ChatHPT Buka Akses Putusan Tarjih untuk Semua

Oleh: Ismail Fahmi, Ph.D

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si., meluncurkan ChatHPT dalam rangkaian Musyawarah Nasional (Munas) Tarjih XXXIII di Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura), Kamis (5/11/2026). ChatHPT adalah asisten kecerdasan buatan untuk menelusuri Himpunan Putusan Tarjih, fatwa, dan Tanya Jawab Agama Majelis Tarjih dan Tajdid. Sambutan warga langsung terasa. Sejak diluncurkan pukul 09.30 WIB hingga pukul 18.35 WIB, ChatHPT menerima lebih dari 6.400 pertanyaan baru, atau sekitar 700 pertanyaan setiap jam.

Dalam peluncuran itu, Haedar menyebut ChatHPT sebagai bentuk antisipasi dan adaptasi Muhammadiyah terhadap era revolusi digital. Menurutnya, siapa pun yang ingin mengetahui keputusan dan pandangan keagamaan Muhammadiyah kini cukup membuka platform tersebut.

 “Ini bentuk penggunaan teknologi informasi terkini untuk kepentingan beragama,” ujarnya. Ia berharap ChatHPT menjadi pegangan bagi generasi Z dan generasi Alfa. Peluncuran ini menjadi bagian dari Munas Tarjih XXXIII yang berlangsung 5 sampai 7 November 2026 dengan tema “Satu Abad Tarjih: Meneguhkan Akidah, Memperindah Akhlak, Menguatkan Ibadah dan Memberdayakan Umat untuk Peradaban Berkemajuan”.

ChatHPT dikembangkan oleh Ismail Fahmi, Ph.D., Wakil Ketua Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) PP Muhammadiyah, dan dilanjutkan oleh Muhammadiyah Software Labs (LabMu) sejak Agustus 2026. Seluruh isi rujukannya bersumber dari Majelis Tarjih dan Tajdid. Sejak pertengahan Agustus, ChatHPT menjalani masa uji coba versi beta yang terbuka bagi warga. Masukan dari ribuan percakapan selama masa itu dipakai untuk memperbaiki ketepatan jawaban, menambah fitur, dan memperkuat keamanan sistem. Setelah masa beta selesai, layanan dipindahkan ke domain resmi https://hpt.muhammadiyah.or.id dengan identitas visual baru, lalu diluncurkan secara resmi hari ini.

ChatHPT lahir dari persoalan akses. Jawaban resmi Persyarikatan sudah tersedia sejak Majelis Tarjih berdiri pada 1927, tetapi tersebar di banyak buku dan tahun terbit. Banyak warga akhirnya bertanya kepada AI umum yang menjawab cepat, tetapi tidak mengikuti manhaj tarjih dan kadang mengarang dalil. ChatHPT menjawab hanya dari naskah resmi Majelis Tarjih. Korpusnya memuat 1.153 naskah putusan, fatwa, dan tanya jawab, 2.742 konsep fikih dan ushul fikih, serta 3.855 entitas seperti tokoh, perawi, dan kitab yang saling terhubung. Setiap jawaban wajib menyebut rujukannya, dan bila arsip tidak memuat jawabannya, ChatHPT akan mengatakannya terus terang.

Selama masa uji coba hingga awal November, ChatHPT menerima 13.840 pertanyaan. Shalat menjadi topik terbanyak, hampir seperlima dari seluruh pertanyaan. Yang menarik, pertanyaan tentang muamalah digital dan AI mencapai 336, lebih banyak daripada pertanyaan tentang puasa dan Ramadan yang berjumlah 248. Pertanyaan warga sangat beragam, mulai dari hukum shalat memakai sandal, bunga pinjaman bank, amplop serangan fajar menjelang pilkades, hingga pertanyaan dalam bahasa Sunda yang dijawab dalam bahasa yang sama. Dengan lonjakan pada hari peluncuran, total pertanyaan kini telah melampaui 20.500.

