{"id":1217,"date":"2026-06-04T16:04:51","date_gmt":"2026-06-04T16:04:51","guid":{"rendered":"https:\/\/news.mupatjunior.id\/?p=1217"},"modified":"2026-06-04T16:04:51","modified_gmt":"2026-06-04T16:04:51","slug":"di-tengah-banjir-informasi-anak-anak-kehilangan-kedalaman","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/news.mupatjunior.id\/index.php\/2026\/06\/04\/di-tengah-banjir-informasi-anak-anak-kehilangan-kedalaman\/","title":{"rendered":"Di Tengah Banjir Informasi, Anak-Anak Kehilangan Kedalaman"},"content":{"rendered":"\n<figure class=\"wp-block-image aligncenter size-full is-resized\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"611\" height=\"409\" src=\"https:\/\/news.mupatjunior.id\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/ri-14.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-931\" style=\"width:477px;height:auto\" srcset=\"https:\/\/news.mupatjunior.id\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/ri-14.jpg 611w, https:\/\/news.mupatjunior.id\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/ri-14-598x400.jpg 598w\" sizes=\"auto, (max-width: 611px) 100vw, 611px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center wp-block-paragraph\">&#8212; Arif Jamali Muis &#8212;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Melanjutkan tulisan pertama berjudul \u201cKita Tidak Kekurangan Informasi, Tapi Kehilangan Makna,\u201d saya ingin kembali membaca kegelisahan Yuval Noah Harari dalam Nexus: A Brief History of Information Networks from the Stone Age to AI melalui realitas pendidikan kita hari ini. Jika pada tulisan sebelumnya saya membahas banjir informasi dan krisis makna di ruang-ruang belajar, maka pada tulisan kedua ini saya ingin mengajak kita melihat persoalan lain yang tidak kalah penting: di tengah arus informasi yang bergerak semakin cepat, anak-anak kita perlahan kehilangan kedalaman dalam belajar. Hari ini, dunia bergerak dengan ritme yang belum pernah dialami generasi-generasi sebelumnya. Informasi datang bertubi-tubi tanpa jeda. Dalam hitungan menit, seseorang bisa melihat ratusan video, membaca puluhan komentar, berpindah dari satu topik ke topik lain, lalu melupakan semuanya beberapa saat kemudian. Kita hidup dalam budaya yang terus mendorong manusia untuk bergerak cepat, bereaksi cepat, dan berpikir cepat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Anak-anak kita tumbuh di tengah situasi itu. Mereka lahir ketika internet sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Mereka terbiasa dengan layar yang terus menyala, notifikasi yang tak pernah berhenti, dan algoritma yang selalu tahu apa yang ingin mereka lihat berikutnya. Dunia digital membentuk cara mereka menerima informasi, cara mereka memberi perhatian, bahkan perlahan membentuk cara mereka belajar. Di satu sisi, ini tentu membawa banyak peluang. Pengetahuan menjadi lebih mudah diakses. Belajar tidak lagi terbatas ruang kelas. Anak-anak bisa mengetahui banyak hal yang dulu sulit dijangkau. Tetapi di balik kemudahan itu, ada sesuatu yang perlahan hilang: kemampuan untuk tinggal lebih lama dalam satu pemikiran.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Yuval Noah Harari dalam Nexus menjelaskan bahwa manusia modern hidup dalam jaringan informasi yang sangat kompleks. Persoalannya hari ini bukan lagi kekurangan informasi, melainkan ketidakmampuan manusia mengolah limpahan informasi itu menjadi pemahaman yang bermakna. Informasi bergerak jauh lebih cepat daripada kemampuan manusia untuk merenunginya. Dan mungkin, itulah yang sedang terjadi di ruang-ruang kelas kita. Kita mulai melihat anak-anak yang mampu menemukan jawaban dengan sangat cepat, tetapi sulit menjelaskan alasan di balik jawabannya. Mereka terbiasa membaca singkat, tetapi kesulitan bertahan membaca panjang. Mereka cepat mengetahui sesuatu, tetapi tidak cukup lama memikirkan sesuatu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Budaya scrolling perlahan membentuk budaya belajar. Anak-anak terbiasa berpindah sebelum sempat mendalami. Mereka melihat banyak hal, tetapi tidak benar-benar menyelami apa pun. Perhatian mereka mudah terpecah. Konsentrasi menjadi pendek. Bahkan membaca satu halaman penuh tanpa terdistraksi mulai menjadi tantangan tersendiri. Ironisnya, sekolah kadang tanpa sadar ikut memperkuat situasi ini. Pembelajaran masih sering terjebak pada target penyelesaian materi, bukan kedalaman pemahaman. Siswa didorong cepat menyelesaikan tugas, cepat menjawab soal, cepat memperoleh nilai. Kecepatan menjadi ukuran keberhasilan, sementara proses berpikir perlahan mulai kehilangan tempat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Padahal, belajar sejatinya tidak pernah lahir dari ketergesaan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pemahaman membutuhkan waktu. Ia tumbuh melalui perhatian, pengulangan, dialog, pengalaman, dan refleksi. Seseorang tidak benar-benar memahami hanya karena ia pernah membaca. Pemahaman lahir ketika pengetahuan diolah, dipertanyakan, dikaitkan dengan kehidupan, lalu dimaknai secara personal. Di sinilah saya melihat mengapa Pembelajaran Mendalam menjadi sangat relevan bagi pendidikan kita hari ini.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam Naskah Akademik Pembelajaran Mendalam, ditegaskan bahwa salah satu tantangan pendidikan Indonesia adalah masih dominannya pembelajaran dangkal: pembelajaran yang terlalu bertumpu pada hafalan, ceramah satu arah, dan belum cukup menumbuhkan kemampuan berpikir kritis peserta didik. Bahkan muncul fenomena yang sangat mengusik: bersekolah tetapi tidak belajar. Kalimat itu sesungguhnya menggambarkan krisis yang sedang kita hadapi. Anak hadir di sekolah, mengikuti pelajaran, mengerjakan tugas, bahkan memperoleh nilai baik. Namun proses memahami secara mendalam belum tentu benar-benar terjadi. Pengetahuan sering berhenti di permukaan. Belajar menjadi aktivitas administratif, bukan perjalanan intelektual dan reflektif.