Konferensi Pendidikan Indonesia

Konferensi Pendidikan Indonesia

Rabu – Kami, 1 – 2 Juli 2026 bertempat di Auditorium Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) berlangsung kegiatan Konferensi Pendidikan Indonesia (KPI) tahun 2026. KPI adalah sebuah ruang kolaborasi nasional bagi para pemangku kepentingan pendidikan untuk belajar bersama, berbagi praktik baik, memperkuat jejaring, serta merumuskan rekomendasi kebijakan guna mendorong peningkatan kualitas pendidikan.

Tahun 2026 ini, Pemerintah Kabupaten Sleman berkesempatan menjadi tuan rumah penyelenggaraan KPI, yang bekerja sama dengan Lingkar Daerah Belajar (LDB). Kolaborasi ini didasarkan pada kesamaan visi dalam memperkuat peran daerah sebagai motor penggerak transformasi pendidikan dan memperluas dampak praktik-praktik baik.

Latar belakang kehadiran KPI

  1. Memperkuat Pemelajaran Antar Daerah
  2. Mengkonsolidasikan Gerakan Perubahan Pendidikan Berbasis Daerah.
  3. KPI menjadi titik temu berbagai pelaku perubahan, baik dari sektor publik, masyarakat sipil, komunitas, maupun dunia usaha, untuk mensinergikan upaya dan agenda transformasi pendidikan
  4. Mendukung Perencanaan Pembangunan Daerah
  5. Memfasilitasi Advokasi Nasional Berbasis Pengalaman Nyata

Beberapa agenda kegiatan yang terangkum dalam acara tersebut antara lain

IMM Membangun Kebangsaan

IMM Membangun Kebangsaan

Fokal Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta menggelar dialog kebangsaan “Sosialisasi 4 Pilar MPR RI. Peran Kebangsaan Muhammadiyah” pada hari Ahad, 28 Juni 2026 di Hotel Burza Yogyakarta. Fokal IMM merupakan Forum Keluarga Alumni Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah.

Hadir dalam acara tersebut, Prof. Dr. H. Irwan Akib, M.Pd yang mewakili PP Muhammadiyah. Dr. H. Abidin Fikri, SH, MH dari unsur Wakil Ketua Badan Sosialisasi MPR RI. Dr. Yusuf Warsyim, S.Ag, MH, Sekjen Fokal IMM dan Dr. Ikhwan Ahada, MA, Ketua PWM DIY.

Dalam sambutannya, Ikhwan Ahada mengharapkan agar Fokal mesti menyerap esensi dari semboyan dan cita-cita yang melekat. Yaitu Anggun dalam moral, unggul dalam intelektual. Alumni yang kini berdiaspora di berbagai sektor strategis hingga kemanusiaan global.

Irwan Akib merasa bangga dengan kesuksesan kader IMM di pelbagai daerah, yang kini menempati berbagai kursi strategis, seperti komisioner KPU, Bawaslu, Kompolnas, hingga jajaran kementerian. Bagi Irwan, yang terberat adalah ujian moral, bukan pada teknis pekerjaan. Dari hulu dari segala bentuk penyalahgunaan kekuasaan (abuse of power) adalah ketidakmampuan seorang pejabat dalam membatasi konflik kepentingan (conflict of interest). Kepada seluruh kader, singkirkan kepentingan pribadi atau golongan. Selalu utamakan kepentingan umum dan bangsa di atas segalanya.

Sementara, Wakil Ketua Badan Sosialisasi MPR RI Abidin Fikri menekankan bahwa Pancasila dan UUD 1945 tidak boleh hanya dilihat sebatas idealitas atau rule of law (aturan hukum) semata. Pancasila harus membumi menjadi rule of ethics (sumber etika) dan diwujudkan menjadi realitas dalam tata kelola negara.

Bangunan moralitas dan profesionalisme dalam penyelenggaraan negara harus terus ditegakkan dan dirawat, terutama oleh para kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Tantangan terbesar bagi kader-kader yang berdiaspora di ranah publik bukanlah sekadar bagaimana mendapatkan kekuasaan, melainkan bagaimana mempertanggungjawabkannya.

Abidin memandang, IMM sebagai organisasi otonom yang berkemajuan dan pro-aktif dalam mengurus ihwal kebangsaan dan keindonesiaan.

