Mufourta Berbagi

Mufourta Berbagi

Salah satu tradisi di bulan Ramadhan yang biasa dilakukan masyarakat adalah berbagai takjil gratis. Tradisi ini banyak terlihat jelang buka puasa di berbagai lokasi baik itu di jalan-jalan maupun di masjid-masjid. Semangat berbagi ini memiliki makna secara agama maupun sosial. Spirit berbagi ini tidak lepas dari dorongan agama yang menganjurkan umatnya untuk berbagi keberkahan dengan sesama

Jum’at 6 Maret 2026, Komite SMP Muhammadiyah 4 Yogyakarta kembali menggelar acara “Mufourta Berbagi” (SMP Muhammadiyah 4 Yogyakarta Berbagi. Seperti tahun yang lalu, kegiatan ini terselenggara di depan sekolah, tepatnya di Jalan Ki Mangunsarkoro No. 43 Yogyakarta.

Kali ini, Komite berhasil menghimpun sekitar 800 kotak takjil yang diberikan secara Cuma-cuma kepada masyarakat yang kebetulan melewati jalan tersebut. Karena jalan tersebut satu arah, memudahkan bagi komite untuk membagi, yang tidak sampai satu jam, semua kotak takjil dapat terdistribusikan.

Tujuan utama komite melaksanakan kegiatan ini antara lain:

Meningkatkan rasa kepedulian dan empati. Berbagi takjil merupakan bentuk kepedulian terhadap sesama, terutama bagi mereka yang membutuhkan. Seperti pekerja harian, musafir, atau masyarakat kurang mampu.

Mempererat hubungan sosial Tradisi berbagi takjil sering dilakukan secara kolektif, baik oleh keluarga, komunitas, maupun organisasi. Ini menjadi ajang untuk mempererat hubungan sosial, membangun kebersamaan, serta memperkuat nilai-nilai gotong royong di masyarakat.

Memperkuat budaya gotong royong dan filantropi Bulan Ramadhan yang sering kali menjadi momentum untuk meningkatkan kegiatan sosial.

Meringankan beban sesama dalam membantu meringankan beban sebagian orang, sehingga mereka bisa berbuka tepat waktu, tanpa harus mengkhawatirkan makanan

Menumbuhkan sikap dermawan dan ikhlas Ramadhan mengajarkan nilai-nilai kedermawanan dan keikhlasan dalam memberi. Berbagi takjil menjadi salah satu bentuk latihan untuk berbagi tanpa mengharapkan balasan, melainkan semata-mata untuk menebar kebaikan

Ramadhan di Mufoarta

Ramadhan di Mufoarta

Pesantren Ramadhan, atau yang juga dikenal sebagai Pesantren Kilat, merupakan salah satu program al Islam dan Kemuhammadiyahan yang digelar di sekolah. Kegiatan ini menjadi momen penting bagi siswa dan generasi muda untuk memperdalam ilmu agama, memperbaiki akhlak, serta memperkuat karakter spiritual.

Dengan materi yang beragam, mulai dari tadarus, praktek wudlu, sholat gerhana hingga pengajian, pesantren ramadhan menjadi sarana efektif untuk mengisi waktu dengan kegiatan positif.

Adapun tujuan dari pesntren Ramadhan antara lain

Meningkatkan Pemahaman Agama. Salah satu tujuan utamanya adalah membantu peserta lebih memahami ajaran Islam secara teori dan praktek. Pesantren Ramadhan juga bertujuan membangun akhlakul karimah. Ceramah dan praktik adab harian memberikan pengalaman langsung untuk membentuk perilaku yang lebih disiplin, santun, dan penuh tanggung jawab.

Nilai-nilai seperti kejujuran, empati, kepedulian sosial, dan kesederhanaan ditanamkan melalui aktivitas harian.

