PPL adalah singkatan dari Praktik Pengalaman Lapangan. Ini adalah program atau kegiatan yang dirancang untuk memberikan mahasiswa (terutama di bidang pendidikan) pengalaman langsung di lapangan, khususnya di lingkungan sekolah, untuk mengaplikasikan teori yang telah dipelajari di kelas. Tujuannya, untuk mempersiapkan mahasiswa menjadi tenaga pendidik yang profesional.
Tujuan dari PPL lainnya antara lain untuk membentuk mahasiswa praktikan menjadi calon guru atau calon tenaga kependidikan lain yang profesional, sesuai prinsip-prinsip pendidikan berdasarkan kompetensi profesional, personal dan kemasyarakatan.
KKN adalah singkatan dari Kuliah Kerja Nyata, sebuah program pengabdian kepada masyarakat yang wajib diikuti oleh mahasiswa di Indonesia. Program ini bertujuan untuk memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa dalam menerapkan ilmu yang telah mereka pelajari di kampus, serta membantu menyelesaikan masalah yang ada di masyarakat.
Sejarah KKN dapat ditelusuri kembali ke tahun 1960-an di Indonesia. Program ini diperkenalkan untuk pertama kalinya pada masa pemerintahan Presiden Soekarno. Pada awalnya, KKN dilaksanakan oleh mahasiswa Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta sebagai bagian dari program “Kuliah Kerja Rakyat.” Tujuan utama program ini adalah untuk membantu pembangunan pedesaan, memperkenalkan mahasiswa dengan kondisi di pedesaan, dan mengembangkan sikap kepemimpinan serta kepedulian sosial. Namun, selama beberapa tahun terakhir, program KKN di Indonesia juga telah menghadapi beberapa kontroversi. Beberapa laporan menyebutkan adanya penyalahgunaan dan pelanggaran etika dalam pelaksanaan program ini, seperti pengabaian masalah masyarakat setempat, kurangnya pengawasan, dan pengaruh politik yang merugikan. SMP Muhammadiyah 4 Yogyakarta menerima PPL dan KKN sekaligus, mahasiswa dari Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta. Sebagaimana tujuan dari KKN dan PPL, SMP Muhammadiyah 4 Yogyakarta dan masyarakat setempat dalam memberi peluang kepada mahasiswa untuk mengembangkan ilmunya. Adapun pesertanya adalah sebagai berikut:
Secara sederhana, talenta adalah pola pikir, perasaan, dan perilaku yang produktif dan alami pada diri seseorang. Ini adalah bawaan atau potensi yang memungkinkan seorang anak dalam melakukan sesuatu dengan sangat baik, sering kali lebih unggul dari orang lain, dan merasa nyaman saat melakukannya.
Talenta bukanlah sekadar keterampilan yang bisa dipelajari. Meskipun keterampilan bisa diasah melalui latihan, talenta adalah dasar bawaan yang membuat proses belajar dan berkembang menjadi lebih cepat dan efektif di bidang tertentu.
Ada banyak hal yang dapat kita lakukan untuk mengetahui talenta, antara lain dengan mengevaluasi hobi. Kesenangan yang melekat dalam diri kita, dapat untuk mengetahui talenta seseorang. Hobi dilakukan dengan mengisi waktu luang. Namun untuk memperoleh talenta yang sesungguhnya, bukan hanya mengisi waktu luang. Talenta diasah dengan melakukan berkali-kali, dengan latihan yang rutin.
Perbedaan Talenta, Bakat, dan Keterampilan
Bakat (Aptitude). Ini adalah potensi alami atau kemampuan bawaan seseorang untuk mencapai prestasi di bidang tertentu. Bakat adalah “benih” yang ada sejak lahir, yang perlu dikembangkan.
Talenta (Talent) adalah hasil dari pengembangan bakat. Ketika bakat diasah dan digabungkan dengan pengetahuan serta pengalaman, ia akan berubah menjadi talenta. Talenta adalah bakat yang sudah matang dan terwujud dalam kinerja yang luar biasa.
Keterampilan (Skill) merupakan kemampuan praktis yang diperoleh melalui proses belajar dan latihan. Keterampilan dapat dimiliki oleh siapa saja, terlepas dari bakat atau talenta mereka, namun orang dengan talenta yang relevan akan lebih cepat menguasai keterampilan tersebut.