IMM itu adalah kader bangsa. Kader bangsa itu posisinya di mana saja boleh, baik di parlemen, birokrasi, komisi-komisi negara, hingga akademisi. Sehingga, kader IMM jangan sampai jengah untuk berdiaspora lebih membuana. Lebih-lebih berkecimpung di dunia perpolitikan. “Kalau Anda mampu, tunjukkan kapasitas Anda,” tegas Abidin.

Acara dilanjutkan dengan pemilihan pengurus fokal untuk masa bakti 2026 – 2031. Dari 130 calon, terpilih Deni Asy’ari, Direktur Utama PT Syarikat Cahaya Media / Suara Muhammadiyah terpilih sebagai ketua. Sementara Sobar M. Johari sebagai sekretaris dan bendahara dipegang oleh Yulianto Neri.

Di Tengah Banjir Informasi, Anak-Anak Kehilangan Kedalaman

Di Tengah Banjir Informasi, Anak-Anak Kehilangan Kedalaman

— Arif Jamali Muis —

Melanjutkan tulisan pertama berjudul “Kita Tidak Kekurangan Informasi, Tapi Kehilangan Makna,” saya ingin kembali membaca kegelisahan Yuval Noah Harari dalam Nexus: A Brief History of Information Networks from the Stone Age to AI melalui realitas pendidikan kita hari ini. Jika pada tulisan sebelumnya saya membahas banjir informasi dan krisis makna di ruang-ruang belajar, maka pada tulisan kedua ini saya ingin mengajak kita melihat persoalan lain yang tidak kalah penting: di tengah arus informasi yang bergerak semakin cepat, anak-anak kita perlahan kehilangan kedalaman dalam belajar. Hari ini, dunia bergerak dengan ritme yang belum pernah dialami generasi-generasi sebelumnya. Informasi datang bertubi-tubi tanpa jeda. Dalam hitungan menit, seseorang bisa melihat ratusan video, membaca puluhan komentar, berpindah dari satu topik ke topik lain, lalu melupakan semuanya beberapa saat kemudian. Kita hidup dalam budaya yang terus mendorong manusia untuk bergerak cepat, bereaksi cepat, dan berpikir cepat.

Anak-anak kita tumbuh di tengah situasi itu. Mereka lahir ketika internet sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Mereka terbiasa dengan layar yang terus menyala, notifikasi yang tak pernah berhenti, dan algoritma yang selalu tahu apa yang ingin mereka lihat berikutnya. Dunia digital membentuk cara mereka menerima informasi, cara mereka memberi perhatian, bahkan perlahan membentuk cara mereka belajar. Di satu sisi, ini tentu membawa banyak peluang. Pengetahuan menjadi lebih mudah diakses. Belajar tidak lagi terbatas ruang kelas. Anak-anak bisa mengetahui banyak hal yang dulu sulit dijangkau. Tetapi di balik kemudahan itu, ada sesuatu yang perlahan hilang: kemampuan untuk tinggal lebih lama dalam satu pemikiran.

Yuval Noah Harari dalam Nexus menjelaskan bahwa manusia modern hidup dalam jaringan informasi yang sangat kompleks. Persoalannya hari ini bukan lagi kekurangan informasi, melainkan ketidakmampuan manusia mengolah limpahan informasi itu menjadi pemahaman yang bermakna. Informasi bergerak jauh lebih cepat daripada kemampuan manusia untuk merenunginya. Dan mungkin, itulah yang sedang terjadi di ruang-ruang kelas kita. Kita mulai melihat anak-anak yang mampu menemukan jawaban dengan sangat cepat, tetapi sulit menjelaskan alasan di balik jawabannya. Mereka terbiasa membaca singkat, tetapi kesulitan bertahan membaca panjang. Mereka cepat mengetahui sesuatu, tetapi tidak cukup lama memikirkan sesuatu.

Budaya scrolling perlahan membentuk budaya belajar. Anak-anak terbiasa berpindah sebelum sempat mendalami. Mereka melihat banyak hal, tetapi tidak benar-benar menyelami apa pun. Perhatian mereka mudah terpecah. Konsentrasi menjadi pendek. Bahkan membaca satu halaman penuh tanpa terdistraksi mulai menjadi tantangan tersendiri. Ironisnya, sekolah kadang tanpa sadar ikut memperkuat situasi ini. Pembelajaran masih sering terjebak pada target penyelesaian materi, bukan kedalaman pemahaman. Siswa didorong cepat menyelesaikan tugas, cepat menjawab soal, cepat memperoleh nilai. Kecepatan menjadi ukuran keberhasilan, sementara proses berpikir perlahan mulai kehilangan tempat.

