Laskar al Ma’un

Laskar al Ma’un

Kamis, 24 April 2025, siswa kelas IX SMP Muhammadiyah 4 Yogyakarta telah melaksanakan bhakti sosial di Panti Asuhan Yatim Putri “An Nur Sumberharjo” Prambanan. Panti ini dikelola oleh Pimpinan Ranting ‘Aisyiyah Sumberharjo Prambanan.

Kegiatan ini bersifat rutin setiap tahun, saat menjelang ujian ataupun ASPD. Pada tahun ini, siswa kelas IX berhasil mengumpulkan

NoJenisJumlah
NoJenisJumlah
1Beras52 Kg
2Minyak Goreng32 liter
3Gula Pasir38 Kg
4UangRp. 3.300.000,00

Pondok yang diasuh oleh Ibu Minhayati, S.Pd. tersebut telah lama berdiri dan telah menghasilkan anak asuh yang terjun ke masyarakat. Keberhasilan tersebut bukan hanya dari pengurus semata, namun berkat kerjasama antar lembaga yang ada di Muhammadiyah.

Bakti sosial, atau yang sering disingkat baksos, adalah sebuah bentuk kepedulian dan tanggung jawab sosial yang diwujudkan melalui berbagai kegiatan untuk membantu dan memberdayakan masyarakat, terutama mereka yang kurang beruntung atau membutuhkan bantuan. Kegiatan ini biasanya dilakukan secara sukarela dan tanpa mengharapkan imbalan materi.

Adapun tujuan dari bakti sosial antara lain:

  • Sebagai upaya berminajat kepada Allah dari sisi kepeduloian
  • Bersifat sukarela dan tidak memaksa
  • Bertujuan untuk membantu orang lain atau lingkungan
  • Tidak berorientasi pada keuntungan pribadi
  • Melibatkan partisipasi aktif dari pelaku bakti sosia
Syawalan Keluarga

Syawalan Keluarga

Sungguh di luar dugaan. Tidak seperti tradisi yang pernah dilaksanakan. Tahun ini tampaknya masih bersamaan dengan syawalan keluarga masing-masing Bapak dan Ibu guru. Terbukti banyak yang tidak hadir pada acara tersebut.

Semangat Idul fitri 1446 H masih begitu kental meski hari telah menjauh dari 1 syawal.  Keluarga besar SMP Muhammadiyah 4 Yogyakarta melaksanakan acara Syawalan yang penuh makna dengan tema “Mengasah kepekaan diri agar menjadi Muslim yang lebih baik dan meraih kemenangan”. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Ahad, 6 April 2025.

Acara Syawalan ini dihadiri oleh seluruh keluarga besar SMP Muhammadiyah 4 Yogyakarta. Tamu undangan yang dapat hadir antara lain dari Persyarikatan Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah dari Pimpinan Daerah sampai Ranting, Instansi Kemantren Pakualaman, Komite dan undangan masyarakat seputar.

Tausiah diisi langsung oleh H. Edi Sukoco, S. Kes. Dari PDM Kota Yogyakarta. Sebelum acara tausiah, terlebih dahulu dilaksanakan pengukuhan Komite Sekolah periode 2025 – 2027, yang dikomandani oleh Bapak Agus. Acara pengukuhan dipandu oleh Majelis Dikdasmen dan PNF PDM Kota Yogyakarta yang dipimpin oleh DR. Ishafit.

Momen yang harus selalu hadir adalah ikrar Syawalan, di mana seluruh peserta bersama-sama mengucapkan ikrar permohonan maaf dan komitmen untuk saling menghargai, memaafkan, serta menjaga kebersamaan di lingkungan sekolah. Ikrar ini menjadi simbol penyatuan hati dan semangat baru dalam menjalani hari-hari ke depan dengan lebih positif dan harmonis.

Rapat Anggota Tahunan

Rapat Anggota Tahunan

Bertempat di Rumah Makan mbah Rono Ayam Goreng jalan Jambon Km 1, Koperasi Amal Sejahtera SMP Muhammadiyah 4 melaksanakan Rapat Anggota Tahunan (RAT) tahun 2024. Dari semua anggota yang diundang secara resmi, ada tiga anggota yang ijin tidak hadir karena bersamaan dengan tugas lainnya.