Melatih Disiplin dan Manajemen Waktu, menumbuhkan Kecintaan terhadap Al-Qur’an dan Mempererat Kebersamaan dan Jiwa Sosial. Selama kegiatan pesantren, peserta dilatih mematuhi jadwal yang teratur mulai dari ibadah hingga aktivitas pembelajaran. Kegiatan tadarus dan hafalan menjadi bagian penting Pesantren Ramadhan. Tujuannya adalah menumbuhkan kecintaan peserta terhadap Al-Qur’an sejak dini.

Dalam kesempatan tersebut, hadir sebagai pembicara adalah Om Igo yang lebih terkenal dengan sulap syariah. Dalam menjalankan prakteknya, tak sedikit mutiara-mutiara Ramadhan disampaikan dengan penuh humor. Sedangkan kelas VIII bersama dengan Ustadz Yafit Musthofa. Kajian-kajiannya tak hanya berbicara masalah spiritual, tetapi diberikan pula motivasi, dan kiat-kiat hidup di zaman yang semakin memudar akhlaknya.

Pada akhirnya, Pesantren Kilat membantu peserta memanfaatkan bulan Ramadhan dengan aktivitas penuh nilai ibadah. Mereka diajak menjalani Ramadhan dengan lebih fokus, produktif, dan penuh makna.

Mengkonsumsi Mikroplastik

Mengkonsumsi Mikroplastik

Tanpa kita sadari, hampir setiap hari kita mengkonsumsi mikropastik. Hasil Riset Micro Ecoton Sofi Azilan Aini mengatakan masuknya Mikroplastik ke dalam tubuh melewati tiga jalur. Inhalasi (pernapasan), konsumsi makanan dan paparan kulit.

Mikroplastik bukan sekadar “sampah kecil”, karena ukurannya yang mikroskopis (kurang dari 5 milimeter) namun dampaknya makroskopis. Namun, yang paling berbahaya justru yang jauh lebih kecil, hingga skala nanometer (nanoplastik), yang bisa menembus membran sel manusia.

Mikroplastik telah ditemukan di tempat-tempat yang paling tidak terduga. Mulai dari puncak Gunung Everest, sampai di dasar Palung Mariana. Dalam kehidupan sehari-hari, mikropastis dapat ditemukan di:

Sumber utama mikroplastik antara lain

  1. Mikroplastik Primer: Sengaja diproduksi dalam ukuran kecil. Contoh: Microbeads pada pembersih wajah, lulur, atau pelet plastik industri (nurdles) yang digunakan sebagai bahan baku manufaktur.
  2. Mikroplastik Sekunder: Hasil degradasi dari benda plastik yang lebih besar. Contoh: Serat sintetis yang lepas saat mencuci baju (poliester/nilon), pengikisan ban mobil saat bergesekan dengan aspal, atau botol plastik yang hancur karena sinar UV dan ombak di laut.

Bila tidak hati-hati dalam memanfaatkan bahan-bahan yang tersebut di atas, maka akan mengancam kesehatan. Karena mikroplastik mengandung bahan kimia yang berbahaya seperti: dioksin (senyawa beracun yang merupakan polutan organic), polietilen (polimer plastic yang banyak digunakan dalam industry kimia) dan polipropilen (banyak digunakan untuk wadah makanan, kemasan, dan produk rumah tangga).

Dampak bagi Kesehatan antara lain

  1. Kanker. Endapan mikroplastik yang tidak dapat dicerna tubuh, sehingga menimbulkan iritasi hingga memicu peradangan.
  2. Gangguan Hormon. Zak aditif dalam plastic dapat mengganggu system endokrin, memicu ketidak stabilan.
  3. Penurunan Imunitas. Mikroplastik dapat mengganggu system kekebalan tubuh dan menyebabkan perubahan DNA
  4. Masalah pencernaan. Melalui makan dan air minum, mikroplastik dapat menyebabkan pembengkakan usus dan memengaruhi organ tubuh lainnya.

Sumber bacaan: https://www.tempo.co/gaya-hidup/ancaman-mikroplastik-bagi-kesehatan–1885352

Urgensi Menulis Kreatif di Pesantren Ramadan

Urgensi Menulis Kreatif di Pesantren Ramadan

Oleh Muhammad Subhan

TRADISI intelektual Islam di Nusantara, khususnya di ranah Minangkabau, tidak pernah lepas dari aktivitas literasi, khususnya tulis-menulis.