Senin, 4 Agustus 2025 merupakan hari yang ceria dan meriah. Sisa menampil kemampuan seni maupun ketrampilan dihadapan teman-temannya. Demikian pula Bapak dan Ibu guru tak ketinggalan untuk mengolah ketrampilan, khususnya dalam masak memasak. Berbagai jenis masakan disajikan dengan bahan dasar protein (tahu).
Berkenan sebagai yuri untuk got talent dipercayakan kepada Bapak Deni, Ibu Rianingsih dan Bapak Priyoto. Sedangkan untuk lomba masak dipercayakan kepada komite sekolah.
Perolehan kejuaraan sebagai berikut:
A. Lomba Pawai Juara 1 : Kelas VIIIA Juara 2 : Kelas IXB Juara 3 : Kelas VIIIB B. Lomba Got Talent Juara 1 : Kelas 9D Juara 2 : Kelas 9B Juara 3 : Kelas 7C C. Lomba Masak Juara 1 : Kelompok 1 Juara 2 : Kelompok 4 Juara 3 : Kelompok 6
Hari ini, tujuh puluh tahun yang lalu, kami lahir.
Hari ini, tujuh puluh tahun yang lalu, kami melihat dunia
Hari ini, tujuh puluh tahun yang lalu, kami ingin menjadi pemimpin
Jum’at 1 Agustus 2025, tak dapat dipungkiri bahwa keluarga besar SMP Muhammadiyah 4 Yogyakarta bersuka cita dalam rangka memperingati hari kelahiran yang ke-70. Rasa suka ini akan kami bagikan kepada semua saja yang concern terhadap dunia pendidikan. Masa depan akan selalu cerah bila pendidikan diutamakan dalam setiap lini kehidupan. Pendidikan akan menjadi pilihan utama untuk menapaki kehidupan liku-liku kehidupan.
Kami akan selalu bersyukur meski usia akan terus menua. Sebab kami percaya, ada pemeo yang selalu dipegang oleh warga Muhammadiyah, bahwa sebelum patah, akan tumbuh generasi yang baru. Sehingga tidak ada kekosongan generasi. Dahlan-Dahlan muda akan selalu bermunculan mengisi kekosongan kepemimpinan. Bukan hanya menyelipkan kehampaan, namun juga mampu mengembangkan dan menyempurnakan persyarikatan.
Memperingati hari ulang tahun kelahiran seseorang atau organisasi, termasuk masalah ijtihadiyah. Tidak ada nash yang menunjukkan atau dapat dijadikan dasar secara langsung dalam menetapkan hukumnya. Dasar-dasar umum agama Islam terkandung dalam al-Qur’an dan as-Sunnah dapat dijadikan dasar dalam menetapkan hukumnya.
Dalam milad tersebut hadir dari Pimpinan Daerah Muhammadiyah Bapak Ananta Heri Pamono, SE, MM. Dalam sambutannya menyinggung maslah mutu pendidikan. Bahwa untuk meningkatkan kualitas pendidikan, tidak datang hanya dari sekolah, atau persyarikatan saja. Mutu pendidikan diangkat dari berbagai sektor, termasuk orangtua dan lingkungan.
Turut hadir pula dari Majelis Pendidikan Dasar, Mengah dan Pendidikan Non Formal Bapak Dr. Ishafit, M.Si. Turut hadir pula Kepala Kemag Kota Yogyakarta, Kemantren Pakualaman, Kelurahan serta RT dan RW. Tampak mantan Kepala Sekolah dan guru serta tenaga pendidian yang sudah mengabdi di SMP Muhammadiyah 4 Yogyakarta.
Acara diakhir dengan menyanyikan lagu Mars SMP Muhammadiyah sebagai sumbu untuk membakar energi agar semangat dan terus menyala.
Tidak mudah merangkai peristiwa tujuh puluh tahun yang lalu hingga kini, yang turukur tanpa jeda. Kesulitan yang paling hakiki adalah, karena pelaku sejarah sudah banyak yang meninggal. Sedangkan budaya yang dianut masyarakat hingga kini adalah budaya lisan. Sehingga tidak meninggalkan jejak secara tertulis. Banyak yang mengira bahwa SMP Muhammadiyah 4 Yogyakarta baru berumur sekitar dua puluh tahunan, hanya karena memandang Gedung yang sekarang.
