, yang dipimpin oleh John Wesley. Gerakan ini menekankan pengalaman pribadi akan kasih karunia Tuhan dan mendorong pelayanan sosial yang aktif.

Ketiga, Gerakan Wahabi dalam Islam, didirikan oleh Muhammad bin Abdul Wahhab (1703-1792). Sebuah gerakan reformasi di Jazirah Arab yang menyerukan pemurnian ajaran Islam dari inovasi-inovasi yang dianggap bid’ah.

Muhammadiyah sebagai gerakan Islam tak luput dari atmosfir revivalisme. KHA Dahlan, sebagai pendiri Muhammadiyah, lebih memilih jalur dari Jamaluddin al Afghani, Muhammad Abduh, dan Rasyid Ridha dibanding dengan model Muhammad bin Abdul Wahab yang puritan. Gerakan wahabi yang eksklusif, menerapkan ajaran sesuai teks (tanpa kaidah Bahasa, ulumul qur’an, ulumul hadits), sering melontarkan tuduhan tahayul, bid’ah, adalah pemikiran yang sempit.

Ada yang menyebut bahwa Muhammadiyah sebagai organisasi yang menggerakkan “revivalis liberal”. Artinya berbeda dengan komunitas lain yang juga sama-sama penyandang revivalisme Islam. Daliar Noer menamakan Muhammadiyah sebagai “Islam modern”.

Muhammadiyah, meskipun sering ditautkan dengan gerakan pembaharua Islam sebelumnya, termasuk dengan Muhammad Abduh, secara khusus memiliki karakteristik yang berbeda. Muhammadiyah lebih maju, karena gerakan Islam ini memelopori lahirnya institusi sosial modern. Selain lembaga pendidikan, Panti Asihan Yatim (PAY), mendirikan organisasi Islam perempuan Aisyiyah yang tidak ada di belahan dunia Islam manapun kala itu.

Saat ini ada 31 badan pembantu sesui dengan keputusan muktamar ke-48, dengan rincian 13 majelis, 15 lembaga dan 3 biro, untuk membantu Muhammadiyah untuk mencapai tujuannya. Meskipun redaksi selalu berubah, Muhammadiyah tetap berkomitmen untuk selalu menjunjung tinggi Agama Islam.

Bahan bacaan :

Gerakan Islam Berkemajuan karya Prof. Haedar Nashir

Sejarah Islam: Daulah Umawiyyah dan Abbasiyah

    Semar

    Semar

    Dia adalah seorang yang kontroversial. Dia bukan seorang (layaknya) pejabat. Bukan seorang penasehat, tetapi sering dimintai nasehat. Dianggap lemah, namun pada saat kritis akan muncul sebagai penyelamat. Padahal dia adalah seorang rakyat biasa. Hidup di desa bersama dengan masyarakat golongan bawah. Dia memposisikan diri sebagai hamba atau pelayan.

    Dalam setiap alur cerita, dia bukanlah sebagai tokoh utama yang tampil dominan penuh pesona. Tak ada kaitan langsung dengan lakon. Meskipun demikian kehadirannya mempunyai daya pesona tersendiri sebagai penghibur di kala sendu, pengundang tawa. Selalu disambut dengan antusias dengan frame goro-goro.

    Sungguhpun demikian, dia adalah penjelmaan dewa yang bertugas memberi motivasi kepada para satria Pandawa. Lima sekawan pengawal perdamaian, penekuk sifat durjana, memberi kemakmuran dan kesejahteraan. 

    Siapakah sebenarnya Semar?

    Ditinjau dari alur sejarah, Semar dan anak-anaknya hidup dan mengabdi sejak generasi Sakutrem, Sakri, Manumayasa, Palasara hingga Abiyasa dan Arjuna, tanpa mengalami pergantian generasi sebagai abdi dalem. Enam generasi, telah dilalui dengan penuh dedikasi.

    Andai tercatat dalam dokumen, maka telah tertulis berlembar-lembar tentang perjuangan, kebangkitan, kemegahan sekaligus keruntuhan. Berbagai negeri telah dilewati, mengenal karakter penghuninya, peristiwa demi peristiwa telah dilakoninya. Karenanya, Semar dan anak-anaknya mendapat julukan “Panakawan”. Pana artinya mengetahui, memahami, memaklumi, namun bukan sekedar itu. Kawan artinya teman, namun bukan hanya sekedar kawan.

    Nama Semar konon berasal dari bahasa Arab, Ismar yang dalam pengucapan dialek Jawa menjadi Semar. Ismar berarti paku yang fungsinya sebagai penguat. Semar juga dijuluki Badranaya. Badra berarti rembulan, naya artinya wajah atau nayantaka, sedangkan taka berarti pucat. Hal ini menunjukkan Semar memiliki watak seperti rembulan dengan wajah pucat. Artinya, Semar tidak mengumbar hawa nafsu.

    Dipihak lain, ada pula yang menafsirkan bila Semar adalah tokoh misterius. Antara ada dan tiada. Dalam pengertian abstrak, Semar digambarkan wujud yang tidak berbangun. Tidak mirip laki-laki maupun perempuan. Tidak jelas atau samar-samar.

    Secara harfiah, arti samar-samar sebenarnya juga mengandung ajaran bahwa tidak ada pihak kelompok yang mutlak benar. Demikian pula tidak ada komunitas yang selalu salah. Oleh karenanya, dalam setiap pertunjukan pewayangan, nasehat-nasehat Semar kepada Pandawa, tidak seluruhnya ditaati. Bahkan sering kita lihat, petunjuk Semar terkadang tidak diikuti.

    Sumber bacaan: “Hikmah Abadi” karya Barnas Sumantri dan Dr. Kanti Walujo