Penilaian Kinerja Kepala Sekolah

Penilaian Kinerja Kepala Sekolah

Kamis, 19 Desember 2024, tujuh puluh enam tahun yang lalu, ibu kota di Yogyakarta berpendah ke Sumatra Barat. Saat itu, Soekarno Hatta mengirim kawat kepada Syafrudin Prawiranegara untuk mendirikan Pemerintah Darurat. Namun tahun ini, kami harus berbaik hati kepada pengawas karena saat itu adalah Penilaian Kinerja Kepala Sekolah (PKKS).

Penilaian Kinerja Kepala Sekolah (PKKS) adalah sebuah proses sistematis yang bertujuan untuk mengukur dan menilai sejauh mana seorang kepala sekolah mampu melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya dalam memimpin suatu lembaga pendidikan. Proses ini melibatkan pengumpulan, analisis, dan interpretasi data mengenai kinerja kepala sekolah dalam berbagai aspek, mulai dari kepemimpinan akademik, manajemen sekolah, hingga hubungan dengan stakeholder.

Apa manfaatnya PKKS?

Bagi Kepala Sekolah: Mendapatkan umpan balik yang konstruktif untuk perbaikan diri, meningkatkan motivasi, dan mengembangkan karier.

Bagi Sekolah: Meningkatkan kualitas pendidikan, menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, dan mencapai tujuan sekolah.

Bagi Pemerintah: Memperoleh data yang akurat tentang kinerja kepala sekolah sebagai dasar dalam pengambilan kebijakan pendidikan.

Pada tahun ini, penilaian demikian familier. Mengapa demikian? Ternyata tidak semua bidang harus diteliti. Pengawas, Bapak Sugiyana, M.Pd. mungkin sebenarnya telah memahami kinerja semua stake holder yang ada di SMP Muhammadiyah. Sehingga memang tidak perlu secara detail harus diketahui.

Melejitkan Prestasi melalui AMT

Melejitkan Prestasi melalui AMT

SMP Muhammadiyah 4 Yogyakarta menggelar kegiatan AMT (Achievement Motivation Training) sebagai upaya pembekalan secara materi maupun mental siswa. Upaya ini dimaksudkan untuk mengangkat peserta didik. Kegiatan ini diselenggarakan untuk siswa kelas VIII sebanyak 107 siswa. Kegiatan dilaksanakan pada hari Rabu, 23 Oktober 2024 di Griya Taruna Kaliurang, dan dipandu oleh Dr Irsasri, M. Pd. CPC, CPS, CPR, CPHR, CSW, CHRS.

Ide Achievement Motivation Training (Mt) pertama kali dicetuskan oleh McClelland pada tahun 1960. Ide tersebut kemudian dikembangkan sebagai bentuk pengembangan motivasi berprestasi.

Program ini merupakan suatu bentuk pendidikan maupun pelatihan yang intinya untuk memberikan kesadaran pada seseorang atau individu supaya mengetahui potensi yang ada pada dirinya serta memotivasi individu tersebut untuk berprestasi semaksimal mungkin.  

Kegiatan AMT yang berupa outbound yang dikemas dalam bentuk permainan namun mendidik. Jenis permainan inilah sebenarnya yang digemari siswa. Sehingga meningkatkan semangat, motivasi, memperkuat mental dan meningkatkan prestasi peserta didik.

Adapun tujuan AMT antara lain:

  1. Membangun dan memelihara motivasi untuk meraih prestasi
  2. Mengenal kemampuan diri
  3. Menanam dorongan hati yang positip
  4. Mengembangkan motif berprestasi

Serangkaian AMT dilakukan mulai dari kegiatan pembukaan oleh Kepala Sekolah SMP Muhammadiyah 4 Yogyakarta, Ice breaking dan fun games. Peserta juga diberikan sesi waktu untuk menjalin kearaban dengan kuis yang menarik.