ChatHPT dapat diakses melalui situs hpt.muhammadiyah.or.id dan menu ChatHPT di superapp MASA, dengan masuk menggunakan Muhammadiyah ID yang dapat didaftarkan gratis di sso.muhammadiyah.id. Di bawah setiap jawaban tersedia tombol Sajikan dalam Format yang mengubah jawaban menjadi artikel, utas media sosial, caption, khutbah Jumat, kultum, pantun, atau grafik konsep, sehingga memudahkan mubaligh dan guru menyiapkan bahan dakwah. Meski demikian, jawaban ChatHPT adalah rangkuman, bukan fatwa. Kewenangan atas isi putusan tetap berada di Majelis Tarjih dan Tajdid, dan pengguna dianjurkan membuka naskah aslinya sebelum mengutip.

Jangan Mengagungkan Sejarah

Percikan perpecahan dalam tubuh Islam dapat ditengarahi dari pengangkatan Usman bin Affan sebagai khalifah menggantikan Umar bin Khattab. Intrik demi intrik mewarnai perjalanan pemerintahan Usman. Kelompok yang cukup intens mengkritik adalah pengikut Ali bin Abi Thalib.

Anak buah Ali cukup punya alasan mengapa mereka begitu getol untuk mendudukkan Ali sebagai pengganti nabi Muhammad, bukan Abu Bakar. Menurut silsilah Quraisy, Ali memiliki jalur dari bani Hasyim. Yang membuat cukup validitas adalah menantu Rasulullah. Itulah sebabnya peristiwa karbala menyisakan luka yang cukup dalam hingga kini.

Marwan bin Abu Sufyan, juga mengklaim sebagai keturunan resmi garis Quraisy dari jalur Abdu Syam. Padahal apabila dari pihak yang bertikai mau mempelajari bagaimana Rasulullah memberi contoh berdemokrasi, yaitu tatkala menyatukan empat suku yang rebutan ingin meletakkan batu hitam (hajar aswad), mestinya tidak akan terjadi saling membinasakan.

Sejarah telah menorehkan peristiwa tanpa memihak. Sejarah tetaplah dokumen untuk dibaca. Adapun akan menjadi sebuah pemelajaran, evaluasi, ataukah berserakan seadanya, tetap kembali kepada manusia untuk memanfaatkannya. Mereka yang terus mengagungkan dan menjunjung tinggi kelompoknya, memiliki alasan tersendiri. Namun ingat, ada kelompok lain yang berseberangan jalan. Fraksi lain juga akan menempuh jalan yang sama. Sehingga satu dengan lainnya akan secara terus menerus mendewakannya.

Syafi’i Ma’arif, melihat ini dengan hati yang gundah. Islam telah terkotak-kotak sesuai dengan keyakinan masing-masing. Padahal al Qur’an sebagai Rahmatan lil’alamin. Topeng agama sering dipakai semata-mata untuk menyamarkan rencana jahatnya, demi kekuasaan duniawi yang disembunyikan. Dengan kedok agama, tindakan perampokan, penjarahan, pembunuhan, penculikan, dan pemerkosaan seperti mendapat pembenaran secara teologis.

Lebih jauh, beliau mengatakan: tanpa ada kesediaan umat Islam untuk keluar dari kotak-kotak Arab yang telah menguasai pemikiran Muslim sejagat selama berabad-abad, apa yang sering dikatakan sebagai kebangkitan Islam hanya akan berujung dengan sebuah ilusi sejarah yang meninabobokan. Oleh karena itu, erlu dibangun sebuah Islam yang relative bebas dari beben sejarah yang sangat melelahkan.

Islam yang berjubah suniisme, syi’isme, mu’tazilah, jabariyah, dan Khawarij adalah ciptaan sejarah sebagai buah dari sengketa politik kekuasaan di kalangan elite Arab Muslim pada masa awal dengan mengingkari al Qur’an dan pesan kenabian. Pihak-pihak yang bermusuhan selalu saja mengutip teks-teks suci, tetapi yang berlaku di lapangan adalah pengkhianatan terhadap teks itu.