Padahal, belajar sejatinya tidak pernah lahir dari ketergesaan.

Pemahaman membutuhkan waktu. Ia tumbuh melalui perhatian, pengulangan, dialog, pengalaman, dan refleksi. Seseorang tidak benar-benar memahami hanya karena ia pernah membaca. Pemahaman lahir ketika pengetahuan diolah, dipertanyakan, dikaitkan dengan kehidupan, lalu dimaknai secara personal. Di sinilah saya melihat mengapa Pembelajaran Mendalam menjadi sangat relevan bagi pendidikan kita hari ini.

Dalam Naskah Akademik Pembelajaran Mendalam, ditegaskan bahwa salah satu tantangan pendidikan Indonesia adalah masih dominannya pembelajaran dangkal: pembelajaran yang terlalu bertumpu pada hafalan, ceramah satu arah, dan belum cukup menumbuhkan kemampuan berpikir kritis peserta didik. Bahkan muncul fenomena yang sangat mengusik: bersekolah tetapi tidak belajar. Kalimat itu sesungguhnya menggambarkan krisis yang sedang kita hadapi. Anak hadir di sekolah, mengikuti pelajaran, mengerjakan tugas, bahkan memperoleh nilai baik. Namun proses memahami secara mendalam belum tentu benar-benar terjadi. Pengetahuan sering berhenti di permukaan. Belajar menjadi aktivitas administratif, bukan perjalanan intelektual dan reflektif.

Karena itu, Pembelajaran Mendalam hadir bukan sekadar sebagai perubahan metode pembelajaran. Ia sesungguhnya merupakan respons terhadap perubahan zaman. Pembelajaran Mendalam mengajak peserta didik belajar secara berkesadaran (mindful), bermakna (meaningful), dan menggembirakan (joyful). Peserta didik tidak hanya diminta mengetahui sesuatu, tetapi memahami, mengaplikasikan, dan merefleksikannya dalam kehidupan nyata.

Pendekatan ini penting karena dunia digital hari ini cenderung mendorong manusia hidup di permukaan. Semua serba cepat, serba singkat, serba instan. Sementara Pembelajaran Mendalam justru mengajak anak berhenti sejenak, memberi perhatian penuh, lalu menyelami pengetahuan secara lebih utuh.

Dalam konteks ini, guru menjadi semakin penting. Di era ketika informasi tersedia di mana-mana, peran guru bukan lagi sekadar penyampai materi. Teknologi bahkan dapat melakukannya lebih cepat. Tetapi teknologi tidak dapat menggantikan kemampuan guru dalam membangun kedalaman manusia. Guru membantu anak belajar berpikir tenang di tengah dunia yang gaduh. Membantu mereka membaca lebih sabar di tengah budaya serba singkat. Membantu mereka bertanya lebih dalam di tengah banjir jawaban instan. Guru bukan sekadar penghubung informasi. Guru adalah penjaga kedalaman. Dan mungkin, itulah tantangan terbesar pendidikan masa depan: bukan bagaimana membuat anak memperoleh lebih banyak informasi, tetapi bagaimana menjaga mereka tetap mampu berpikir mendalam di tengah dunia yang bergerak terlalu cepat. Karena pada akhirnya, masa depan tidak akan dimenangkan oleh mereka yang paling cepat menemukan jawaban, melainkan oleh mereka yang mampu memahami dunia secara lebih dalam, lebih tenang, dan lebih manusiawi

Kita Tidak Kekurangan Informasi, Tapi Kehilangan Makna

Kita Tidak Kekurangan Informasi, Tapi Kehilangan Makna

— Arif Jamali Muis —

Beberapa waktu terakhir, saya menuntaskan membaca buku Nexus: A Brief History of Information Networks from the Stone Age to AI karya Yuval Noah Harari. Buku itu tidak hanya memberi pengetahuan baru, tetapi juga meninggalkan kegelisahan yang sulit diabaikan. Dari kegelisahan itulah, saya terdorong untuk menuliskan tulisan seri sederhana ini —mencoba membaca ulang dunia pendidikan kita melalui lensa yang ditawarkan Harari, lalu mengaitkannya dengan gagasan pembelajaran mendalam sebagai pendekatan pedagogi. Sebab semakin saya merenung, semakin terasa bahwa apa yang dibahas Harari tentang jaringan informasi sebenarnya tidak jauh dari apa yang sedang terjadi di ruang-ruang kelas kita hari ini.