Jika kita menengok jauh ke belakang, para ulama besar tidak hanya piawai berorasi di atas mimbar, tetapi juga tajam dalam menggoreskan pena.

Mereka memahami betul bahwa suara akan hilang ditiup angin, namun tulisan akan abadi melampaui usia pemiliknya.

Sebut saja Buya Hamka. Sosok ulama kharismatik ini adalah bukti nyata bagaimana dakwah dan sastra bisa bersenyawa dengan indah.

Melalui kitab tafsir dan buku-buku filsafat Islamnya, ia menyentuh logika umat. Pun, melalui roman-romannya, ia menyentuh relung emosi dan kemanusiaan.

Hamka tidak sendirian. Deretan nama ulama lain seperti Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, Haji Abdul Karim Amrullah (HAKA), Zainuddin Labay, hingga M. Natsir adalah barisan “singa podium” yang juga “pendekar pena”.

Mereka melakukan dakwah bil qalam (dengan pena), sebuah metode yang membuat pemikiran mereka tetap relevan meski zaman telah berganti dari kolonialisme menuju era disrupsi digital.

Namun, ada fenomena yang terputus dalam transmisi keilmuan di generasi sekarang. Saat Ramadan tiba, masjid dan musala dipenuhi pelajar dalam agenda “Pesantren Ramadan”. Sayangnya, kurikulum yang disajikan terkesan monoton: ceramah cenderung searah terutama tentang Fiqh, Tauhid, dan Tarikh. Jarang—bahkan nyaris tidak ada—ruang yang memberikan porsi lebih bagi “Keterampilan Menulis Kreatif”, khususnya sastra.

Padahal, menulis kreatif bukan sekadar merangkai kata agar terlihat estetis. Bagi seorang santri atau pelajar, menulis sastra (puisi, cerpen, atau esai reflektif) adalah latihan mengolah rasa dan empati. Sastra memungkinkan nilai-nilai agama tidak hanya dipahami sebagai deretan hukum “boleh” dan “tidak boleh”, tetapi dirasakan sebagai ruh yang menghidupkan nilai-nilai kemanusiaan.

Menulis kreatif melatih anak muda untuk berpikir kritis dan sistematis. Saat seorang remaja mencoba menulis cerpen islami, ia dipaksa untuk melakukan riset, membangun karakter, dan memecahkan konflik apa pun dalam narasinya.

Ini adalah simulasi kehidupan.

Tanpa kemampuan menulis kreatif, dakwah generasi muda di masa depan berisiko menjadi kaku, kering, dan kehilangan daya pikat di tengah gempuran konten visual yang serba cepat.

Mengapa sastra begitu penting bagi Generasi Z dan Alpha?

Di tengah kepungan media sosial yang memicu rentang perhatian (attention span) yang pendek, membaca dan menulis sastra adalah “oase” untuk melatih fokus.

Membaca sastra memperkaya kosakata dan memperhalus budi pekerti. Dengan membaca karya-karya maestro, anak muda belajar tentang kompleksitas sosial dan sejarah tanpa merasa digurui. Mereka bisa memahami beratnya perjuangan dakwah masa lampau melalui narasi, bukan sekadar angka tahun di buku sejarah.

Menulis sastra juga dapat dijadikan sebagai terapi kesehatan mental. Di era di mana kecemasan remaja meningkat, menulis menjadi medium katarsis untuk menuangkan kegelisahan menjadi karya yang positif. Sastra memberikan ruang bagi mereka untuk jujur pada diri sendiri.

Membaca dan menulis karya sastra dapat dijadikan bekal kepemimpinan. Pemimpin masa depan adalah mereka yang mampu berartikulasi dengan baik.

Kemampuan menyusun narasi kreatif adalah soft skill tertinggi di era kecerdasan buatan (AI). AI mungkin bisa mengolah data, tapi AI tidak memiliki “pengalaman batin” yang menjadi ruh dari sebuah tulisan sastra yang menyentuh hati.