Bahan bacaan: Percik-percik Pemikiran Buya Syafi’i

Konferensi Pendidikan Indonesia

Rabu – Kami, 1 – 2 Juli 2026 bertempat di Auditorium Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) berlangsung kegiatan Konferensi Pendidikan Indonesia (KPI) tahun 2026. KPI adalah sebuah ruang kolaborasi nasional bagi para pemangku kepentingan pendidikan untuk belajar bersama, berbagi praktik baik, memperkuat jejaring, serta merumuskan rekomendasi kebijakan guna mendorong peningkatan kualitas pendidikan.

Tahun 2026 ini, Pemerintah Kabupaten Sleman berkesempatan menjadi tuan rumah penyelenggaraan KPI, yang bekerja sama dengan Lingkar Daerah Belajar (LDB). Kolaborasi ini didasarkan pada kesamaan visi dalam memperkuat peran daerah sebagai motor penggerak transformasi pendidikan dan memperluas dampak praktik-praktik baik.

Latar belakang kehadiran KPI

  1. Memperkuat Pemelajaran Antar Daerah
  2. Mengkonsolidasikan Gerakan Perubahan Pendidikan Berbasis Daerah.
  3. KPI menjadi titik temu berbagai pelaku perubahan, baik dari sektor publik, masyarakat sipil, komunitas, maupun dunia usaha, untuk mensinergikan upaya dan agenda transformasi pendidikan
  4. Mendukung Perencanaan Pembangunan Daerah
  5. Memfasilitasi Advokasi Nasional Berbasis Pengalaman Nyata

Beberapa agenda kegiatan yang terangkum dalam acara tersebut antara lain

IMM Membangun Kebangsaan

Fokal Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta menggelar dialog kebangsaan “Sosialisasi 4 Pilar MPR RI. Peran Kebangsaan Muhammadiyah” pada hari Ahad, 28 Juni 2026 di Hotel Burza Yogyakarta. Fokal IMM merupakan Forum Keluarga Alumni Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah.

Hadir dalam acara tersebut, Prof. Dr. H. Irwan Akib, M.Pd yang mewakili PP Muhammadiyah. Dr. H. Abidin Fikri, SH, MH dari unsur Wakil Ketua Badan Sosialisasi MPR RI. Dr. Yusuf Warsyim, S.Ag, MH, Sekjen Fokal IMM dan Dr. Ikhwan Ahada, MA, Ketua PWM DIY.

Dalam sambutannya, Ikhwan Ahada mengharapkan agar Fokal mesti menyerap esensi dari semboyan dan cita-cita yang melekat. Yaitu Anggun dalam moral, unggul dalam intelektual. Alumni yang kini berdiaspora di berbagai sektor strategis hingga kemanusiaan global.

Irwan Akib merasa bangga dengan kesuksesan kader IMM di pelbagai daerah, yang kini menempati berbagai kursi strategis, seperti komisioner KPU, Bawaslu, Kompolnas, hingga jajaran kementerian. Bagi Irwan, yang terberat adalah ujian moral, bukan pada teknis pekerjaan. Dari hulu dari segala bentuk penyalahgunaan kekuasaan (abuse of power) adalah ketidakmampuan seorang pejabat dalam membatasi konflik kepentingan (conflict of interest). Kepada seluruh kader, singkirkan kepentingan pribadi atau golongan. Selalu utamakan kepentingan umum dan bangsa di atas segalanya.

Sementara, Wakil Ketua Badan Sosialisasi MPR RI Abidin Fikri menekankan bahwa Pancasila dan UUD 1945 tidak boleh hanya dilihat sebatas idealitas atau rule of law (aturan hukum) semata. Pancasila harus membumi menjadi rule of ethics (sumber etika) dan diwujudkan menjadi realitas dalam tata kelola negara.

Bangunan moralitas dan profesionalisme dalam penyelenggaraan negara harus terus ditegakkan dan dirawat, terutama oleh para kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Tantangan terbesar bagi kader-kader yang berdiaspora di ranah publik bukanlah sekadar bagaimana mendapatkan kekuasaan, melainkan bagaimana mempertanggungjawabkannya.