Tampak depan gedung SMP Muh 4 di Jl. Sultan Agung sekitar tahun 1994
Tulisan berikut sebenarnya hanya gambaran sekilas tentang perjalanan SMP Muhammadiyah 4 Yogyakarta, dengan bersumber dari lisan ke lisan meskipun kurang valid.
Awalnya adalah SMP Muhammadiyah 7 Yogyakarta yang terletak di Jalan Sultan Agung No. 14 (sekarang menjadi kantor Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Yogyakarta). Dilihat dari lokasinya memang strategis, karena masuk dalam jalur H Kota Yogyakarta. Lagi pula, dekat dengan pusat pemerintahan kerajaan Mataram, yaitu Pakualaman.
Sekolahnya Pembantu
Kemunculan SMP Muhammadiyah 7 karena desakan dari masyarakat, yaitu menampung para pembantu rumah tangga yang ingin mengenyam pendidikan. Oleh Pimpinan Muhammadiyah Daerah diberi lahan di jalan sultan agung. Sarana yang ada juga sangat memprihatinkan. Sebagai gambaran, saat itu seorang guru harus membawa kapur (alat tulis waktu itu) sendiri, karena memang keterbatasan peralatan yang dimiliki. Namun demikian sekolah tetap berjalan meskipun penuh dengan prahara.
Saat sekolah tidak memiliki keuangan, merekalah yang sebenarnya membiayai sebagian besar kebutuhan pendidikan
Saat Muhammadiyah menerima usul dari masyarakat agar pembantu rumah tangga dibantu untuk melek pendidikan, Muhammadiyah memtuskan untuk membuka kelas siang atau sore. Gedung yang saat itu memenuhi syarat untuk menempung mereka adalah di SMP Muhammadiyah 2. Jadilah, beberapa pembantu rumah tangga, yang awalnya tidak ada 10 orang yang mau meluangkan waktu belajar.
Hambatan sudah pasti ada. Sekolah yang hanya satu kelas, itupun tak lebih dari 10 orang, namun semangat Bapak dan Ibu guru untuk mencerdaskan anak bangsa tak pernah luntur. Bahkan animo untuk masuk ke SMP Muhammadiyah 7 semakin besar. Hal ini terbukti setiap tahun jumlah siswa semakin meningkat. Hingga akhirnya menerima dua kelas. Peserta didik juga sudah mulai berkembang. Bukan hanya pembantu rumah tangga. Tetapi anak lulusan SD sudah berminat masuk ke SMP Muhammadiyah 7.
Sekolah Nomaden
Dari sekian banyak SMP Muhammadiyah yang ada di Kota Yogyakarta, hanya SMP Muhammadiyah 4 Yogyakarta yang dikenal dengan sekolah nomaden, berpindah tempat. Sejak berdiri, telah berpindah sebanyak enam kali. Bermula dari Jl. Sultan agung, pindah ke jl. Bayangkara (sekarang SD Muhammadiyah Ngupasan atau sebalah barat RS PKU Muhammadiyah). Waktu jam belajar masih tetap siang atau sore hari. Hanya beberapa tahun pindah lagi ke jl. Sultan Agung. Mengapa kembali lagi? Karena SMP Muhammadiyah 2 (Putri) telah pindah di jalan Kapas Yogyakarta.
Di jalan Sultan Agung, jam belajarnya sudah berubah menjadi pagi hari. Dari sinilah, sekolah sudah menerapkan manajemen yang lumayan baik. Sarananya juga sudah layak pakai, meskipun bekas dari SMP Muhammadiyah 2. Disini pula sekolah berbarengan dengan kantor PDM yang hanya berbagi sekat. Jumlah kelas telah berkembang, dari tig akelas menjadi empat kelas.