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Karena itu, Pembelajaran Mendalam hadir bukan sekadar sebagai perubahan metode pembelajaran. Ia sesungguhnya merupakan respons terhadap perubahan zaman. Pembelajaran Mendalam mengajak peserta didik belajar secara berkesadaran (mindful), bermakna (meaningful), dan menggembirakan (joyful). Peserta didik tidak hanya diminta mengetahui sesuatu, tetapi memahami, mengaplikasikan, dan merefleksikannya dalam kehidupan nyata.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pendekatan ini penting karena dunia digital hari ini cenderung mendorong manusia hidup di permukaan. Semua serba cepat, serba singkat, serba instan. Sementara Pembelajaran Mendalam justru mengajak anak berhenti sejenak, memberi perhatian penuh, lalu menyelami pengetahuan secara lebih utuh.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam konteks ini, guru menjadi semakin penting. Di era ketika informasi tersedia di mana-mana, peran guru bukan lagi sekadar penyampai materi. Teknologi bahkan dapat melakukannya lebih cepat. Tetapi teknologi tidak dapat menggantikan kemampuan guru dalam membangun kedalaman manusia. Guru membantu anak belajar berpikir tenang di tengah dunia yang gaduh. Membantu mereka membaca lebih sabar di tengah budaya serba singkat. Membantu mereka bertanya lebih dalam di tengah banjir jawaban instan. Guru bukan sekadar penghubung informasi. Guru adalah penjaga kedalaman. Dan mungkin, itulah tantangan terbesar pendidikan masa depan: bukan bagaimana membuat anak memperoleh lebih banyak informasi, tetapi bagaimana menjaga mereka tetap mampu berpikir mendalam di tengah dunia yang bergerak terlalu cepat. Karena pada akhirnya, masa depan tidak akan dimenangkan oleh mereka yang paling cepat menemukan jawaban, melainkan oleh mereka yang mampu memahami dunia secara lebih dalam, lebih tenang, dan lebih manusiawi<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>&#8212; Arif Jamali Muis &#8212; Melanjutkan tulisan pertama berjudul \u201cKita Tidak Kekurangan Informasi, Tapi Kehilangan Makna,\u201d saya ingin kembali membaca [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1218,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_uag_custom_page_level_css":"","site-sidebar-layout":"default","site-content-layout":"","ast-site-content-layout":"","site-content-style":"default","site-sidebar-style":"default","ast-global-header-display":"","ast-banner-title-visibility":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"","ast-breadcrumbs-content":"","ast-featured-img":"","footer-sml-layout":"","theme-transparent-header-meta":"","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":"","astra-migrate-meta-layouts":"default","ast-page-background-enabled":"default","ast-page-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"ast-content-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"footnotes":""},"categories":[25],"tags":[145,29,238],"class_list":["post-1217","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pendidikan","tag-deep-learning","tag-informasi","tag-yuval"],"uagb_featured_image_src":{"full":["https:\/\/news.mupatjunior.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/arif-2.jpg",401,594,false],"thumbnail":["https:\/\/news.mupatjunior.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/arif-2-150x150.jpg",150,150,true],"medium":["https:\/\/news.mupatjunior.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/arif-2-270x400.jpg",270,400,true],"medium_large":["https:\/\/news.mupatjunior.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/arif-2.jpg",401,594,false],"large":["https:\/\/news.mupatjunior.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/arif-2.jpg",401,594,false],"1536x1536":["https:\/\/news.mupatjunior.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/arif-2.jpg",401,594,false],"2048x2048":["https:\/\/news.mupatjunior.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/arif-2.jpg",401,594,false]},"uagb_author_info":{"display_name":"admin","author_link":"https:\/\/news.mupatjunior.id\/index.php\/author\/admin\/"},"uagb_comment_info":0,"uagb_excerpt":"&#8212; Arif Jamali Muis &#8212; Melanjutkan tulisan pertama berjudul \u201cKita Tidak Kekurangan Informasi, Tapi Kehilangan Makna,\u201d saya ingin kembali membaca [&hellip;]","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/news.mupatjunior.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1217","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/news.mupatjunior.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/news.mupatjunior.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/news.mupatjunior.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/news.mupatjunior.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1217"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/news.mupatjunior.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1217\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1219,"href":"https:\/\/news.mupatjunior.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1217\/revisions\/1219"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/news.mupatjunior.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1218"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/news.mupatjunior.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1217"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/news.mupatjunior.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1217"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/news.mupatjunior.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1217"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}