Syawalan Siswa 1446 H

Syawalan Siswa 1446 H

Seakan sudah menjadi tradisi, bahwa setelah sebulan penuh selama Ramadhan, siswa mengalami matomorphose melaksanakan kegiatan ramadhan baik di rumah maupun di sekolah. Bulan syawal telah tiba. Masuk sekolah juga telah didepan mata.

Rabu, 9 April 2025 menurut kalender pendidikan, adalah hari pertama masuk sekolah. Keluarga SMP Muhammadiyah 4 Yogyakarta, bersama dengan instansi lainnya melaksanakan kewajiban sesuai dengan tugas masing-masing.

Hari ini, sesuai dengan suasana pagi, matahari demikian bersahaban dengan makhluk di bumi. Menyapa senyum dengan memancarkan sinarnya, seakan mengantarkan semua makhluk untuk bangun dan melaksanakan tugas sebagai makhluk Allah. Meskipun kemarin sore hingga malam hari, Yogyakarta dan sekitarnya dengan ramah menyambut turunnya hujan.

Pagi ini demikian gembira. Dua minggu lebih, warga kami (SMP Muhammadiyah 4 Yogyakarta) tidak bertemu, tidak saling sapa sebagaimana biasanya. Awal hari ini merupakan keberkahan. Rahmad dan hidayah Allah benar-benar kami rasakan. Bertemu dengan kolega dalam keadaan sehat.

Semoga Allah menerima ibadah kita.

Untuk Anak Kita Kelak

Untuk Anak Kita Kelak

Untuk anak kita kelak

Setelah Ujian Nasional (UN) tertunaikan, langkah berikut menggapai pendidikan yang lebih tinggi. Belajar tak pernah mengenal titik. Selalu tanda koma setelah huruf terakhir. Kata berantai menjadi kalimat. Kalimat berkelindan menjelma jadi sebuah paragraf. Lembaran selalu tersedia, andai mau membuka.Ilmu tak kan mungkin habis diserap. Pena tak kan mungkin kering untuk menorahkan satu-dua huruf dan angka.

Bulan Maret hingga Mei, adalah bulan perjuangan. Minggu demi minggu yang menyesakkan. Di bulan-bulan tersebut kata evaluasi menjadi senjata bagi setiap yang menggunakan. Berpuluh-puluh catatan harus dibongkar lagi demi mendapatkan ingatan.

Saat ini tak ada bedanya dengan dengan waktu tahun lalu, maupun masa depan. Bahkan ada sekolah yang rela untuk mendatangi rumah siswa sejak bulan Januari. Ujian menjadi kata yang sakral bagi seorang siswa yang mampu menatap masa depannya sendiri. Ujian ibarat batu terakhir untuk meloncat ke arena yang baru.

Bulan Juli segera akan bergulir.  Orangtua was-was untuk menyekolahkan anaknya di lembaga pendidikan. Apapun sistemnya, bekal untuk meraup pendidikan pasti diperlukan dana yang tidak sedikit. Apapun lembaga pendidikannya, biaya tidak hanya diperlukan saat masuk sekolah. Ongkos pendidikan selalu berjalan. Tak pernah berhenti.

Kantong yang tak begitu tebal, akan dirogoh sedalam-dalamnya. Padahal untuk memenuhi kehidupan sehari-hari saja terlalu pas untuk dipenuhi, atau bahkan terlalu panjang menjangkau dari cita-cita.

Satu hal yang pasti, memang memenuhi kebutuhan masuk pendidikan (baik masuk sebagai murid baru atau masuk setelah kenaikan kelas) dirasa berat. Kebutuhan lain harus rela disingkirkan terlebih dahulu, memberi kesempatan pada gerbong pendidikan untuk melaju.

Tidak bisa dipungkiri bahwa mengenyam pendidikan membutuhkan biaya. Sekalipun sekarang ada sekolah gratis, namun dari sisi merengkuh ilmu sangat dibutuhkan biaya.

Bagi orangtua yang telah melek terhadap pendidikan, sudah jauh hari mempersiapkan diri untuk menyongsong pendidikan bagi anak-anaknya. Mempersiapkan segala sesuatu untuk sekedar merasakan manis dan pahitnya pendidikan. Banyak orangtua telah menabung atau membayar asuransi pendidikan, agar kelak saatnya untuk menunaikan mendidik anak lewat lembaga pendidikan.

Semakin banyak orang tua yang telah siap dengan asuransi pendidikan. Karena pendidikan adalah investasi terbaik untuk masa depan. Dua kata kunci yang senantiasa menaungi asuransi, yaitu: melindungi dan menjamin. Melindungi dapat bermakna melindungi diri sendiri, apabila orang tua kelak sudah tidak mampu membiayai kebutuhan pendidikan. Menjamin dapat ditafsirkan, bahwa uang pendidikan pasti ada untuk hari esok.