Mengapa RAT penting untuk kelangsungan koperasi? Karena memiliki peran strategis dalam menjaga transparansi dan akuntabilitas pengurus koperasi. Disamping itu, anggota juga memiliki kesempatan untuk:

Mengevaluasi Kinerja Pengurus: Anggota dapat melihat sejauh mana pengurus telah menjalankan program kerja yang telah disepakati pada tahun sebelumnya.

Menyetujui Laporan Keuangan: Anggota dapat memeriksa dan menyetujui laporan keuangan koperasi, memastikan bahwa dana yang dikelola transparan dan akuntabel.

Menetapkan Rencana Kerja dan Anggaran: Anggota dapat berpartisipasi dalam penyusunan rencana kerja dan anggaran untuk tahun berikutnya, sehingga program yang dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan dan aspirasi anggota.

Beberapa evaluasi, sekaligus memacu kinerja untuk satu tahun kedepan adalah:

Anggota harus rajin berbelanja di koperasi sekolah. Tidak hanya nilai minimal berbelanja, namun diusahakan melebihi dari ketentuan yang diputuskan Bersama

Untuk tahun depan, mungkin untuk sector simpan pinjam agak berat. Karena beberapa guru akan purna tugas, sehingga uang yang ada di koperasi akan berkurang.

Menghimbau kepada sekolah, agar diberi keleluasaan untuk menggali sumber-sumber keuangan demi menambah pundi-pundi koperasi, yang pada akhirnya akan dinikmati oleh semua anggota.

Kuat karena Iman. Berani karena Benar

Kuat karena Iman. Berani karena Benar

Mendulang kesuksesan, dan meraih prestasi hampir tak pernah kering dari ladang SMP Muhammadiyah 4 Yogyakarta. Mereka yang mendapatkan kejuaraan berhak untuk mendapatkan pujian, karena mereka tak lelah untuk selalu berlatih, dan mencoba tantangan yang lebih besar.

Para jawara, masuk ke SMP Muhammadiyah 4 Yogyakarta juga tanpa sebab. Keinginan untuk menyandingkan ilmu-ilmu agama, ilmu pengetahuan dan ketrampilan senantiasa diramu menjadi sebuah niat yang terbaik. Salah satu yang mereka kendarai adalah seni bela diri Taekwondo (dieja menjadi Tae Kwon Do) adalah olahraga bela diri asal Korea.

Sebut saja Maulida Ulfa yang sering dipanggil Ulfa, membawa ketrampilan Taekwondo sejak dari SD. Ketrampilan ini terus digodok hingga memanen performa yang apik. Putri dari seorang mubaligh Bapak Margianto dan Ibu Umi, memang hobi berolahraga. Sedang cita-citanya seabreg. Ingin menjadi dokter, pengusaha yang sukses dan kaya raya, serta kepingin memiliki kos-kosan yang buka cabang dimana-mana.

Lain halnya dengan Sherly Nada Novanka. Dilihat dari namanya sebenarnya kurang nyambung. Nada itu mestinya lebih condong ke nyanyi, atau minimal musikus. Tapi bela diri Taekwondo menjadi pembeda. Disamping hobi menggambar dan bola basket, ternyata memang Ia memiliki cita-cita sebagai seorang atlit. Adapun mata pelajaran yang menjdi kegemarannya adalah matematika.
Nada, demikian setiap hari disapa, adalah putri dari pasangan Bapak Atria dan Ibu Dila adalah seorang anak yang periang. Selalu bersahabat dengan teman-teman. Belum lama ini Ia membuktikan diri sebagai penggemar seni bela diri. Mendapat juara runner up adalah sebuah capaian yang optimal. Membanggakan kedua orang tua dan juga mengangkat derajat SMP Muhammadiyah 4 Yogyakarta.

Prestasi yang diraih oleh siswi kelas 7E adalah Alya Yusa Saputri. Memiliki postur tubuh tinggi besar sangat melekat pada seorang tekwondoin. Belum lama ini juga naik podium untuk mendapatkan penghargaan sebagai seorang yang suka bela diri.