Apa yang terjadi di Ruang Kelas?

Pagi hari di sekolah-sekolah kita tidak lagi kekurangan informasi. Di tangan siswa, dunia seakan terbuka tanpa batas. Apa pun bisa dicari, ditemukan, dan dijelaskan dalam hitungan detik. Guru belum selesai menjelaskan, mesin pencari sudah memberi jawaban. Bahkan sebelum pertanyaan benar-benar dipahami, jawaban telah tersedia.

Sekilas, ini tampak seperti kemajuan besar. Dan memang demikian. Tetapi di balik kemudahan itu, ada pertanyaan yang pelan-pelan mengusik: mengapa di tengah kelimpahan informasi ini, kita justru semakin sering menemukan pemahaman yang dangkal?

Inilah paradoks zaman kita. Harari dalam Nexus menjelaskan bahwa sejak awal, manusia hidup dan berkembang dalam jaringan informasi. Peradaban tidak dibangun hanya oleh kekuatan fisik atau kecerdasan individu, melainkan oleh kemampuan manusia untuk menciptakan, menyebarkan, dan mempercayai informasi bersama—dari cerita sederhana, mitos, hingga sistem yang kompleks seperti hukum, negara, dan ilmu pengetahuan.

Namun, jaringan informasi yang dulu memperkuat manusia, hari ini berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih kompleks. Informasi tidak lagi sekadar menghubungkan, tetapi juga membanjiri. Ia tidak hanya memperkaya, tetapi juga membingungkan. Ia tidak hanya membantu kita memahami dunia, tetapi kadang justru menjauhkan kita dari makna.

Kita hidup di era di mana informasi bergerak lebih cepat daripada kemampuan kita untuk merenungkannya. Lihatlah bagaimana anak-anak kita belajar hari ini. Mereka mampu menjawab banyak soal, tetapi sering kesulitan menjelaskan dengan bahasa mereka sendiri. Mereka hafal konsep, tetapi gagap ketika harus mengaitkannya dengan realitas. Mereka tahu banyak hal, tetapi tidak selalu benar-benar memahami.

Sekolah, dalam banyak hal, tanpa sadar ikut terjebak dalam arus ini. Belajar masih sering dimaknai sebagai proses mengumpulkan informasi. Semakin banyak tahu, semakin dianggap pintar. Nilai menjadi ukuran utama, bukan kedalaman pemahaman. Kecepatan menjadi kebanggaan, bukan ketelitian berpikir.

Padahal, jika kita jujur, persoalan pendidikan hari ini bukan lagi pada akses informasi—itu sudah terbuka lebar. Persoalannya justru bergeser: bagaimana membantu siswa memahami, bukan sekadar mengetahui.

Di titik ini, kita perlu berhenti sejenak dan bertanya: untuk apa sebenarnya kita belajar? Apakah sekadar untuk menjawab soal? Apakah untuk mengejar nilai? Ataukah untuk memahami dunia dan menemukan makna di dalamnya?

Pertanyaan ini menjadi semakin relevan ketika kita menyadari bahwa informasi yang kita konsumsi hari ini tidak netral. Ia membentuk cara kita berpikir, memengaruhi keputusan kita, bahkan perlahan membentuk siapa kita. Jika kita tidak memiliki kemampuan untuk memilah, memahami, dan merefleksikan informasi, maka kita tidak lagi mengendalikan pengetahuan. Kitalah yang justru dikendalikan olehnya.

Di sinilah saya melihat pentingnya pembelajaran mendalam. Pembelajaran mendalam bukan sekadar istilah yang terdengar “baru” dalam diskursus pendidikan. Ia adalah kebutuhan yang lahir dari konteks zaman. Ia mengajak kita kembali pada hakikat belajar: memahami secara utuh, mengaitkan pengetahuan dengan pengalaman, dan merefleksikan makna di balik apa yang dipelajari.

Dalam pembelajaran mendalam, belajar tidak berhenti pada “tahu apa”, tetapi bergerak ke “mengapa” dan “bagaimana”. Siswa tidak hanya diminta memahami konsep, tetapi juga mengaplikasikannya dalam kehidupan nyata. Mereka tidak sekadar menerima informasi, tetapi dilatih untuk mempertanyakan, mengolah, dan memaknainya. Dengan kata lain, pembelajaran mendalam berusaha menjawab krisis makna yang sedang kita hadapi.