Abidin memandang, IMM sebagai organisasi otonom yang berkemajuan dan pro-aktif dalam mengurus ihwal kebangsaan dan keindonesiaan.

IMM itu adalah kader bangsa. Kader bangsa itu posisinya di mana saja boleh, baik di parlemen, birokrasi, komisi-komisi negara, hingga akademisi. Sehingga, kader IMM jangan sampai jengah untuk berdiaspora lebih membuana. Lebih-lebih berkecimpung di dunia perpolitikan. “Kalau Anda mampu, tunjukkan kapasitas Anda,” tegas Abidin.

Acara dilanjutkan dengan pemilihan pengurus fokal untuk masa bakti 2026 – 2031. Dari 130 calon, terpilih Deni Asy’ari, Direktur Utama PT Syarikat Cahaya Media / Suara Muhammadiyah terpilih sebagai ketua. Sementara Sobar M. Johari sebagai sekretaris dan bendahara dipegang oleh Yulianto Neri.

Di Tengah Banjir Informasi, Anak-Anak Kehilangan Kedalaman

— Arif Jamali Muis —

Melanjutkan tulisan pertama berjudul “Kita Tidak Kekurangan Informasi, Tapi Kehilangan Makna,” saya ingin kembali membaca kegelisahan Yuval Noah Harari dalam Nexus: A Brief History of Information Networks from the Stone Age to AI melalui realitas pendidikan kita hari ini. Jika pada tulisan sebelumnya saya membahas banjir informasi dan krisis makna di ruang-ruang belajar, maka pada tulisan kedua ini saya ingin mengajak kita melihat persoalan lain yang tidak kalah penting: di tengah arus informasi yang bergerak semakin cepat, anak-anak kita perlahan kehilangan kedalaman dalam belajar. Hari ini, dunia bergerak dengan ritme yang belum pernah dialami generasi-generasi sebelumnya. Informasi datang bertubi-tubi tanpa jeda. Dalam hitungan menit, seseorang bisa melihat ratusan video, membaca puluhan komentar, berpindah dari satu topik ke topik lain, lalu melupakan semuanya beberapa saat kemudian. Kita hidup dalam budaya yang terus mendorong manusia untuk bergerak cepat, bereaksi cepat, dan berpikir cepat.

Anak-anak kita tumbuh di tengah situasi itu. Mereka lahir ketika internet sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Mereka terbiasa dengan layar yang terus menyala, notifikasi yang tak pernah berhenti, dan algoritma yang selalu tahu apa yang ingin mereka lihat berikutnya. Dunia digital membentuk cara mereka menerima informasi, cara mereka memberi perhatian, bahkan perlahan membentuk cara mereka belajar. Di satu sisi, ini tentu membawa banyak peluang. Pengetahuan menjadi lebih mudah diakses. Belajar tidak lagi terbatas ruang kelas. Anak-anak bisa mengetahui banyak hal yang dulu sulit dijangkau. Tetapi di balik kemudahan itu, ada sesuatu yang perlahan hilang: kemampuan untuk tinggal lebih lama dalam satu pemikiran.

Yuval Noah Harari dalam Nexus menjelaskan bahwa manusia modern hidup dalam jaringan informasi yang sangat kompleks. Persoalannya hari ini bukan lagi kekurangan informasi, melainkan ketidakmampuan manusia mengolah limpahan informasi itu menjadi pemahaman yang bermakna. Informasi bergerak jauh lebih cepat daripada kemampuan manusia untuk merenunginya. Dan mungkin, itulah yang sedang terjadi di ruang-ruang kelas kita. Kita mulai melihat anak-anak yang mampu menemukan jawaban dengan sangat cepat, tetapi sulit menjelaskan alasan di balik jawabannya. Mereka terbiasa membaca singkat, tetapi kesulitan bertahan membaca panjang. Mereka cepat mengetahui sesuatu, tetapi tidak cukup lama memikirkan sesuatu.