Ia sering dipanggil Alya. Meskipun telah meraih kinerja yang mumpuni, di kelas juga sebagai siswi yang bersahaja. Dekat dengan siapapun. Putri dari Bapak Yunianto dan Ibu Dila, memang patut kita acungi jempol. Eh… iya. Ia memiliki cita-cita masuk Akmil (Akademi Militer). Kita doakan semoga yang meraih juara, semua dilancarkan sesuai cita-citanya.

Anak yang berperawakan tidak kecil dan juga tidak besar adalah Sabrina Amora Salsabila, kelas 7B. Belum lama ini juga seperti teman-temannya yang disebutkan diatas, mendapatkan penghargaan sebagai jawara taekwondo. Putri dari Bapak Lea dan Ibu Watik, perlu kita apresiasi lebih dalam lagi. Meskipun baru duduk di kelas 7, tapi pundi-pundi piagam telah dikemas di sebuah tempat, sebagai monument untuk selalu belajar.

Amora, demikian nama panggilannya, memiliki cita-cita menjadi anggota militer, terutama TNI Angkatan Darat. Sebuah cita-cita yang mulai, yang harus diemban sampai mendapatkannya. Amanah ini tentu tidak mudah. Gelombang, dan aral yang melintang tak pernah terpinggirkan. Artinya sekecil rantingpun harus disingkirkan, agar hasrat untuk menjadi seorang militer dapat tergenggam. Bekal yang sudah ditanamkan adalah disiplin, baik di sekolah maupun tempat ia berlatih.

Merti Desa

Merti Desa

Merti Dusun sering disebut juga dengan bersih Desa, hakikatnya sama dengan makna simbol rasa syukur masyarakat kepada sang Pencipta atas apa yang telah diberikan. Karunia tersebut dapat berupa rejeki yang melimpah, keselamatan, ketentraman, serta keselarasan hidup di dunia. Merti desa juga berkaitan dengan ritual penghormatan kepada leluhur (nenek moyang), sehingga menghadirkan berbagai ritual simbolik terkait dengan tokoh dan riwayat yang diyakini menjadi cikal bakal keberadaannya sebagai pejuang dan babat alas Desa.

Semuanya dilakukan dengan tetap memanjatkan doa dan permohonan kepada Yang Maha Kuasa demi keselamatan, ketentraman, kesejahteraan dan keselarasan hidup seluruh warga desa. Silaturahmi, kekeluargaan, guyub, rukun, gotong royong, kebersamaan, keakraban, tepa selira, dan harmonis adalah sebagian dari sederetan kosakata yang begitu tepat dan saling menjalin makna saat menggambarkan bagaimana suasana yang terpancar dari tradisi merti desa.

SMP Muhammadiyah 4 Yogyakarta yang beralamat di Jl. Ki Mangunsarkoro 43 ikut andil bagian, kegiatan merti desa yang diselenggarakan oleh Kemantren Pakualaman pada hari Minggu 29 Maret 2024. Keikutsertaannya masih dalam rangka silaturahmi dan merasa menjadi bagian dari masyarakat Pakualaman.

Dengan mengerahkan sebagian siswa yang ikut dalam kegiatan ekstra kulikuler dari berbagai devisi, kami menampilkan budaya jawa. Hal ini lebih karena rasa cinta pada ekspresi budaya. Ikut memiliki dan sekaligus mengembangkan dalam zaman milenial.

Ada empat dimensi peristiwa merti desa secara sosiologis

Pertama, Penguatan Ikatan Komunitas. Di desa, suasana berkumpul ibarat ritual. Manifestasi dari interaksi masyarakat dan semangat kegotongroyongan. Kedua, regiositas. Merti desa mencerminkan pandangan masyarakat Jawa yang harmonis terhadap alam. Kegiatan ini sebagai bentuk syukur atas hasil bumi yang melimpah dan sebagai permohonan agar alam senantiasa memberikan keberkahan.

Ketiga, ekspresi budaya. merupakan salah satu cara masyarakat untuk melestarikan warisan budaya leluhur. Melalui tarian, musik, dan seni pertunjukan lainnya, nilai-nilai budaya lokal terus dihidupkan.