Syawalan Keluarga

Syawalan Keluarga

Sungguh di luar dugaan. Tidak seperti tradisi yang pernah dilaksanakan. Tahun ini tampaknya masih bersamaan dengan syawalan keluarga masing-masing Bapak dan Ibu guru. Terbukti banyak yang tidak hadir pada acara tersebut.

Semangat Idul fitri 1446 H masih begitu kental meski hari telah menjauh dari 1 syawal.  Keluarga besar SMP Muhammadiyah 4 Yogyakarta melaksanakan acara Syawalan yang penuh makna dengan tema “Mengasah kepekaan diri agar menjadi Muslim yang lebih baik dan meraih kemenangan”. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Ahad, 6 April 2025.

Acara Syawalan ini dihadiri oleh seluruh keluarga besar SMP Muhammadiyah 4 Yogyakarta. Tamu undangan yang dapat hadir antara lain dari Persyarikatan Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah dari Pimpinan Daerah sampai Ranting, Instansi Kemantren Pakualaman, Komite dan undangan masyarakat seputar.

Tausiah diisi langsung oleh H. Edi Sukoco, S. Kes. Dari PDM Kota Yogyakarta. Sebelum acara tausiah, terlebih dahulu dilaksanakan pengukuhan Komite Sekolah periode 2025 – 2027, yang dikomandani oleh Bapak Agus. Acara pengukuhan dipandu oleh Majelis Dikdasmen dan PNF PDM Kota Yogyakarta yang dipimpin oleh DR. Ishafit.

Momen yang harus selalu hadir adalah ikrar Syawalan, di mana seluruh peserta bersama-sama mengucapkan ikrar permohonan maaf dan komitmen untuk saling menghargai, memaafkan, serta menjaga kebersamaan di lingkungan sekolah. Ikrar ini menjadi simbol penyatuan hati dan semangat baru dalam menjalani hari-hari ke depan dengan lebih positif dan harmonis.

Wayang Orang sebagai Penuntun Karakter

Wayang Orang sebagai Penuntun Karakter

Wayang sudah lama dikenal oleh masyarakat Indonesia, terutama di Jawa, Sunda dan Bali. Di daerah pedesaan, terutama di Jawa Tengah dan Jawa Timur, masyarakat sudah mengenal wayang, bahkan sejak kecil. Begitu pula di wilayah pasundan, yang terkenal dengan wayang golek. Lebih-lebih di Bali. Tontonan wayang merupakan bagian dari upacara keagamaan, sehingga sejak dini anak-anak telah mengenal dan menghapal isi cerita wayang.

Hampir seluruh lakon yang dibawakan dalam wayang berasal dari kitab Mahabharata dan Ramayana, yang aslinya berasal dari India, namun telah diserap menjadi buadayanya sendiri. Memang ada beberapa wayang seperti wayang klitik, wayang tengul, wayang timplong, wayang jemblung, wayang suket yang isi ceritanya berdasarkan Serat Panji dan Babad Tanah Jawi.

Pagelarang wayang, banyak dijumpai pada masyarakat yang menyelenggarakan hajatan. Mislanya perkawinan, khitanan, ruwatan, peringatan hari ulang tahun suatu daerah, syukuran panen dan lain-lain.

Di dalam cerita-cerita wayang banyak menyangkut masalah budi pekerti yang sangat bermanfaat bagi penonton. Pertunjukan wayang banyak sekali yang dapat digunakan untuk pendidikan, yaitu memberi pengaruh kepada orang yang melihat. Tentu sajapengaruh ini dapat juga disalahgunakan, sehingga pengaruh ini dapat menjerumuskan kepada hal-hal yang tidak baik.

Dalam cerita wayang, pekerti yang jahat akan kalah dengan kebaikan. Dalam cerita Bharatayuda, yaitu perang saudara antara Kurawa dan Pandawa. Kurawa, biarpun berjumlah seratus orang kalah dengan Pandawa yang berjumlah lima. Hal ini disebabkan oleh kejahatan para Kurawa yang tidak direstui oleh para dewa, sehingga para dewa mengutus dewa wisnu untuk turun ke duania dan menitis menjadi Prabu Kresna yang merupakan penasehat dari Pandawa.

Dari pertujukan wayang dapat disimpulkan bahwa anak-anak sejak kecil dapat diberikan pelajaran budi pekerti melalui media tradisional seperti wayang maupun dongeng-dongeng yang disampaikan sendiri oleh orang tuanya.