Mengemas Pendidikan di Masa Depan

Mengemas Pendidikan di Masa Depan

Detik.com dalam salah satu halamannya menulis tentang Pendidikan di masa depan. Petikannya memaparkan bahwa pendidikan sangat kurang porsinya dalam mengakomodasi keragaman pengetahuan. Penyampaian pengetahuan di kelas, masih memberlakukan bahwa setiap anak memiliki keinginan yang sama.

Bahkan dalam tensi yang paling buruk, pendidikan di persekolahan (pendidikan formal) cenderung mendegradasi pengetahuan anak-anak tentang lingkungan alam dan sosial budayanya. Porsi tentang keragaman budaya yang ada dalam masyarakat sedikit terpinggirkan.

Dalam realitanya sekarang memang terjadi revolusi informasi. Setiap anak, pada saat yang bersamaan mendapatkan informasi yang sama. Baik yang tinggal diperkotaan maupun di pedesaan. Penyebabnya tak lain adalah kegandrungan anak-anak pada kehidupan yang berbau modern dengan kendaraannya, yaitu Teknologi Informasi.

Mereka larut dalam siatuasi yang dikatakan modern, meskipun tidak mengetahui secara persis muatan dan dampak dari teknologi tersebut. Apakah pemanfaatan teknologi sudah dibarengi dengan filter budaya yang kita miliki. Apakah nilai teknologi juga dapat mengangkat derajat kemanusiaan.

Harus diakui bahwa dengan teknologi, hampir semua pekerjaan menjadi lebih efektif dan efisien. Teknologi telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari pola kehidupan bermasyarakat. Dibeberapa sektor pekerjaan telah mempercepat tujuan. Secara kuantitatif hasil pekerjaan menjadi berlipat ganda.

Perkembangan Teknologi Informasi menambah deretan agenda yang harus dikelola agar Pendidikan lebih humanis. Sisi kemanusiaannya harus seimbang dengan derap teknologi. Sekarang ini kita sudah memasuki apa yang disebut dengan revolusi industri ke-4. Ada sekitar 35% pekerjaan yang akan hilang pada tahun 2025. Maka tidak salah orang menyebut era disrupsi. Lebih dahsyat dari revolusi.

Pada tahun 2030 dibutuhkan paling sedikit 58 juta tenaga cakap. Mereka ini yang akan menjadi garda terdepan untuk menentukan hitam dan putihnya pola kehidupan saat itu. Mereka ini berasal dari sebuah ruang yang dapat membaca dan menerapkan arti standarisasi kompetensi. Tidak bisa dibayangkan andai kehidupan di masa depan hanya memiliki bekal pengetahuan ketrampilan seadanya.

Dalam situasi demikian, benturan peradaban hampir pasti akan terjadi. Globalisasi akan menimbulkan masalah pergerakan manusia. Orang berkarya tidak harus di daerahnya sendiri. Mereka akan mencari peluang yang terbaik untuk menghasilkan kehidupan yang lebih baik.  Akan muncul paling sedikit 14,2 juta tenaga kerja cakap bermigrasi antar negara Asean.

Para futurology menamakan mereka dengan generasi milenial atau gen-Z. Mereka ini lahir saat Teknologi Informasi sedang berkembang pesat. Sangat cepat beradaptasi dengan teknologi. Saat ini mereka sudah mulai menempati pos-pos terpenting dalam pengambilan kebijakan publik.

Tampaknya memang teknologi memegang peranan penting untuk menatap Pendidikan di masa depan. Namun bila mengandalkan teknologinya saja, maka yang terjadi stagnan pada hal-hal yang bersifat statis. Perlu ada sentuhan kreatif pendidik dalam mengelola Pendidikan. Kreafitas membutuhkan daya imajinasi dan ketrampilan.

Syukur Tiada Akhir

Syukur Tiada Akhir

Judul di atas meminjam bukunya Jacob Oetama, seorang yang dianggap lokomotif harian Kompas. Beliau bertutur perjalanan Kompas mulai dari kelas stensilan sampai menjadi sebuah perusahaan yang menggurita. Sebuah industri yang melahirkan beberapa perseroan.

Syukur memang paling tepat disematkan pada siapa saja yang mengerti akan kenikmatan hidup atas karunia Tuhan. Berlimpah-limpah kepuasan diguyurkan kepada setiap makhluk, disetiap saat dan dimanapun berada. Maka tidak salah bila SMP Muhammadiyah 4 Yogyakarta mengambil tema “Tasyakur dalam Berkarya” dalam memperingati hari ulang tahunnya yang ke-69. 1 Agustus 2024.

Bagi kami 1 Agustus adalah hari yang harus disyukuri. Momentum untuk evaluasi diri dan menatap kedepan dengan penuh antusias.

Kebetulan kami dilahirkan sepuluh tahun setelah Indonesia merdeka. Kami pun mengerti rasa syukur atas limpahan Rahmat Tuhan yang Maha Esa, dalam mengisi lorong-lorong kehidupan bernegara. Izinkan kami mengucapkan ‘alhamdulillah”. Kami akan terus bergerak mendedikasikan diri dalam ranah pendidikan untuk membangun akhlakul karimah dan mencerdaskan anak bangsa.

Memasuki bulan Agustus, bulan yang sakral bagi Bangsa Indonesia tentu tidak dilewatkan begitu saja. Rasa kebangsaan yang hendak kami ukir lewat kegiatan-kegiatan untuk mempertebal rasa heroik kami. Meskipun rutin, tapi warga sekolah sangat antusias dengan berbagai aktivitas.

Sekitar tiga puluh tahun lagi akan mencapai puncaknya satu abad. Semoga kita dapat menikmatinya. Satu hal yang pasti, setiap memperingati HUT RI, adalah mengenang perjuangan para pahlawan. Mereka bukan saja patriotic pantang menyerah dalam adu akal dan okol dengan bangsa londo. Seorang ustadz kondang KH Zainuddin MZ, mengibaratkan bahwa berdirinya republik ini dari berpondasi nyawa dan bertiangkan darah.

Hingga kini, nyawa kami masih menggebu bila menatap Sang Saka Merah Putih. Kami semakin mantab berselimutkan bendera dengan syahadat. Matahari yang berkilau akan memancarkan jalan yang lurus. Kami masih tetap bergetar untuk membangun peradaban, menuju terbentuknya manusia muslim yang sebenar-benarnya.