Semar

Semar

Dia adalah seorang yang kontroversial. Dia bukan seorang (layaknya) pejabat. Bukan seorang penasehat, tetapi sering dimintai nasehat. Dianggap lemah, namun pada saat kritis akan muncul sebagai penyelamat. Padahal dia adalah seorang rakyat biasa. Hidup di desa bersama dengan masyarakat golongan bawah. Dia memposisikan diri sebagai hamba atau pelayan.

Dalam setiap alur cerita, dia bukanlah sebagai tokoh utama yang tampil dominan penuh pesona. Tak ada kaitan langsung dengan lakon. Meskipun demikian kehadirannya mempunyai daya pesona tersendiri sebagai penghibur di kala sendu, pengundang tawa. Selalu disambut dengan antusias dengan frame goro-goro.

Sungguhpun demikian, dia adalah penjelmaan dewa yang bertugas memberi motivasi kepada para satria Pandawa. Lima sekawan pengawal perdamaian, penekuk sifat durjana, memberi kemakmuran dan kesejahteraan. 

Siapakah sebenarnya Semar?

Ditinjau dari alur sejarah, Semar dan anak-anaknya hidup dan mengabdi sejak generasi Sakutrem, Sakri, Manumayasa, Palasara hingga Abiyasa dan Arjuna, tanpa mengalami pergantian generasi sebagai abdi dalem. Enam generasi, telah dilalui dengan penuh dedikasi.

Andai tercatat dalam dokumen, maka telah tertulis berlembar-lembar tentang perjuangan, kebangkitan, kemegahan sekaligus keruntuhan. Berbagai negeri telah dilewati, mengenal karakter penghuninya, peristiwa demi peristiwa telah dilakoninya. Karenanya, Semar dan anak-anaknya mendapat julukan “Panakawan”. Pana artinya mengetahui, memahami, memaklumi, namun bukan sekedar itu. Kawan artinya teman, namun bukan hanya sekedar kawan.

Nama Semar konon berasal dari bahasa Arab, Ismar yang dalam pengucapan dialek Jawa menjadi Semar. Ismar berarti paku yang fungsinya sebagai penguat. Semar juga dijuluki Badranaya. Badra berarti rembulan, naya artinya wajah atau nayantaka, sedangkan taka berarti pucat. Hal ini menunjukkan Semar memiliki watak seperti rembulan dengan wajah pucat. Artinya, Semar tidak mengumbar hawa nafsu.

Dipihak lain, ada pula yang menafsirkan bila Semar adalah tokoh misterius. Antara ada dan tiada. Dalam pengertian abstrak, Semar digambarkan wujud yang tidak berbangun. Tidak mirip laki-laki maupun perempuan. Tidak jelas atau samar-samar.

Secara harfiah, arti samar-samar sebenarnya juga mengandung ajaran bahwa tidak ada pihak kelompok yang mutlak benar. Demikian pula tidak ada komunitas yang selalu salah. Oleh karenanya, dalam setiap pertunjukan pewayangan, nasehat-nasehat Semar kepada Pandawa, tidak seluruhnya ditaati. Bahkan sering kita lihat, petunjuk Semar terkadang tidak diikuti.

Sumber bacaan: “Hikmah Abadi” karya Barnas Sumantri dan Dr. Kanti Walujo

Gladi Tangguh Tahun 2025

Gladi Tangguh Tahun 2025

Senin – Rabu, 5 – 7 Mei 2025, Qabilah Hizbul Wathan KH Mas Mansur SMP Muhammadiyah 4 Yogyakarta menyelenggarakan gladi tangguh di Bumi Perkemahan Lor Sambi, Pakem Sleman.
Kegiatan ini bersifat rutin yang diikuti oleh semua siswa kelas 7 dan kelas 8.
Ahmad Affandi yang mewakili kwarda Hizbul Watan PDM Kota Yogyakarta, dalam sambutannya mendorong agar anggota peserta gladi tangguh menjadi kuat. Kuat iman, kuatilmu dan kuat ketrampilan. Disamping itu, beliau juga mengharapkan agar peserta mebjadi insan yang disiplin. Baik disiplin waktu, belajar, dan bermasyarakat.

Gladi Tangguh Hizbul Wathan (HW)adalah kegiatan khas gerakan kepanduan yang bertujuan membentuk fisik, mental, dan karakter pada kader HW. Gladi juga sebagai pengembangan sosial kemasyarakatan dan ilmu kepanduan.
Tujuan dan Manfaat Galdi Tangguh 
Pembentukan Karakter: bertujuan untuk membentuk karakter kader Hizbul Wathan yang tangguh, militan, dan memiliki jiwa kepemimpinan. 
Pengembangan Fisik dan Mental: Kegiatan ini melibatkan latihan fisik dan mental yang dapat meningkatkan ketahanan dan kekuatan mental kader Hizbul Wathan. 
Peningkatan Keterampilan. Meningkatkan keterampila. Sosial bermasyarakat dan ilmu kepanduan
Kader. Sebagai sarana untuk memunculkan bibit-bibit HW khususnya dan Muhammadiyah umumnya.
Direncanakan, aktivitas yang akan mereka jalani antara lain : bangun desa, pionering, lomba memasak, out bond, pentas seni + api unggun, olah raga (senam), bongkat desa. Harapannya, setelah mengikuti gladi tangguh, peserta dapat menerapkan di rumah dalam lehiduppan sehari-hari.