Namun, perubahan ini tidak sederhana. Ia menuntut pergeseran cara pandang yang cukup mendasar—terutama tentang peran guru. Di era ketika informasi tersedia di mana-mana, guru tidak lagi bisa hanya berperan sebagai penyampai pengetahuan. Peran itu, jujur saja, sudah diambil alih oleh teknologi. Mesin pencari, video pembelajaran, dan kecerdasan buatan mampu menyajikan informasi dengan lebih cepat dan variatif.

Tetapi ada satu hal yang tidak bisa digantikan oleh teknologi: kemampuan untuk menuntun makna. Guru, dalam konteks ini, justru menjadi semakin penting. Bukan sebagai sumber informasi, tetapi sebagai fasilitator pemahaman. Guru adalah mereka yang membantu siswa berhenti sejenak di tengah derasnya arus informasi. Mengajak mereka berpikir, bukan sekadar menjawab. Mengajak mereka memahami, bukan sekadar menghafal. Mengajak mereka merefleksikan pengalaman belajar mereka.

Guru adalah penjaga kedalaman di tengah dunia yang serba dangkal.

Tentu ini bukan pekerjaan mudah. Ia menuntut kesiapan pengetahuan, keterampilan, dan sikap guru itu sendiri. Guru perlu memahami apa itu pembelajaran mendalam, bagaimana menerapkannya, dan—yang tidak kalah penting—meyakini bahwa pendekatan ini memang diperlukan. Tanpa itu, pembelajaran mendalam hanya akan menjadi jargon, bukan praktik nyata di kelas.

Pada akhirnya, seri tulisan sederhanan ini adalah upaya kecil untuk mengajak kita semua—terutama para pendidik—merenungkan kembali arah pendidikan kita. Nexus membantu kita memahami bagaimana dunia berubah melalui jaringan informasi. Tetapi pendidikanlah yang menentukan bagaimana manusia bertahan dan bermakna di dalam perubahan itu.

Kita mungkin tidak bisa menghentikan banjir informasi. Dan memang tidak perlu. Tetapi kita bisa memastikan bahwa di tengah arus itu, siswa kita tidak hanyut tanpa arah. Kita bisa mengajarkan mereka untuk menyelam lebih dalam.

Karena pada akhirnya, masa depan tidak akan dimenangkan oleh mereka yang paling cepat menemukan jawaban, tetapi oleh mereka yang paling mampu memahami pertanyaan.

Dan mungkin, di situlah letak harapan pendidikan kita hari ini: bukan pada seberapa banyak informasi yang kita berikan, tetapi pada seberapa dalam makna yang berhasil kita bangun

A winding road in the countryside with a lone tree under a cloudy sky.

Selalu Ada Jalan Keluat

oleh : DR. Firwan Firdaus

Setiap manusia yang hidup di dunia ini sudah pasti selalu mengalami masalah tertentu karena manusia memang diciptakan Allah Swt untuk diuji dengan berbagai kesusahan {QS. Al-Balad (90):4}. Masalah yang dialami manusia dapat mulai dari yang ringan sampai berat. Bayi yang baru lahir selalui ditandai dengan menangis dengan nyaring sekali karena lingkungan yang baru bermasalah buat sang bayi. Anak kecil yang baru masuk sekolah pasti mengalami masalah tertentu yang menyebabkan dia sering mogok masuk sekolah. Anak remaja yang baru tumbuh juga mengalami masalah tertentu di sekolahnya. Mahasiswa yang sering idealis juga tidak luput dari permasalahan di lingkungan pergaulannya. Para pekerja dan pebisnis selalu ada masalah dalam pekerjaan dan bisnisnya. Dunia ini memang tempatnya tumpukan masalah yang tidak akan pernah selesai. Dibalik masalah itu sebenarnya Allah Swt juga menunjukkan cara penyelesaian masalah. Dibalik kesulitan selalu ada kemudahan {QS. Al-Insyirah (94):5-6}. Bagi Allah Swt, tidak ada yang tidak mungkin, selalu ada jalan keluar dari berbagai permasalahan. Semuanya tergantung manusianya, apakah mau berusaha semaksimal mungkin dan selalu berdoa tanpa bosan serta dengan kesabaran yang tinggi menunggu Keputusan Allah Swt.