Memasukkan materi menulis kreatif ke dalam kurikulum Pesantren Ramadan adalah langkah strategis untuk melakukan kaderisasi penulis.

Bayangkan jika panitia Pesantren Ramadan mengundang sastrawan, wartawan, atau penulis sebagai narasumber pendamping. Anak-anak tidak hanya diminta merangkum ceramah, tetapi juga diajak mengonversi isi ceramah tersebut menjadi puisi, cerpen, atau karya kreatif lainnya.

Output-nya pun bisa sangat dahsyat.

Jika satu masjid menghasilkan satu buku antologi karya santri setiap Ramadan, maka akan lahir ribuan literatur baru yang lahir dari rahim rumah ibadah. Masjid kembali menjadi pusat peradaban dan kebudayaan, bukan sekadar tempat ritualitas ibadah mahdah.

Pendampingan ini harus dilakukan secara berkelanjutan. Menulis adalah keterampilan yang ibarat pisau; harus terus diasah agar tidak tumpul.

Pesantren Ramadan harus menjadi momentum awal, yang kemudian dilanjutkan oleh sanggar-sanggar menulis di sekolah atau komunitas baca di masyarakat.

Momentum yang tercipta di Pesantren Ramadan tidak boleh dibiarkan menguap begitu saja seiring berakhirnya bulan suci. Pelatihan menulis di masjid harus dipandang sebagai “pemantik api” yang perlu dijaga nyalanya melalui ekosistem yang lebih permanen.

Keberlanjutan ini krusial karena keterampilan menulis bukanlah bakat alami yang jatuh dari langit, melainkan otot intelektual yang butuh dilatih secara repetitif.

Tanpa wadah pasca-pelatihan, antusiasme remaja untuk berkarya akan luruh tertimbun rutinitas akademik yang seringkali kaku.

Sekolah dan komunitas harus mengambil tongkat estafet ini, menyediakan ruang diskusi yang lebih intens, serta menjadi “rumah kedua” bagi para penulis muda untuk bereksperimen dengan imajinasinya.

Lebih jauh lagi, peran sanggar menulis dan komunitas baca adalah melakukan kurasi dan pendampingan yang lebih personal. Jika di Pesantren Ramadan materi bersifat pengenalan dasar, maka di komunitas inilah proses “penempaan” yang sesungguhnya terjadi.

Di sini, para calon penulis muda belajar tentang proses swasunting (self-editing), teknik narasi yang lebih kompleks, hingga cara mengirimkan karya ke media massa atau penerbit.

Komunitas-komunitas ini berfungsi sebagai laboratorium ide, tempat di mana mereka tidak hanya membaca karya-karya hebat, tetapi juga membedahnya untuk memahami anatomi tulisan yang mampu menggerakkan pembaca.

Adanya pembinaan yang rutin, semangat dakwah bil qalam yang dimulai dari masjid akan bertransformasi menjadi kompetensi profesional yang membekali mereka menghadapi tantangan zaman.

Sinergi antara lembaga keagamaan, sekolah, dan komunitas literasi akan membentuk sebuah sabuk pengaman budaya bagi generasi muda. Di tengah gempuran konten digital yang sering kali nir-makna, keberadaan sanggar menulis menjadi benteng pertahanan bagi akal sehat dan kedalaman rasa.

Ketika seorang remaja telah terbiasa menulis kreatif di lingkungannya, ia tidak akan mudah terombang-ambing oleh arus informasi yang dangkal. Ia akan tumbuh menjadi individu yang reflektif, mampu menyuarakan kegelisahan sosialnya melalui karya (sastra) yang santun dan bernas.

Inilah investasi jangka panjang yang kita harapkan, yaitu sebuah generasi yang tidak hanya mahir membaca zaman, tetapi juga mampu menuliskan sejarahnya sendiri dengan tinta kreativitas.

Kita merindukan lahirnya “Hamka-Hamka Baru” yang mampu membumikan kata-kata lewat karya. Kita menantikan “Natsir-Natsir Muda” yang mampu berdialektika di ruang publik dengan tulisan yang bernas namun tetap santun.