Tahun 1993, terjadi booming. Lulusan SD melimpah, sehingga hampir semua sekolah SMP menambah kelas, termasuk SMP Muhammadiyah 4 yang menjadi empat kelas parallel. Mutu lulusan SD pun waktu itu lumayan bagus. Boleh dikatakan Mupat panen prestasi. Baik dari segi akademik maupun non akademik. Berpijak dari, sekolah terus memperbaiki saran dan kelengkapan alat pemelajaran, yang pada akhirnya juga meningkatkan mutu pendidikan.
Roda pergerakan organisasi persyarikatan tahun demi tahun meningkat, baik kwalitas maupun kwantitasnya. Melalui Musyawarah Daerah (Musyda) 1995 di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), dan atas desakan dari peserta musyda, mengamanatkan agar PDM memiliki Gedung yang presentatif. Karena lahan yang ada di jalan sultan agung dianggap memenuhi syarat, maka dibangunlah Gedung PDM. Dari sini, keadaan kelas terdesak.
KGPAA Paku Alam VIII meresmikan Gedung SMP Muh 4 di Jl. Ki Mangunsarkoro 43 Yogyakarta
Dicarilah Gedung yang layak untuk proses belajar mengajar. Ketemulah sebuah Gedung di belakang Pura Pakualaman, namanya Akademi Akutansi dan Bank (AKUB), yang waktu itu dalam keadaan tidak terpakai. Disewalah Gedung tersebut yang berdurasi hanya satu semester. Kami pun harus pindah lagi ke jalan sultan agung, yang saat itu sudah jadi.
Dalam kebingungan mencari lahan untuk tempat belajar anak Mupat, tiba-tiba ada seorang kerabat Kraton Pakualaman, namanya Bapak Adi Sugondo yang berniat mewakafkan tanah beserta Gedung untuk Muhammadiyah. Lokasinya di Jl Kimangunsarkoro 43 Yogyakarta, yang sekarang ditempati.
Ibu Adi Sugondo meresmikan masjid Banaran
Waktupun bergulir detik demi detik, hingga tahun ke tahun. Ternyata, SMP Muhammadiyah 4 Yogyakarta merasa kurang lahan untuk proses belajar mengajar. Bila dahulu kekurangan ruang hanya untuk menampung siswa, sekarang merasa kekuarangan karena digunakan untuk aktivitas. Saat ini membutuhkan ruang untuk pengembangan potensi anak, agar anak dapat berkembang sesuai dengan bakat dan minatnya.
Mantan Kepala SMP Muhammadiyah 4 YogyakartaAda DR Agus Sutikno. Ketua Alumni SMP Muh. 4 JogjaPramuka jaman dulu. Belum bergelar HWAda AlumniBapak Aris Thobirin saat masih slimPaskibraka Mupat pada suatu masaSedang belajar bagaimana agar mouse tidak jatuh dari mejaSaat milad Mupat ke-50Calon ruang Lab Komp 1
Sabtu – Ahad, 26 – 27 Juli 2025, SMP Muhammadiyah 4 Yogyakarta telah melaksanakan Rapat Kerja (Raker) ke-2. Kegiatan ini merupakan rangkaian dari Raker sebelumnya. Perlu diketahui bahwa SMP Muhammadiyah 4 Yogyakarta melaksanakan program kerja berupa Raker di tahun 2025/206 dua kali. Raker pertama membahas Program Kerja di setiap lini, baik badan pembantu kepala sekolah, maupun bidang lain yang terkait langsung dengan kegiatan Sekolah.
Rapat Kerja pertama, yang telah dilaksanakan pada hari Selasa, 1 Juli 2025 berlangsung dengan hidmat. Raker ini dihadiri langsung oleh pengawas Bapak Sugiyana, M.Pd. dan semua unsur yang ada di SMP Muhammadiyah 4 Yogyakarta.
Raker kedua dilaksankan di lingkungan wisata Dieng, Wonosobo. Berangkat hari sabtu, 26 Juli 2025 menyusuri lereng Gunung Sindoro dan Gunung Prau. Semua peserta yang mengikutinya mencoba untuk melawan hawa dingin yang dapat mencapai minus dua derajad celcius. Namun demikian, semangat kebersamaan mampu mengusir dingin menjadi hangat karena kemeriahannya.