Banyak kasus nyata yang terjadi dimulai dari kesulitan yang maha dahsyat, tetapi dapat berakhir dengan happy ending. Ada kasus yang menarik, sebuah keluarga sederhana, hidup dengan penghasilan pas-pasan sebagai PNS golongan dua dengan pendidikan setingkat SLTA, tetapi dapat menyekolahkan anaknya di Fakultas Kedokteran Universitas Negeri ternama. Pada mulanya banyak orang sangat skeptis dengan cita-cita anaknya yang sangat tinggi bahkan ada yang mengatakan anaknya tidak tahu diri, tidak berkaca diri tetapi Allah Swt menunjukkan kekuasaannya dan menunjukkan jalan keluar dari kesulitannya. Anaknya diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Negeri ternama dengan mendapat beasiswa bidikmisi (beasiswa khusus untuk orang miskin) sehingga anaknya selama kuliah tidak perlu membayar uang sepeserpun bahkan mendapat uang saku yang cukup memadai dari pihak institusi. Sekarang anaknya sudah berhasil lulus menjadi dokter dengan nilai terbaik. Selalu ada jalan keluar jika kita sabar dan selalu berdoa kepada-Nya.

Ada satu kasus lagi yang sangat menarik dan fenomenal. Sepasang suami isteri yang baru menikah sekitar 1,5 tahun dan dikaruniai bayi perempuan yang cantik. Pada saat sang bayi baru berumur 3 bulan ada peristiwa yang sangat mengejutkan. Entah apa sebabnya, sang suami melarikan diri di tengah malam di saat isterinya dan mertuanya sedang tidur nyenyak dengan membawa sang bayi yang baru berusia 3 bulan. Sang isteri dan bapak ibunya yang juga sedang menginap dirumahnya kaget mendengar bayi dan suaminya yang hilang tetiba tanpa meninggalkan bekas. Si isteri dan bapak ibunya berusaha mencari ke keluarga suaminya tetapi keluarga suaminya juga tidak ada yang mengetahui. Sang Isteri sampai menggaji detektif swasta untuk melacak keberadaan anak dan suaminya. Sudah 10 tahun belum ada informasi yang didapatnya. Akhirnya dia menggugat cerai suaminya di pengadilan agama tanpa kehadiran suaminya. Suatu saat sang isteri bertemu dengan seorang temannya yang bekerja di Kementerian Pendidikan Nasional. Mereka berbincang berbagai hal termasuk masalah keluarganya yang berantakan. Temannya iseng-iseng melihat data murid SD si-Indonesia yang memang ada di kementrian. Dia menelusuri data semua murid SD di seluruh sekolah dasar di Jakarta. Dia mencari data nama murid dan nama orangtuanya.

Dengan izin Allah dapat diketahui keberadaan anaknya yang hilang itu sedang bersekolah di salah satu SD di Jakarta. Allah Maha Besar, setelah dapat info dari temannya tadi, sang isteri bergegas ke sekolah SD yang bersangkutan. Dia menemui kepala sekolah SD tersebut dan menceritakan kronologis kisah kehilangan anaknya. Ternyata anaknya memang benar bersekolah disitu. Suaminya ternyata sudah menikah dengan orang lain dan juga sudah mempunyai anak satu lagi. Akte lahir si anak yang hilang ternyata dipalsukan dengan tanggal lahir yang berbeda. Dia sempat bertemu dengan suaminya tanpa ada perbincangan apapun. Si anak yang sudah besar duduk di kelas 5 SD, tetapi dia tidak mengenal ibunya walaupun sudah diberitahukan oleh kepala sekolah bahwa itu ibunya. Suaminya juga tidak berkeberatan jika si Anak ikut ibunya, tetapi si anak belum mau. Si Ibu bersabar sambil menemui anaknya setiap minggu. Akhirnya suatu saat terjadi peristiwa yang mengejutkan lagi. Mantan suaminya itu menceraikan isterinya yang baru itu karena dia menikah lagi dengan wanita lain yang lebih muda. Sang isteri yang kedua itu memberikan info ke mantan isteri pertama agar anaknya sebaiknya dibawa saja. Pada akhirnya happy ending, si bayi yang hilang berkumpul lagi dengan ibu kandungnya dan sekarang sudah bersekolah di salah satu SMA di Yogyakarta, tempat eyang si bayi bertinggal. Selalu ada jalan keluar ketika kita sabar, berusaha keras dan selalu berdoa kepada Allah Swt.