Selamat menjalankan ibadah puasa Ramadan 1477 Hijriah/2026 Masehi. Mari membumikan kalam (literasi), menghidupkan batin dengan tulisan. (MUHAMMAD SUBHAN)

Sambut Ramadhan 2026/1447 H, Mupat Adakan Tarhib Ramadhan

Sambut Ramadhan 2026/1447 H, Mupat Adakan Tarhib Ramadhan

Dalam rangka menyambut datangnya bulan suci Ramadhan 2026/1447 H, SMP Muhammadiyah 4 Yogyakarta atau Mupat mengadakan kegiatan Tarhib Ramadhan. Tarhib Ramadhan merupakan tradisi menyambut bulan suci dengan kebahagiaan dan suka cita. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Jum’at, 13 Februari 2026 pukul 07.00-12.30 WIB dan diikuti oleh seluruh siswa, guru, dan karyawan SMP Muhammadiyah 4 Yogyakarta. Tarhib Ramadhan ini diawali dengan pawai kemudian dilanjutkan dengan Kajian Songsong Ramadhan.

Kegiatan pawai dilaksanakan dengan berjalan kaki. Pada kegiatan ini, siswa diizinkan memeriahkan acara dengan membawa perlengkapan seperti spanduk dan papan ucapan. Adapun rute kegiatan yaitu dimulai dari SMP Muhammadiyah 4 Yogyakarta – Jl. Notowinatan – Jl. Suryopranoto – Jl. Sewandanan – Jl. Masjid – Jl. Purwanggan – Jl. Mangunsarkoro kemudian kembali ke SMP Muhammadiyah 4 Yogyakarta tercinta.

Kegiatan dilanjutkan dengan Kajian Songsong Ramadhan yang diisi oleh Ustadz Agus Al Sayid dan bertempat di Pendopo Banaran SMP Muhammadiyah 4 Yogyakarta. Kajian ini bersifat interaktif di mana sang ustadz mengajak para siswa untuk bernyanyi, berdoa, dan tertawa bersama. Selain itu disediakan hadiah menarik bagi siswa yang aktif serta bisa menjawab pertanyaan dengan tepat. Para siswa mengaku senang dengan kegiatan Tarhib Ramadhan ini.

Kegiatan Tarhib Ramadhan ditutup dengan shalat Jum’at berjamaah bagi laki-laki dan shalat dhuhur berjamaah untuk perempuan.

Inovasi atau Mati

Inovasi atau Mati

Hampir tiap tahun kita mendengar berita ada sekolah yang ditutup atau dimerger dikarenakan tidak mendapatkan murid. Kalaupun ada murid sangat minimalis untuk mengatakan tidak memenuhi standar pengelolaan yang ideal. Terutama ini terjadi di jenjang sekolah dasar negeri. Meskipun sekolah swasta pun juga ada untuk jenjang sekolah menengah. Begitu pula sekolah Muhammadiyah. Ada beberapa sekolah Muhammadiyah yang tutup dan kini sudah “beralih fungsi” menjadi sekolah dengan brand dan tampilan baru. Atau menjadi sekolah baru.

Kasus sekolah tutup atau merger salah satunya dikarenakan kegagalan sekolah atau lembaga dalam membaca tanda-tanda zaman. Kegagalan dalam beradaptasi dan berinovasi. Kata Steve Jobs, “inovasi atau mati”. Meskipun kata-kata ini awalnya adalah dalam pengembangan dunia bisnis dan managemen kepemimpinan, akan tetapi tetap relevan dengan dunia pendidikan saat ini. Artinya jika sebuah lembaga atau sekolah tidak mampu melakukan inovasi dan kreativitas dalam layanan pendidikan, maka lembaga atau sekolah tersebut tidak akan diminati masyarakat, sehingga perlahan namun pasti akan mengalami kematian. Oleh karena itu, bagi sekolah Muhammadiyah, hal itu tidak boleh terjadi. Pengelola sekolah Muhammadiyah harus berpikir antisipatif dan adaptif dengan perubahan yang terjadi.