Pagi harinya, Minggu 27 Juli 2027 kami berkesempatan tadabur alam dengan mengunjungi Kawah Sikidang. Bau belerang yang menyengat menyambut kami. Ada yang tidak kuat dengan aroma belerang yang kemudian balik kanan. Ada pula yang tahan, dan mampu berfoto ria di depannya.
Lanjut ke Telaga warna sisi atas. Tampak nyata dipandang perbedaan air dalam telaga itu. Sayangnya, saat itu kami mengalami suasana kabut. Berbeda kalau pas matahari bersinar. Akan tampak berkilau terkena cahaya matahari.
Terakhir kami menikmati Candi Pendawa Lima, yang saat ini ada dua candi yang dipugar dan diperbaiki. Sehingga kami tidak dapat mengambil gambar secara utuh kelima candi itu. Candi Hindu yang merupakan peninggalan Kerajaan Kalingga, adalah tempat sesembahan. Diperkirakan dibangun pada abad ke-7.
Sudah menjadi kegiatan rutin pada awal tahun pelajaran baru. Siswa baru kelas VII secara resmi menjadi keluarga besar SMP Muhammadiyah 4 Yogyakarta. Untuk itu, perlu diperkenalkan mulai dari sarana yang tersedia sampai pada kebiasaan di sekolah.
MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah) dan MOS (Masa Orientasi Siswa) adalah dua istilah yang sering digunakan untuk kegiatan pengenalan sekolah bagi siswa baru, namun keduanya memiliki perbedaan signifikan. MPLS adalah istilah yang lebih baru dan lebih menekankan pada kegiatan edukatif dan pengenalan lingkungan sekolah secara menyeluruh, sedangkan MOS cenderung identik dengan kegiatan orientasi yang lebih tradisional dan terkadang melibatkan unsur perpeloncoan.
Alasan mengapa masa pengenalan lingkungan sekolah penting adalah karena keadaan baru yang dialami oleh siswa baru dapat menimbulkan rasa cemas dan kebingungan. Masa orientasi juga memberikan kesempatan bagi siswa baru untuk mengenal peraturan dan tata tertib sekolah, serta mengetahui lebih lanjut tentang kegiatan-kegiatan yang ada di sekolah tersebut.
Dengan mengikuti masa pengenalan lingkungan sekolah, diharapkan siswa baru akan lebih siap dan termotivasi untuk menghadapi tantangan belajar di lingkungan baru mereka.
MPLS bertujuan untuk mengenalkan mereka pada lingkungan sekolah, aturan, program, dan warga sekolah.
Mengenalkan lingkungan sekolah:
Memperkenalkan lokasi, fasilitas, dan infrastruktur sekolah kepada siswa baru.
Membantu adaptasi:
Membantu siswa baru beradaptasi dengan lingkungan sekolah yang baru, termasuk teman, guru, dan staf sekolah.
Menumbuhkan motivasi:
Menumbuhkan motivasi dan semangat belajar pada siswa baru.
Membangun interaksi positif:
Mengembangkan interaksi positif antara siswa baru dan warga sekolah lainnya.
Senin, 14 Juli 2025, SMP Muhammadiyah 4 Yogyakarta menyapa dengan penuh kekeluargaan. Bapak Erfin Widyanto, S.IP selaku Kepala Sekolah mengharapkan agar semua siswa memiliki etos belajar yang tinggi, disiplin dan penuh tanggungjawab. Khusus kelas IX, diberi wejangan agar sedari awal untuk mempersiapkan Tes Kemampuan Akademik (TKA). Karena tes ini (mungkin) barang baru bagi siswa, maka siswa kelas IX harus mengenal apa, fungsi dan tujuan TKA.
Ada juga pemandangan baru di sekolah, bahwa tahun pelajaran ini, kelas bertambah. Secara otomatis, pengajarpun harus bertambah. Ada lima guru baru, yaitu Ibu Raden Ajeng Syarifah Nur Annisa Ariyanto Soejoto, S. Si. Sebagai guru matematika. Ibu Anindia Amalia Ulfah, M. Pd, mengampu Seni Budaya dan Ketrampilan. Bapak Rafik Tri Hardian, M.Pd. sebagai Guru Pendidikan Agama Islam. Ibu Risna, S.Pd. membidangi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, dan Bapak Doni Alfarisi,S.Kom yang akan mengajar Informatika.