Ada lagi suatu kisah inspiratif yang sangat menarik. Seorang anak muda yang baru tamat SLTA di sebuah kampung di Sumatera Barat. Dia merantau ke Kota Yogyakarta. Di Yogyakarta dia tidak mempunyai teman atau family siapapun. Dia menginap di salah satu mesjid besar di Yogyakarta. Setelah beberapa hari pengurus masjid menaruh perhatian serius tentang keberadaan anak mud aitu di masjid. Si anak muda tersebut ditawari jadi marbot yang pekerjaannya membantu membersihkan masjid, jadi mu’azin dan mengajari anak-anak belajar membaca Al-Qur’an. Si anak muda ini, di sela-sela waktunya, dia belajar soal-soal test masuk universitas. Ternyata dia mempunyai cita-cita yang sangat tinggi. Dengan pertolongan Allah Swt, dia diterima di fakultas ekonomi UGM lewat jalur umum yang berbiaya murah.Pengurus masjid mendukung dia untuk kuliah dengan memberikan dukungan finansial untuk biaya kuliah di tahun pertama. Berkat ketekunannya, di tahun kedua, dia mendapat beasiswa supersemar. Si anak mud aini ternyata cerdas sekali sehingga untuk menambah penghasilan dia juga diterima mengajar di tempat bimbingan belajar yang banyak sekali di Yogyakarta. Singkat cerita dia berhasil lulus dari UGM dan mendapat pekerjaan di sebuah Perusahaan swasta terbesar di Indonesia. Karirnya sangat cepat menanjak karena kejujuran dan kepintarannya. Dalam waktu singkat dia menjadi orang kepercayaan pemilik Perusahaan. Disamping dia juga memiliki mendirikan perusahaan sendiri yang bidang kerjanya berbeda dengan tempat dia bekerja.

Ada peristiwa yang sangat mengejutkan. Si anak muda ini di fitnah teman sekerjanya sehingga dia dikeluarkan dari perusahaan dan perusahaannya sendiri bangkrut karena uangnya dibawa lari oleh karyawannya. Si anak muda ini tidak patah semangat. Dia mulai lagi bekerja dari nol. Pekerjaan pertamanya menjadi tukang parkir di depan sebuah toko. Suatu saat ada mobil yang cukup mewah mogok di tempat parkir tersebut. Dia berusaha menolong pemilik mobil tersebut dan berhasil menghidupkan mobil. Si pemilik mobil tertarik dengan si anak muda tersebut. Dia ditawari bekerja di perusahaannya. Singkat cerita, dia berhasil memajukan perusahaan. Kali ini dia belajar dari pengalaman. Dia tidak mau berlama-lama di perusahaan itu, takut kena fitnah lagi. Setelah terkumpul uang pribadi yang cukup banyak, dia mendirikan perusahaan sendiri dan dikelola sendiri dengan beberapa karyawan. Perusahaannya bergerak di bidang kuliner. Perusahaannya berkembang pesat dan mempunyai cabang di berbagai kota besar di seluruh Indonesia. Selalu ada jalan keluar di saat terjadi musibah asal jangan menyerah.

Banyak sekali kisah-kisah yang menarik yang terjadi di dunia nyata dalam kehidupan sehari-hari. Kisah-kisah tersebut diatas dapat menjadi pelajaran bagi kita semua bahwa kehidupan di dunia ini selalu ada masalah. Tidak selamamya kita sukses, suatu saat ada kegagalan, tetapi jangan menyerah karena roda kehidupan selalu berputar. Disaat sedang diatas jangan sombong, bersyukurlah dan disaat sedang dibawah jangan patah semangat, bersabarlah dan selalu berusaha keras. Suatu saat dari kegagalan muncul keberhasilan yang tidak terduga dengan syarat selalu berusaha, sabar dan berdoa serta jangan pernah menyerah. Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah Swt, niscaya Dia mengadakan baginya jalan keluar. [QS. Ath-Thalaq (65): 2]. Semoga kita semua selalu mendapatkan jalan keluar dari semua masalah. Aamiin.