Sebuah Kepastian

Perubahan adalah sebuah kepastian. Kegagalan berinovasi berarti terjadi kemandegan dalam berpikir dan bertindak. Terjadi stagnasi dan fixed mindset. Yang berkembang adalah pola pikir tetap bukan pola pikir bertumbuh. Terjebak dalam zona nyaman dan ini akan dilampaui oleh kompetitor kita. Oleh karena itu ada beberapa hal yang bisa dilakukan oleh pengelola sekolah Muhammadiyah khususnya dan pendidikan non-Muhammadiyah pada umumnya.

Pertama, melakukan rebranding terhadap sekolah atau lembaga kita. Secara umum, branding sekolah bertujuan untuk membangun citra dan reputasi yang positif di mata masyarakat. Persepsi masyarakat terhadap sekolah sangat mempengaruhi eksistensi sekolah kita. Manakala persepsinya bagus maka sekolah kita akan diminati oleh masyarakat. Salah satu ikhtiar untuk mempengaruhi persepsi masyarakat adalah dengan membuat brand baru terhadap lembaga atau sekolah kita. Tentu saja brand tersebut yang marketable dan mempunyai daya tarik serta kekinian. Artinya, brand baru itu memberikan persepsi kepada masyarakat bahwa sekolah atau lembaga kita layak untuk diminati dan dipilih. Apakah itu dengan logo baru, tagline baru, image building yang baru serta masih banyak hal yang bisa dilakukan dalam rebranding ini.

Kedua, memberikan bukti nyata atau produk riil terhadap masyarakat. Bahwa sekolah atau lembaga kita mampu menghasilkan output yang berkualitas dan bermutu. Lulusan dari sekolah kita memiliki keungulan dan daya saing tinggi. Baik keunggulan kompetitif maupun komparatif. Ketika dikompetisikan dan dikomparasikan dengan sekolah lain, siswa kita tetap unggul. Bukti nyata atau produk riil salah satunya adalah dilihat dari prestasi (akademis dan non-akademis) yang diraih oleh sekolah.

Ketiga, penguatan pelayanan prima atau service excellent. Pendidikan bergerak di bidang jasa. Jasa sangat terkait dengan pelayanan maka lembaga atau sekolah yang ingin eksis harus menjadikan pelayanan prima menjadi prioritas utama. Apakah itu pelayanan prima untuk eksternal maupun internal. Banyak lembaga yang mengalami kemunduran disebabkan lemahnya dalam pemberian pelayanan ini.

Keempat, memiliki ciri khas yang berbeda dengan sekolah lain. Ciri khas ini akan menjadi diferensiasi atau daya beda dengan kompetitor. Dengan inovasi yang kuat maka akan muncul diferensiasi di mata konsumen atau masyarakat. Diferensiasi itu pula yang akan membedakan brand sekolah kita dengan sekolah lain. Apalagi sekolah Muhammadiyah yang notabenenya sudah memiliki ciri khas tersendiri yakni pendidikan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan. Sekolah Muhammadiyah yang dirintis oleh Kiai Ahmad Dahlan adalah memiliki spirit/simbol unggul dan berkemajuan.

Kiai Dahlan tidak hanya hanya mengajarkan Islam, tetapi juga memberi contoh nyata dalam spirit Al-Ma’un: mendorong siswa untuk peka terhadap kemiskinan dan ketidakadilan. Siswa dilatih untuk “melihat, bergerak, dan memberi solusi.” Selain itu beliau juga melakuan inovasi dan kewirausahaan. Beliau berani mendirikan sekolah di tengah tradisi pesantren yang dominan, menunjukkan semangat berinovasi. Sekolah harus menanamkan jiwa kewirausahaan sosial. Semoga dengan spirit unggul dan berkemajuan serta inovasi ini menjadikan sekolah muhamamdiyah tetap eksis dan selalu memberi kebermanfaatan untuk umat serta bangsa.

Sumber tulisan: https://muhammadiyahsolo.com/20251124/inovasi-atau-mati-13227