
Fokal Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta menggelar dialog kebangsaan “Sosialisasi 4 Pilar MPR RI. Peran Kebangsaan Muhammadiyah” pada hari Ahad, 28 Juni 2026 di Hotel Burza Yogyakarta. Fokal IMM merupakan Forum Keluarga Alumni Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah.
Hadir dalam acara tersebut, Prof. Dr. H. Irwan Akib, M.Pd yang mewakili PP Muhammadiyah. Dr. H. Abidin Fikri, SH, MH dari unsur Wakil Ketua Badan Sosialisasi MPR RI. Dr. Yusuf Warsyim, S.Ag, MH, Sekjen Fokal IMM dan Dr. Ikhwan Ahada, MA, Ketua PWM DIY.
Dalam sambutannya, Ikhwan Ahada mengharapkan agar Fokal mesti menyerap esensi dari semboyan dan cita-cita yang melekat. Yaitu Anggun dalam moral, unggul dalam intelektual. Alumni yang kini berdiaspora di berbagai sektor strategis hingga kemanusiaan global.
Irwan Akib merasa bangga dengan kesuksesan kader IMM di pelbagai daerah, yang kini menempati berbagai kursi strategis, seperti komisioner KPU, Bawaslu, Kompolnas, hingga jajaran kementerian. Bagi Irwan, yang terberat adalah ujian moral, bukan pada teknis pekerjaan. Dari hulu dari segala bentuk penyalahgunaan kekuasaan (abuse of power) adalah ketidakmampuan seorang pejabat dalam membatasi konflik kepentingan (conflict of interest). Kepada seluruh kader, singkirkan kepentingan pribadi atau golongan. Selalu utamakan kepentingan umum dan bangsa di atas segalanya.
Sementara, Wakil Ketua Badan Sosialisasi MPR RI Abidin Fikri menekankan bahwa Pancasila dan UUD 1945 tidak boleh hanya dilihat sebatas idealitas atau rule of law (aturan hukum) semata. Pancasila harus membumi menjadi rule of ethics (sumber etika) dan diwujudkan menjadi realitas dalam tata kelola negara.
Bangunan moralitas dan profesionalisme dalam penyelenggaraan negara harus terus ditegakkan dan dirawat, terutama oleh para kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Tantangan terbesar bagi kader-kader yang berdiaspora di ranah publik bukanlah sekadar bagaimana mendapatkan kekuasaan, melainkan bagaimana mempertanggungjawabkannya.
Abidin memandang, IMM sebagai organisasi otonom yang berkemajuan dan pro-aktif dalam mengurus ihwal kebangsaan dan keindonesiaan.
IMM itu adalah kader bangsa. Kader bangsa itu posisinya di mana saja boleh, baik di parlemen, birokrasi, komisi-komisi negara, hingga akademisi. Sehingga, kader IMM jangan sampai jengah untuk berdiaspora lebih membuana. Lebih-lebih berkecimpung di dunia perpolitikan. “Kalau Anda mampu, tunjukkan kapasitas Anda,” tegas Abidin.
Acara dilanjutkan dengan pemilihan pengurus fokal untuk masa bakti 2026 – 2031. Dari 130 calon, terpilih Deni Asy’ari, Direktur Utama PT Syarikat Cahaya Media / Suara Muhammadiyah terpilih sebagai ketua. Sementara Sobar M. Johari sebagai sekretaris dan bendahara dipegang oleh Yulianto Neri.