Semarang, 04 Februari 2026

Muktamar

Muktamar

Dalam sebuah organisasi, tentu banyak gagasan bermunculan, baik secara lisan maupun tertulis. Muktamar adalah sebuah pertemuan atau konferensi besar yang diadakan oleh suatu organisasi atau kelompok untuk membahas isu-isu penting, berbagi pengetahuan, memperkuat jaringan, dan mengambil keputusan penting. Biasanya, muktamar dihadiri oleh anggota atau delegasi dari organisasi tersebut, dan juga dapat melibatkan pembicara tamu, ahli industri, atau pemangku kepentingan lainnya.

Muktamar dapat diadakan oleh berbagai jenis organisasi, seperti lembaga pemerintah, badan amal, asosiasi profesi, atau perusahaan. Acara ini biasanya berlangsung selama beberapa hari hingga satu minggu, tergantung pada kompleksitas dan skala topik yang dibahas.

Masa awal Muktamar di Muhammadiyah semula adalah tahunan (1912 – 1923). Pada masa awal berdirinya di bawah kepemimpinan KH. Ahmad Dahlan, forum tertinggi ini belum memiliki nama khusus yang formal dan sistematis seperti sekarang. Pertemuan dilakukan setiap tahun di Yogyakarta untuk membahas perkembangan organisasi.

Periode kedua (1924 – 1940), dibawah kepemimpinan KH Ibrahim, Muhammadiyah mulai menggunakan istilah “Kongres”. Istilah ini diserap dari bahasa Inggris (Congress) yang saat itu sangat populer di kalangan organisasi pergerakan nasional untuk menunjukkan semangat modernitas dan kemajuan.

Tahun 1944 – 1946 adalah “Masa Darurat”, akibat situasi Perang Dunia II dan Revolusi Fisik (perang kemerdekaan). Muhammadiyah tidak bisa menyelenggarakan pertemuan besar secara normal. Sebagai gantinya, diadakan pertemuan terbatas yang disebut Congress Dharurot (Kongres Darurat).

Perubahan menjadi Muktamar dimulai tahun 1950. Setelah Indonesia berdaulat sepenuhnya, Muhammadiyah menyelenggarakan forum tertinggi ke-31 pada tahun 1950 di Yogyakarta. Pada momen inilah nama “Kongres” resmi diganti menjadi “Muktamar”.

Muktamar merupakan agenda tertinggi dalam organisasi Muhammadiyah. Ibarat sebuah negara, Muktamar adalah “sidang paripurna” di mana arah masa depan organisasi ditentukan. Adapun tujuan dari muktamar adalah:

Forum Tertinggi. Muhammadiyah adalah organisasi yang dikelola secara demokratis dan kolektif-kolegial. Muktamar menjadi wadah bagi seluruh perwakilan wilayah dan daerah di Indonesia (bahkan cabang istimewa di luar negeri) untuk menggunakan hak suaranya. Di sinilah legitimasi kepemimpinan dibangun.

Regenerasi. Salah satu agenda paling krusial adalah pemilihan Anggota Pimpinan Pusat Muhammadiyah untuk periode berikutnya. Muhammadiyah dikenal memiliki sistem pemilihan yang unik. Peserta memilih 13 nama dari sekian banyak calon. 13 orang terpilih tersebut kemudian bermusyawarah untuk menentukan siapa yang akan menjadi Ketua Umum dan Sekretaris Umum.

Laporan Pertanggungjawaban dan Evaluasi. Muktamar menjadi ajang bagi pimpinan periode berjalan untuk melaporkan apa saja yang sudah dicapai, kendala yang dihadapi, dan bagaimana pengelolaan keuangan serta aset organisasi (seperti sekolah, rumah sakit, dan panti asuhan) selama 5 tahun terakhir.

Program Kerja. Dunia terus berubah, dan Muhammadiyah perlu menyesuaikan langkahnya. Dalam Muktamar, disusun Program Kerja dan Pernyataan Pikiran Muhammadiyah untuk menghadapi isu-isu kontemporer, baik di level nasional maupun global (seperti perubahan iklim, ekonomi digital, hingga politik).

Silaturahmi dan Syiar. Selain urusan formal administrasi, Muktamar adalah ajang konsolidasi akbar. Ribuan hingga jutaan penggembira biasanya hadir untuk merayakan semangat pembaruan. Ini berfungsi untuk memperkuat ikatan batin antarkader (ukhwah) agar tetap solid dalam menjalankan misi dakwah.