Keempat, fungsi sosial dan psikologis. Merti desa seringkali dianggap sebagai sarana untuk membersihkan diri dan lingkungan dari segala hal negatif, baik secara fisik maupun spiritual. Juga sebagai ujud partisipasi individu merasa yang menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar dan mendapatkan rasa aman serta kepuasan batin.

Berdemokrasi

Berdemokrasi

Kalau ada tiga buah pertanyaan yang ditujukan kepada kita, maka kita harus tangkas menjawabnya.

Pertanyaan pertama. Siapakah Bapak Demokrasi Dunia. Maka segera kita jawab Abraham Lincoln. Dialah presiden Amerika Serikat yang ke-16. Lahir di Kentucky 12 Februari 1809. Beliau termasuk yang kurang beruntung dalam pendidikan, karena keadaan ekonomi keluarga. Namun ia termasuk “gila membaca” ketika tidak bekerja di pertanian milik ayahnya. Mengapa dijuluki sebagai Bapak Demokrasi dunia? minimal ada dua langkah yang ditempuhnya. Pertama, berhasil menghapus perbudakan, dan yang kedua mengakhiri perang saudara.

Pertanyaan kedua. Siapakah Bapak Demokrasi Indonesia. Maka telunjuk akan mengarah kepada Presiden ke-3 yaitu B.J. Habibie. Beliau disebut-sebut sebagai sosok pembuka pintu demokrasi di Indonesia dan sukses melepaskan label orde baru, yaitu kebebasan pers, Hak Asasi Manusia dan pembentukan lembaga independen. Ada beberapa keputusan penting untuk mengatur negara. Bersama dengan elemen-elemen dalam negara, merevisi paket Undang-undang yang dihasilkan oleh pemerintahan orde baru, yaitu Undang-undang (UU) politik yang lebih demokratis, UU pemilihan umum dan UU tentang susunan dan kedudukan DPR/MPR.

Pertanyaan ketiga. Negara mana yang pertama kali menerapkan demokrasi? Athena. Warga negara Athena mendirikan negara yang umum dianggap sebagai demokrasi pertama pada tahun 507 – 508 Sebelum Masehi. Mereka mengangkat Cleisthenes sebagai bapak demokrasi Athena. Adapun negara yang menciptakan sistem demokratis adalah Perancis. Di negara ini lahir pembagian kekuasaan yang sering disebut trias politica, yaitu eksekutif, legislatif dan yudikatif. Indonesia memilih model demokrasi trias politika. Karenanya Indonesia memiliki ketiga unsur itu.

Sejalan dengan akar katanya, pengertian demokrasi menurut Carol C Gould dalam buku Kewarganegaraan untuk SMP Kelas VIII yang ditulis Hadi Wiyono adalah bentuk pemerintahan yang di dalamnya rakyat memerintah sendiri, baik melalui partisipasi langsung dalam merumuskan keputusan-keputusan yang memengaruhi mereka, maupun dengan cara memilih wakil-wakil mereka. Inti pemerintahan demokrasi adalah kekuasaan pemerintahan dimiliki oleh rakyat, yang diwujudkan dalam bentuk keikutsertaan dalam menentukan perkembangan dalam mencapai tujuan bersama. Oleh karena itu perilaku dan sikap demokrasi tidak hanya penting bagi individu, tetapi juga bagi kesejahteraan bersama serta keberlanjutan sistem demokrasi itu sendiri.

Contoh penerapan budaya demokrasi di sekolah antara lain,bermusyawarah untuk penataan tata tertib di sekolah, khususnya tata tertib di dalam kelas. Bermusyawarah dalam penyusunan kelompok piket sekolah, kelompok dalam pelajaran,dan kepengurusan kelas serta pemilihan Ketua dan Wakil Ketua IPM. Melalui projek ini diharapkan berproses melalui pengalaman belajar siswa nya  untuk mencapai 2 dimensi Profil Pelajar Pancasila, yaitu “ Berbhinekaan Global” dengan elemen Berkeadilan Sosial dan “ Bernalar Kritis” dengan elemen menganalisis dan mengevaluasi penalaran dan prosedurnya.,refleksi pemikiran  dan proses berfikir