Budaya scrolling perlahan membentuk budaya belajar. Anak-anak terbiasa berpindah sebelum sempat mendalami. Mereka melihat banyak hal, tetapi tidak benar-benar menyelami apa pun. Perhatian mereka mudah terpecah. Konsentrasi menjadi pendek. Bahkan membaca satu halaman penuh tanpa terdistraksi mulai menjadi tantangan tersendiri. Ironisnya, sekolah kadang tanpa sadar ikut memperkuat situasi ini. Pembelajaran masih sering terjebak pada target penyelesaian materi, bukan kedalaman pemahaman. Siswa didorong cepat menyelesaikan tugas, cepat menjawab soal, cepat memperoleh nilai. Kecepatan menjadi ukuran keberhasilan, sementara proses berpikir perlahan mulai kehilangan tempat.

Padahal, belajar sejatinya tidak pernah lahir dari ketergesaan.

Pemahaman membutuhkan waktu. Ia tumbuh melalui perhatian, pengulangan, dialog, pengalaman, dan refleksi. Seseorang tidak benar-benar memahami hanya karena ia pernah membaca. Pemahaman lahir ketika pengetahuan diolah, dipertanyakan, dikaitkan dengan kehidupan, lalu dimaknai secara personal. Di sinilah saya melihat mengapa Pembelajaran Mendalam menjadi sangat relevan bagi pendidikan kita hari ini.

Dalam Naskah Akademik Pembelajaran Mendalam, ditegaskan bahwa salah satu tantangan pendidikan Indonesia adalah masih dominannya pembelajaran dangkal: pembelajaran yang terlalu bertumpu pada hafalan, ceramah satu arah, dan belum cukup menumbuhkan kemampuan berpikir kritis peserta didik. Bahkan muncul fenomena yang sangat mengusik: bersekolah tetapi tidak belajar. Kalimat itu sesungguhnya menggambarkan krisis yang sedang kita hadapi. Anak hadir di sekolah, mengikuti pelajaran, mengerjakan tugas, bahkan memperoleh nilai baik. Namun proses memahami secara mendalam belum tentu benar-benar terjadi. Pengetahuan sering berhenti di permukaan. Belajar menjadi aktivitas administratif, bukan perjalanan intelektual dan reflektif.

Karena itu, Pembelajaran Mendalam hadir bukan sekadar sebagai perubahan metode pembelajaran. Ia sesungguhnya merupakan respons terhadap perubahan zaman. Pembelajaran Mendalam mengajak peserta didik belajar secara berkesadaran (mindful), bermakna (meaningful), dan menggembirakan (joyful). Peserta didik tidak hanya diminta mengetahui sesuatu, tetapi memahami, mengaplikasikan, dan merefleksikannya dalam kehidupan nyata.

Pendekatan ini penting karena dunia digital hari ini cenderung mendorong manusia hidup di permukaan. Semua serba cepat, serba singkat, serba instan. Sementara Pembelajaran Mendalam justru mengajak anak berhenti sejenak, memberi perhatian penuh, lalu menyelami pengetahuan secara lebih utuh.

Dalam konteks ini, guru menjadi semakin penting. Di era ketika informasi tersedia di mana-mana, peran guru bukan lagi sekadar penyampai materi. Teknologi bahkan dapat melakukannya lebih cepat. Tetapi teknologi tidak dapat menggantikan kemampuan guru dalam membangun kedalaman manusia. Guru membantu anak belajar berpikir tenang di tengah dunia yang gaduh. Membantu mereka membaca lebih sabar di tengah budaya serba singkat. Membantu mereka bertanya lebih dalam di tengah banjir jawaban instan. Guru bukan sekadar penghubung informasi. Guru adalah penjaga kedalaman. Dan mungkin, itulah tantangan terbesar pendidikan masa depan: bukan bagaimana membuat anak memperoleh lebih banyak informasi, tetapi bagaimana menjaga mereka tetap mampu berpikir mendalam di tengah dunia yang bergerak terlalu cepat. Karena pada akhirnya, masa depan tidak akan dimenangkan oleh mereka yang paling cepat menemukan jawaban, melainkan oleh mereka yang mampu memahami dunia secara lebih dalam, lebih tenang, dan lebih manusiawi